METI dan BPSDM ESDM Dorong Penguatan SDM Lokal Demi Wujudkan Target 100 GW PLTS Nasional

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Jun 2026, 19:21
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
forum Bincang Energi bertajuk "Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD) di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026. forum Bincang Energi bertajuk "Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD) di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026. (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah terus memacu pengembangan energi baru terbarukan dengan menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) sebagai salah satu agenda prioritas nasional menuju swasembada dan kemandirian energi. Untuk mencapai target tersebut, kesiapan sumber daya manusia (SDM), khususnya di daerah, dinilai menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM) menekankan bahwa pembangunan pembangkit energi terbarukan harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas SDM agar infrastruktur yang dibangun dapat beroperasi secara berkelanjutan, terutama di desa dan wilayah terpencil.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengembangan SDM ESDM Prahoro Nurtjahyo yang diwakili Kepala Pusat Pengembangan SDM Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE), Edi Wibowo, dalam forum Bincang Energi bertajuk "Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD) di Jakarta, Selasa, 20 Juni 2026.

Dalam paparannya, Edi menilai keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan dan merawat fasilitas energi yang telah dibangun.

"Dari pengalaman di lapangan, banyak infrastruktur energi yang sudah terbangun namun tidak berjalan optimal karena tidak bisa merawatnya. Ini yang harus kita pecahkan lebih dulu. Masyarakat lokal harus dilibatkan sejak awal proyek dimulai, dilatih dan disertifikasi untuk mengoperasikan dan memelihara sistem, bukan baru dilatih setelah semuanya terpasang. Tantangan kita sekarang adalah memastikan ekosistem pelatihan dan sertifikasi bisa bergerak secepat laju pembangunannya," tegasnya.

Menurut BPSDM ESDM, keberhasilan target pembangunan PLTS 100 GW tidak hanya diukur dari besarnya kapasitas pembangkit yang terpasang. Lebih dari itu, pasokan listrik harus mampu menjangkau desa-desa dan kawasan terpencil serta memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Sejumlah proyek listrik desa selama ini diketahui belum mampu beroperasi secara maksimal, bahkan ada yang terbengkalai setelah proses instalasi selesai. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai kendala, mulai dari terbatasnya anggaran pemeliharaan jangka panjang, sulitnya memperoleh suku cadang, hingga belum optimalnya sistem pemantauan jarak jauh (remote monitoring).

forum Bincang Energi bertajuk &quot;Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan&quot; yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Dev <b>(Istimewa)</b> forum Bincang Energi bertajuk "Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Dev (Istimewa)

Pelaksana Tugas Ketua Umum METI, Norman Ginting, menyebut pencapaian target 100 GW hanya dapat diwujudkan apabila seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama membangun ekosistem energi terbarukan yang kuat.

"METI percaya target 100 GW bisa dicapai jika seluruh ekosistem bergerak bersama. Tantangan mencapai target 100 GW harus dapat kita atasi bersama. Mulai dari masalah ketersediaan lahan, keterbatasan teknis intermitensi, kesiapan infrastruktur, pembiayaan, kepastian hukum, kebijakan dan peraturan, rantai pasok industri, serta yang tak kalah penting adalah persiapan sumber daya manusia. Kapasitas sumber daya manusia adalah syarat mutlak keberhasilan 100 GW, baik kuantitas maupun kualitas," ungkap Norman Ginting.

Ia menambahkan, "Sebagai platform yang menyatukan pemerintah, industri, dan akademisi, kami mendorong kolaborasi dan aksi nyata agar kesiapan SDM lokal menjadi prioritas."

Dalam mendukung peningkatan kompetensi tenaga kerja sektor energi terbarukan, BPSDM ESDM bekerja sama dengan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) mengembangkan Renewable Energy Skills Development Project (RESD).

Program yang dimulai sejak 2020 tersebut telah melahirkan lebih dari 950 sarjana terapan dan teknisi energi terbarukan yang memiliki kompetensi di bidangnya. Memasuki fase kedua pada periode 2025–2028, cakupan program diperluas hingga melibatkan 19 politeknik dan lembaga pelatihan vokasi di berbagai wilayah Indonesia.

Team Leader RESD, Dian Elvira Rosa, mengatakan keberhasilan pemanfaatan PLTS di daerah tidak cukup hanya dengan menghadirkan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengelolanya secara mandiri.

forum Bincang Energi bertajuk &quot;Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan&quot; yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD) di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026. <b>(Istimewa)</b> forum Bincang Energi bertajuk "Menuju 100 GW: Membangun Ekosistem Listrik Desa melalui Pengembangan Kapasitas Lokal dan Pemeliharaan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) bersama Renewable Energy Skills Development Project (RESD) di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2026. (Istimewa)

"Masyarakat setempat tidak cukup hanya menerima infrastruktur PLTS; mereka harus mampu mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri," jelas Dian Elvira Rosa.

Ia melanjutkan, "Inilah tujuan kami melalui program spesialisasi energi terbarukan dan pelatihan teknisi PLTS di 19 politeknik dan balai pelatihan vokasi yang didukung oleh Pemerintah Swiss dan Indonesia melalui proyek RESD."

Forum Bincang Energi tersebut menjadi wadah diskusi lintas sektor untuk mendorong agar setiap proyek energi terbarukan di masa mendatang turut memasukkan aspek pemberdayaan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari pembangunan, sehingga keandalan sistem dapat terjaga dalam jangka panjang.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, industri, dan masyarakat sipil, yakni Kepala PPSDM KEBTKE Edi Wibowo, Vice President of Strategic Planning and Distribution Asset Management PT PLN Sugeng Hidayat, Ketua IBEKA Tri Mumpuni, Direktur Utama PT Surya Energi Indotama I Made Sandika Dwiantara, serta Team Leader RESD Dian Elvira Rosa. Hadir pula sebagai penanggap Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dadan Kusdiana, Kepala BPVP Banda Aceh Rahmad Faisal, dan Dewan Penasihat Pusat Keterampilan Energi Terbarukan (PKET) Milton Pakpahan.

Melalui forum tersebut, BPSDM ESDM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menyiapkan SDM energi terbarukan yang kompeten, adaptif, dan siap mendukung percepatan transisi energi nasional.

x|close