Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah India masih membatasi masuknya produsen mobil asal China ke pasar domestiknya.
Namun di balik kebijakan tersebut, teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) China justru semakin kuat menembus industri otomotif India yang kini menjadi pasar mobil terbesar ketiga di dunia.
Melansir Reuters, Kamis (24/6/2026), sejak ketegangan perbatasan pada 2020, New Delhi memperketat pengawasan terhadap investasi dan ekspansi perusahaan China.
Di saat yang sama, Beijing juga mulai membatasi ekspor teknologi strategisnya. Meski demikian, hubungan bisnis di sektor otomotif kedua negara tetap berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama teknologi.
Salah satu contoh terbaru adalah kemitraan antara Tata Motors dan Chery Automobile. Pada Juni lalu, Tata Motors mengumumkan akan menggunakan platform kendaraan milik Chery untuk mengembangkan mobil listrik premium yang diproduksi di India.
Meski tidak melibatkan kepemilikan saham maupun transfer teknologi secara langsung, kerja sama tersebut menunjukkan keunggulan teknologi EV China tetap menjadi daya tarik bagi industri otomotif India.
Kedua perusahaan menegaskan kesepakatan ini hanya bersifat pasokan teknologi dan platform produksi.
Menurut Santosh Pai, mitra di firma hukum Dentons Link Legal, kerja sama antara India dan China di sektor manufaktur sulit dihindari.
"Jika India ingin memperkuat sektor manufakturnya dan mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global, kemitraan dengan China menjadi kebutuhan. Sebaliknya, perusahaan China juga tidak bisa mengabaikan besarnya potensi ekonomi India," ujarnya.
Bagi Tata Motors, penggunaan platform Chery memungkinkan peluncuran kendaraan listrik baru dalam waktu yang lebih cepat.
Dalam jangka panjang, Tata juga berencana mengurangi ketergantungan pada komponen impor dari China dengan meningkatkan produksi komponen lokal di India.
Baca Juga: Isu Relokasi Pabrik Otomotif ke Vietnam Bikin Geger, Kemenperin Tegaskan Produksi Tetap Normal
Langkah tersebut mendapat respons positif dari sebagian kalangan pemerintah India karena dinilai dapat memperkuat industri manufaktur dalam negeri sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Di sisi lain, bagi produsen otomotif China yang tengah menghadapi perlambatan ekonomi domestik dan kelebihan kapasitas produksi, kerja sama semacam ini menjadi peluang untuk meningkatkan pendapatan tanpa harus membuka investasi langsung yang berpotensi terkendala regulasi.
Teknologi EV China Semakin Sulit Dibendung
Kesepakatan Tata-Chery menjadi bukti India belum mampu sepenuhnya membendung pengaruh industri kendaraan listrik China.
Sebagai negara dengan teknologi EV paling maju saat ini, China diperkirakan akan terus memperluas jejaknya di pasar India melalui kerja sama teknologi, lisensi, dan rantai pasok komponen.
Perkembangan ini menjadi tantangan bagi produsen otomotif Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Eropa yang selama ini mendominasi pasar India.
Kehadiran teknologi China dinilai menawarkan solusi yang lebih murah, lebih cepat, dan lebih kompetitif.
Analis otomotif independen Gao Hua menilai perusahaan-perusahaan China memahami pentingnya membangun posisi di pasar India sejak dini.
"Jika perusahaan China tidak ikut berpartisipasi, maka perusahaan dari negara lain yang akan mengambil peluang tersebut," katanya.
Saat ini, kolaborasi perusahaan China dan India semakin banyak ditemukan di sektor kendaraan listrik.
Salah satunya adalah kerja sama antara Uno Minda dari India dan Inovance dari China untuk memproduksi sistem penggerak kendaraan listrik di India, sebuah segmen yang sebelumnya didominasi pemain global seperti Bosch, Nidec, dan Aptiv.
Meski hubungan politik kedua negara masih menyisakan sejumlah ketegangan, tren kerja sama teknologi menunjukkan India tetap membutuhkan keahlian China untuk mempercepat transformasi industri kendaraan listriknya.
Sementara bagi China, India merupakan pasar strategis yang terlalu besar untuk diabaikan.
Ilustrasi. Logo Tata Motors. (Foto: Reuters)