Diskusi Transformasi Lapas Modern di Universitas Pancasila Hadirkan Solusi Kemanusiaan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jun 2026, 21:52
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten di bidang hukum dan rehabilitasi, di antaranya,  Irjen Pol. Drs. Mashudi, S.I.K., S.H., M.Hum. (Direktur Jenderal Pemasyarakatan), Dr. Lisda Syamsumardian, S.H., M.H. (Dekan Fakultas Hukum Univ Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten di bidang hukum dan rehabilitasi, di antaranya, Irjen Pol. Drs. Mashudi, S.I.K., S.H., M.Hum. (Direktur Jenderal Pemasyarakatan), Dr. Lisda Syamsumardian, S.H., M.H. (Dekan Fakultas Hukum Univ

Ntvnews.id, Jakarta - Guna membedah masa depan sistem pemasyarakatan di Indonesia gelar acara diskusi interaktif bertajuk "Transformasi Lapas dalam Mewujudkan Pemasyarakatan Modern yang Berkeadilan Sosial".

Kegiatan yang berlangsung hangat ini diselenggarakan di Aula Nusantara, Fakultas Hukum Universitas Pancasila.

Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten di bidang hukum dan rehabilitasi, di antaranya, Irjen Pol. Drs. Mashudi, S.I.K., S.H., M.Hum. (Direktur Jenderal Pemasyarakatan),
Dr. Lisda Syamsumardian, S.H., M.H. (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila) dan
dr. Bina Ampera Bukit, M.Kes. (Deputi Bidang Rehabilitasi BNN).

Diskusi ini dinilai krusial untuk diadakan demi membahas solusi kemanusiaan bagi para mantan narapidana atau warga binaan.

Fokus utamanya adalah bagaimana mempersiapkan mereka agar ketika kembali ke masyarakat dan tidak lagi mendapatkan stigma negatif, melainkan diterima sebagai pribadi yang baru.

Acara berjalan sangat dinamis dan interaktif, terutama saat memasuki sesi tanya jawab. Para mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pancasila tampak antusias melemparkan berbagai pertanyaan kritis terkait implementasi keadilan sosial di dalam lapas.

Kepada media, Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Irjen Pol. Drs. Mashudi, menekankan bahwa paradigma lapas saat ini telah berubah menjadi tempat pembinaan yang produktif. Selama menjalani masa tahanan, warga binaan dibekali dengan berbagai keterampilan (skill) nyata yang bernilai ekonomis.

"Selama di dalam lapas, para warga binaan mendapatkan pembinaan berupa keahlian yang bisa menjadi modal mereka saat bebas nanti. Tidak hanya itu, ada juga semacam gaji bulanan yang dihasilkan dari kegiatan produktif mereka, seperti pengelolaan ayam petelur dan budidaya sayur-mayur. Hasilnya nanti akan ditabung dan diserahkan kepada mereka sebagai modal usaha saat keluar dari lapas," ujar Irjen Pol. Mashudi.

Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Dr. Lisda Syamsumardian, menyoroti pentingnya kesiapan mental dan sosial warga binaan sebelum benar-benar membaur kembali dengan masyarakat. menurutnya, pembinaan di dalam lapas harus berorientasi pada kemanfaatan di lingkungan asal.

"Penting sekali memastikan pembinaan bagi warga binaan ini berjalan optimal agar nantinya mereka bisa memberikan kontribusi nyata di tempat lingkungan asal mereka. Jika mereka terbukti produktif dan bermanfaat, masyarakat akan lebih mudah menerima kehadiran mereka, dan secara perlahan stigma negatif itu akan hilang dengan sendirinya," ungkap Dr. Lisda.

Melalui diskusi ini, diharapkan lahir sinergi yang kuat antara akademisi, aparat penegak hukum, dan masyarakat dalam memandang transformasi lapas. Bukan lagi sekadar tempat hukuman badan, melainkan sebuah ruang inkubasi kemanusiaan yang berkeadilan sosial.

x|close