Toyota, Subaru, dan Lexus Tarik Puluhan Ribu Mobil Listrik, Gangguan Memori Berpotensi Bikin Kendaraan Mati Mendadak

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jun 2026, 14:49
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Puluhan ribuan mobil listrik Toyota, Subaru dan Lexus berisiko mati total karena bug perangkat lunak. (Foto: Istimewa via Carscoops) Puluhan ribuan mobil listrik Toyota, Subaru dan Lexus berisiko mati total karena bug perangkat lunak. (Foto: Istimewa via Carscoops)

Ntvnews.id, Jakarta - Toyota, Subaru, dan Lexus mengumumkan penarikan kembali (recall) terhadap hampir 21.000 mobil listrik di Amerika Serikat (AS) setelah ditemukan gangguan pada perangkat lunak sistem manajemen baterai yang berpotensi membuat kendaraan kehilangan tenaga secara tiba-tiba.

Berbeda dengan mobil bermesin bensin yang dalam beberapa kasus masih dapat diperbaiki di pinggir jalan, mobil listrik yang kehilangan daya secara total umumnya harus dievakuasi menggunakan mobil derek. 

Kondisi inilah yang berpotensi dialami ribuan pemilik kendaraan dalam program recall terbaru tersebut.

Seperti dilaporkan Carscoops, Sabtu (27/6/2026), recall mencakup 20.991 unit kendaraan yang diproduksi antara April 2025 hingga April 2026, terdiri dari 11.495 unit Toyota bZ, 4.739 unit Lexus RZ, dan 4.757 unit Subaru Solterra.

Toyota menjelaskan, seluruh kendaraan yang terdampak menggunakan Electronic Control Unit (ECU) baterai buatan Denso dengan perangkat lunak tertentu yang berpotensi mengalami konflik memori.

Gangguan Memori pada ECU Baterai

Masalah utama berasal dari sistem manajemen baterai. Toyota mengungkapkan dua sirkuit terpadu (integrated circuit) di dalam ECU baterai dalam kondisi tertentu dapat menulis data pada lokasi memori yang sama secara berulang.

Jika kondisi tersebut terus terjadi, ECU dapat gagal menjalankan pemeriksaan operasional sehingga memicu gangguan pada sistem penggerak kendaraan.

Muncul Peringatan Sebelum Kendaraan Mati

Sebelum kendaraan kehilangan tenaga sepenuhnya, pengemudi biasanya akan melihat pesan "EV System Malfunction" disertai beberapa lampu indikator peringatan di panel instrumen.

Apabila kerusakan terus berkembang, sistem penggerak listrik dapat berhenti bekerja sehingga tenaga ke roda terputus. 

Meski demikian, power steering dan sistem bantuan pengereman masih tetap berfungsi sehingga kendaraan masih dapat dikendalikan untuk berhenti dengan aman.

Baca Juga: Permintaan Meningkat, Geely EX2 Diproduksi Dua Kali Lipat di Indonesia

Terungkap dari Evaluasi Internal

Toyota mengungkapkan, indikasi masalah serupa sebenarnya pernah ditemukan saat pengembangan model plug-in hybrid pada 2025. 

Namun saat itu perusahaan menilai kendaraan listrik berbasis baterai tidak akan terdampak karena memiliki pola operasi yang berbeda.

Kesimpulan tersebut berubah setelah evaluasi data diagnostik jarak jauh pada April 2026. Insinyur Toyota menemukan bukti dimana dalam kondisi tertentu, terutama saat beban CPU meningkat akibat kondisi baterai lemah, konflik memori tetap dapat terjadi.

Hasil pengujian menunjukkan gangguan tersebut dapat muncul pada berbagai kecepatan dan bahkan berpotensi memengaruhi sistem keselamatan seperti Pre-Collision System (PCS) serta Vehicle Stability Control (VSC).

Toyota menyatakan sejauh ini baru menerima satu klaim garansi terkait masalah tersebut di Amerika Serikat dan belum menemukan laporan insiden di lapangan.

Pemilik kendaraan yang terdampak tidak diminta menghentikan penggunaan mobil. Namun, mereka dianjurkan segera membawa kendaraan ke dealer resmi untuk mendapatkan pembaruan perangkat lunak (software update) yang menjadi solusi atas masalah tersebut.

x|close