Nissan Ubah Strategi Pengembangan Mobil, Terinspirasi Kecepatan Pabrikan China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Agu 2026, 20:58
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi. Nissan turut berpartisipasi di ajang pameran GIIAS 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. (Foto: Adiantoro/NTV) Ilustrasi. Nissan turut berpartisipasi di ajang pameran GIIAS 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten. (Foto: Adiantoro/NTV)

Ntvnews.id, Jakarta - Nissan tengah berupaya bangkit dari masa sulit yang membayangi perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. 

Salah satu langkah besar yang kini dilakukan adalah mempercepat proses pengembangan mobil baru dengan mempelajari strategi yang diterapkan para produsen otomotif asal China.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari upaya Nissan untuk kembali lebih kompetitif di tengah persaingan industri otomotif global yang semakin ketat.

Dalam sebuah acara di kantor pusat global Nissan, seperti dilansir dari Carscoops, Sabtu (8/8/2026), eksekutif perusahaan Kazuyuki Yamaguchi menegaskan kecepatan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan Nissan.

Menurutnya, jika Nissan tidak mampu menghadirkan produk baru ke pasar dalam waktu yang lebih singkat, perusahaan akan semakin sulit bertahan menghadapi persaingan.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Nissan mengklaim telah memangkas waktu pengembangan kendaraan baru dari sebelumnya sekitar 50 bulan menjadi 37 bulan.

Sementara itu, pengembangan model turunan atau versi penyegaran kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 30 bulan, atau 40 persen lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Tak Lagi Mengejar Kesempurnaan di Semua Aspek

Memangkas waktu pengembangan hingga belasan bulan tentu bukan pekerjaan mudah. Menurut laporan Auto News, Yamaguchi menjelaskan proses pengembangan Nissan sebelumnya membutuhkan waktu panjang karena perusahaan berusaha mencapai tingkat kesempurnaan di hampir setiap aspek kendaraan.

Kini pendekatan tersebut mulai diubah. Nissan memilih untuk lebih fokus pada keunggulan utama yang ingin ditonjolkan dari sebuah kendaraan. 

Perusahaan juga mengubah proses desain agar tidak lagi menghabiskan banyak waktu untuk membuat berbagai alternatif desain sebelum akhirnya memilih satu yang terbaik.

Sebagai gantinya, Nissan mulai mengelompokkan kendaraan berdasarkan keluarga model dengan karakter dan keunggulan yang sama. 

Strategi tersebut memungkinkan proses desain dan pengembangan dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.

Baca Juga: Nissan Debutkan Fairlady Z di GIIAS 2026, Tandai Kembalinya Legenda Sport Car ke Indonesia

Nissan Mulai Andalkan AI dan Teknologi Digital

Perubahan tidak hanya terjadi pada proses perencanaan dan desain. Nissan juga semakin agresif memanfaatkan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), digital twin, dan virtual reality (VR).

Jika sebelumnya pengujian kendaraan banyak mengandalkan pembuatan prototipe fisik, kini sebagian proses dapat dilakukan secara virtual.

Melalui pemodelan digital dan pengujian berbasis AI, para insinyur Nissan dapat menguji berbagai aspek kendaraan di lingkungan virtual sebelum membuat prototipe fisik. 

Cara ini diharapkan dapat menghemat waktu sekaligus mengurangi kebutuhan untuk membuat dan menguji terlalu banyak prototipe.

Teknologi sistem bantuan dan pengemudian otomatis yang semakin canggih juga memberikan keuntungan lain. 

Nissan dapat melakukan pengujian kendaraan secara lebih intensif, termasuk menjalankan simulasi dan pengujian pada malam hari tanpa harus sepenuhnya mengandalkan pengujian manual.

Struktur Pengembangan Mobil Juga Diubah

Nissan menyadari perusahaan sudah tidak memiliki "kemewahan waktu" untuk menjalankan proses pengembangan seperti sebelumnya. Karena itu, struktur pengembangan kendaraan juga ikut disederhanakan.

Yamaguchi mengatakan Nissan kini tidak lagi menempatkan direktur program, manajer perencanaan produk, dan kepala insinyur kendaraan sebagai pihak yang terpisah dengan tanggung jawab masing-masing untuk setiap model.

Perbedaan pandangan di antara berbagai pihak dinilai berpotensi memperlambat proses pengambilan keputusan.

Kini, direktur program memiliki peran utama dalam memimpin pengembangan, sementara kepala insinyur kendaraan bertanggung jawab memastikan produk yang dihasilkan memenuhi target yang telah ditetapkan.

Masih Kalah Cepat dari Pabrikan China

Strategi baru tersebut sudah membuat Nissan jauh lebih cepat. Salah satu contohnya adalah pengembangan Nissan Skyline generasi baru yang disebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu 26 bulan.

Namun, Nissan masih harus bekerja lebih keras jika ingin menyamai kecepatan para produsen otomotif China.

Pabrikan China diketahui mampu mengembangkan model kendaraan baru dalam waktu sekitar 18 hingga 24 bulan. Artinya, Nissan masih memiliki selisih waktu yang cukup besar untuk dikejar.

Yamaguchi menilai perbedaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga budaya kerja.

Menurutnya, perusahaan di China dapat beroperasi dengan pola kerja yang jauh lebih intensif dan berlangsung sepanjang waktu. Sementara itu, pola kerja seperti tersebut dinilai tidak dapat diterapkan dengan cara yang sama di Jepang.

Meski demikian, Nissan tampaknya sudah menyadari kecepatan pengembangan produk kini menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi persaingan otomotif global.

Dengan memangkas waktu pengembangan dari 50 bulan menjadi 37 bulan dan semakin mengandalkan AI serta teknologi digital, Nissan berharap dapat mempercepat peluncuran produk baru sekaligus mengejar ketertinggalannya dari para pesaing asal China.

HIGHLIGHT

x|close