Ntvnews.id
Budi juga mengungkapkan rasa duka atas peristiwa tersebut dan berharap seluruh korban yang tengah dirawat dapat segera pulih.
"Yang kita support, kalau mereka butuh rujukan, kalau luka-lukanya, traumanya itu butuh rujukan yang lebih lanjut kita bisa kasih ke Rumah Sakit PON (Pusat Otak Nasional) atau RSCM," katanya di Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar korban telah ditangani oleh rumah sakit milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Selain penanganan fisik, pemerintah juga menyiapkan dukungan kesehatan mental bagi para korban.
Baca Juga: KAI Tanggung Seluruh Biaya Korban Tabrakan Kereta di Bekasi
Menurutnya, layanan tersebut dapat diberikan melalui rumah sakit jiwa yang tersedia.
"Kalau mereka membutuhkan mental health, perawatan, rumah sakit jiwa kita juga RSJ. Dr. Soeharto Heerdjan ada di Jakarta juga bisa bantu mereka," kata Budi.
Sebelumnya, kecelakaan terjadi antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.
Berdasarkan kronologi, pada pukul 20.30 WIB kereta Argo Bromo Anggrek berangkat dari Stasiun Gambir menuju Surabaya.
Selanjutnya, pada pukul 20.52 WIB, KRL dengan kode 5181B tujuan Jakarta menabrak taksi yang mogok di perlintasan Jalan Ampera, sementara KRL dengan kode 5568A tujuan Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
Baca Juga: KAI Lakukan Evakuasi Tabrakan KRL-KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur
Tak lama kemudian, pada pukul 20.57 WIB, KA Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL di Stasiun Bekasi Timur hingga lokomotif masuk ke bagian belakang gerbong KRL.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaporkan jumlah korban meninggal dunia dalam insiden tersebut mencapai 14 orang.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa data tersebut berdasarkan pembaruan hingga pukul 08.45 WIB.
Seluruh korban meninggal telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut, sementara 84 korban luka telah mendapatkan perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan.
(Sumber: Antara)
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis 22 Januari 2026. ANTARA/Mecca Yumna (Antara)