Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026.
Hal ini sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama berasal dari komoditas migas.
"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar atau minus USD1,61 miliar," ucap Ateng dalam konferensi pers, Rabu 21 Juli 2026.
Baca juga: BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bantu Pelaku Ekraf Susun Strategi Bisnis Berbasis Data
"Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus USD3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," lanjutnya.
Kendati demikian, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar USD2,15 miliar.
Adapun surplus tersebut terutama ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.
"Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus sebesar USD2,15 miliar dengan komoditas penyumbang surplus terutama dari bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan nabati, dan juga dari besi dan baja," jelasnya.
Baca juga: BPS Libatkan UMKM dan Rumah Tangga dalam Sensus Ekonomi 2026
Ateng menegaskan, secara kumulatif Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sepanjang Januari-Mei 2026tercatat sebesar USD4,03 miliar.
"Neraca perdagangan secara kumulatif yaitu dari mulai Januari hingga bulan Mei tahun 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar USD4,03 miliar. Surplus sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026 Terutama ditopang oleh surplus pada komoditas non migas sebesar USD16,31 miliar," tandasnya.
Ilustrasi petikemas