AGI Ungkap Peluang Besar Game Indonesia Mendunia Berkat Kekayaan Budaya Lokal

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Jun 2026, 16:26
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Arsip Foto - Pengunjung bermain gim di salah satu stan dalam pameran industri game Indonesia Game Week 2025 di Blok M Hub, Jakarta, Rabu (6/8/2025). Pameran yang diikuti lebih dari 20 IP (Intellectual Property) dari gim lokal, komik, desain karakter, konten kreatif, dan waralaba gim ternama dunia tersebut menjadi wadah untuk memamerkan teknologi dan rilis gim baru serta menjadi titik temu bagi para pengembang, komunitas, dan gamer profesional dari seluruh Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa) Arsip Foto - Pengunjung bermain gim di salah satu stan dalam pameran industri game Indonesia Game Week 2025 di Blok M Hub, Jakarta, Rabu (6/8/2025). Pameran yang diikuti lebih dari 20 IP (Intellectual Property) dari gim lokal, komik, desain karakter, konten kreatif, dan waralaba gim ternama dunia tersebut menjadi wadah untuk memamerkan teknologi dan rilis gim baru serta menjadi titik temu bagi para pengembang, komunitas, dan gamer profesional dari seluruh Indonesia. (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/rwa)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein mengatakan pengembang game dari Indonesia memiliki keuntungan yang bisa diambil dari keunikan budaya lokal yang bisa mendorong pemasaran game lokal ke tingkat global.

"Karena pasar itu luas jadi kita mencoba mencapai pasar global dan saya pikir kita memiliki keuntungan dari hal-hal yang unik yang bisa kita tunjukkan ke pasar global," kata Shafiq dalam acara diskusi panel MoU Coda dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

CEO Gambir Studio ini mengatakan penikmat game di era saat ini lebih mencari game dari pengembang indie dibandingkan game AAA (Triple-A) dengan anggaran pengembangan dan pemasaran yang tinggi.

Namun, dia mengatakan pengembang game indie masih kesulitan menemukan pasar global karena keterbatasan dana untuk promosi, jika dibandingkan dengan industri game di Barat atau Eropa yang sudah memiliki standar dan ekosistem yang memudahkan mendapatkan akses ke pasar global.

Shafiq mengatakan dibutuhkan kolaborasi dari asosiasi dan pemerintah untuk memperbanyak akses pemasaran bagi pengembang lokal untuk bisa bersaing di acara internasional dan membuat program yang mendorong akses pasar lebih terbuka.

"Kita kekurangan akses pasar global, sekarang penerbit, investor, mereka sudah memiliki standar tersendiri untuk segalanya, tapi sebagai pengembang game lokal kita masih memiliki banyak studio baru yang muncul setiap bulan dan ada gap talenta spesialisasi," tambahnya.

Dia juga mengatakan perlu ada akses pasar global dan pendanaan yang dapat mendukung keberlanjutan bisnis di industri game, serta pembuatan regulasi yang relevan seiring dengan perkembangan teknologi yang cepat untuk membuat industri game Indonesia bertahan di tengah persaingan global.

AGI juga mendukung komitmen Kementerian Ekraf untuk membuat perusahaan game yang berkelanjutan di Indonesia, dengan melatih talenta industri game serta memberikan akses agenda internasional untuk memperkenalkan talenta pengembang game asal Indonesia.

(Sumber: Antara)

x|close