Danantara Dorong Hilirisasi Mineral untuk Tingkatkan Daya Saing Industri Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Jul 2026, 20:30
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026 Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang digelar di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengajak para pelaku usaha untuk bersama-sama memperkuat industri pengolahan mineral sebagai langkah strategis agar Indonesia mampu menguasai rantai pasok global.

Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026, Rosan menegaskan Indonesia sudah saatnya membangun kedaulatan ekonomi melalui pengembangan industri pengolahan mineral yang lebih maju.

Ia menilai selama ini nilai tambah dari kekayaan mineral Indonesia justru lebih banyak dinikmati negara lain karena pengolahan di dalam negeri umumnya masih terbatas pada tahap ekstraksi.

"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan dan energi bersih," ujar Rosan dalam keterangannya.

Baca Juga: Danantara Siapkan Bali Jadi Pusat Keuangan Global, Tiru Dubai

"Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat," lanjutnya.

Dalam kegiatan Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman terkait pengembangan material maju (critical minerals downstreaming) oleh PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Pindad (Persero).

Kesepahaman tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan rantai pasok serta offtake mineral kritis dan material maju guna memenuhi kebutuhan berbagai industri strategis nasional.

Pengembangan industri itu tidak hanya difokuskan pada ekosistem kendaraan listrik, tetapi juga menyasar sektor dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan, hingga ketenagalistrikan.

Baca Juga: Kemenbud dan Danantara Jalin Kerja Sama Perkuat Ekosistem Pemajuan Kebudayaan

Sementara itu, Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa mengatakan pengembangan industri middle stream material harus menjadi bagian penting dalam transformasi industri nasional menuju ekonomi berbasis teknologi, manufaktur bernilai tambah tinggi, serta penguasaan rantai pasok masa depan.

Menurut Sigit, Indonesia perlu memanfaatkan peluang meningkatnya permintaan regional dengan membangun kapabilitas teknologi dan memperkuat daya saing di pasar global agar mampu menciptakan skala ekonomi yang berkelanjutan.

"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan," jelas Sigit.

Ia menambahkan, pengembangan industri material maju harus dilakukan secara terpadu sebagai fondasi untuk meningkatkan daya saing industri nasional.

"Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi dan kompetitif secara global," tutur Sigit.

(Sumber: Antara)

x|close