Ntvnews.id, Jakarta - Selama ini mobil hybrid plug-in atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sering dianggap tidak efektif.
Banyak kritikus menilai pemilik kendaraan jenis ini jarang mengisi daya baterai, sehingga konsumsi bahan bakarnya dianggap tak jauh berbeda dari mobil hybrid biasa.
Namun, anggapan tersebut mulai terpatahkan. Dikutip dari Insideevs, Senin (25/5/2026), Toyota baru saja merilis hasil studi terbaru yang menunjukkan mayoritas pengguna PHEV justru rutin mengisi daya kendaraan mereka.
Penelitian yang dilakukan Toyota Research Institute North America (TRINA) ini menganalisis kebiasaan lebih dari 6.000 pemilik PHEV di Amerika Serikat (AS) dan beberapa wilayah Kanada.
Hasilnya cukup mengejutkan. Penelitian yang dipimpin Karim Hamza dan Ken Laberteaux tersebut menemukan pemilik Toyota RAV4 PHEV, sebelumnya dikenal sebagai RAV4 Prime, mengisi daya mobil mereka rata-rata tujuh hari dari setiap 10 hari berkendara.
Sementara itu, pengguna Lexus NX 450h+ bahkan tercatat melakukan pengisian daya delapan hingga sembilan kali dalam periode yang sama.
Artinya, sekitar 70 persen pemilik Toyota PHEV aktif mengisi daya kendaraan mereka secara rutin. Angka itu bahkan meningkat menjadi 80 hingga 90 persen pada pengguna Lexus PHEV.
Sebaliknya, jumlah pengguna yang jarang melakukan pengisian daya tergolong sangat kecil. Hanya sekitar 9 persen pemilik Toyota dan 4 persen pengguna Lexus dalam studi tersebut yang tercatat jarang mencolokkan mobil mereka ke sumber listrik.
Baca Juga: Dulu Dikritik Soal Kendaraan Listrik, Strategi Toyota Kini Terbukti Saat Honda dan VW Tersandung
Temuan ini berbeda jauh dengan kondisi di Eropa. Sejumlah studi sebelumnya menunjukkan banyak pengguna PHEV di kawasan tersebut jarang memanfaatkan mode listrik pada mobil mereka.
Salah satu penyebabnya diduga berasal dari kebijakan insentif kendaraan perusahaan di beberapa negara Eropa.
Banyak mobil PHEV dibeli perusahaan demi mendapatkan keuntungan pajak, namun akhirnya digunakan oleh pengemudi yang tidak memiliki akses pengisian daya atau memang tidak tertarik menggunakan fitur listriknya.
Meski angka pengguna yang jarang mengisi daya di Amerika Utara cukup rendah, peneliti Toyota tetap mencoba mencari penyebabnya.
Mereka menduga ada dua faktor utama yang membuat sebagian pengguna enggan melakukan charging secara rutin.
Pertama, tidak semua pemilik memiliki fasilitas pengisian daya yang praktis di rumah. Kedua, biaya listrik di beberapa wilayah dinilai masih lebih mahal dibandingkan membeli bensin, terutama saat melakukan perjalanan jarak jauh.
Meski begitu, bagi pengguna dengan pola perjalanan harian pendek dan akses pengisian daya rumahan yang murah, PHEV dinilai tetap menjadi solusi ideal.
Kombinasi motor listrik dan mesin bensin memungkinkan kendaraan tetap hemat bahan bakar tanpa kekhawatiran soal jarak tempuh, sekaligus memberikan pengalaman berkendara yang lebih efisien dibanding mobil konvensional.
Toyota RAV4 PHEV. (Foto: Istimewa via Insideevs)