Ntvnews.id, Jakarta - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menilai pengembangan energi fosil dan energi baru terbarukan (EBT) perlu dilakukan secara beriringan agar mampu saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dalam acara Leaders Briefing 2026 di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026, Hashim mengatakan bahwa Indonesia masih membutuhkan energi konvensional maupun EBT sehingga pengembangannya tidak dapat hanya berfokus pada salah satu sektor.
"Saya kira dua-duanya (energi konvensional dan pengembangan EBT) masih sangat diperlukan, kita tidak bisa terlalu complacent, terlalu puas dengan apa yang terjadi, kita harus (mengupayakan) dua-duanya," kata Hashim.
Ia menjelaskan energi konvensional yang berasal dari batu bara memang mulai memasuki masa penurunan atau sunset. Meski demikian, menurutnya sumber energi fosil masih akan berperan penting dan diperkirakan tetap dapat dimanfaatkan selama 20 hingga 30 tahun mendatang.
Baca juga: Hashim Dorong Pemerintah Manfaatkan Momentum Investasi Karbon Global
"Tetap eksplorasi, karena energi dari fossil fuels itu saya kira masih lama (bertahan). Itu sunset, tapi mungkin 20-30 tahun lagi," ujarnya.
Hashim menilai eksplorasi energi fosil tetap diperlukan untuk menjaga ketahanan energi nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik yang membuat pasokan energi global semakin rentan.
"Kita sudah melihat akibat perang antara Israel, Amerika, dan Iran, bagaimana sangat rentan supply chain yang saya kira (terjadi) di dunia," kata dia.
Di sisi lain, pemerintah terus mempercepat pengembangan EBT melalui berbagai sumber energi alternatif, seperti tenaga surya dan panas bumi yang memiliki potensi besar di Indonesia.
Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target kapasitas mencapai 17,1 gigawatt (GW).
Baca juga: Hashim Djojohadikusumo Nilai Penambahan Polhut Perkuat Perlindungan Hutan Indonesia
Program tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW.
Pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW itu menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung target penyediaan 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun mendatang.
"Saya kira untuk energi baru, sudah keputusan pemerintah untuk lebih tambah lagi PLTS dan lain-lain. Tapi, kita juga harus eksplorasi dan produksi," ujar Hashim pula.
(Sumber: Antara)
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo dalam acara Leaders Briefing 2026, di Jakarta (Antara)