Ntvnews.id, Taheran - Otoritas Iran mengeksekusi mati seorang pria yang dinyatakan bersalah membantu aksi pembakaran sebuah masjid besar di ibu kota, Teheran. Pria tersebut juga dituduh bekerja sama dengan Israel dan Amerika Serikat saat gelombang demonstrasi terjadi sebelum konflik pecah.
Dilansir dari AFP, Rabu, 22 April 2026, pria bernama Amir Ali Mirjafari itu dieksekusi dengan cara digantung. Ia disebut memimpin jaringan intelijen Israel, Mossad, di salah satu wilayah Iran.
"Amir Ali Mirjafari... salah satu elemen bersenjata yang berkolaborasi dengan musuh yang mencoba untuk membakar Masjid Agung Gholhak dan merupakan pemimpin aktivitas antikeamanan jaringan Mossad di area tersebut, telah dihukum gantung pada pagi ini," demikian dilaporkan AFP.
Media tersebut juga menyebut bahwa vonis mati terhadap Mirjafari telah mendapatkan pengesahan dari Mahkamah Agung Iran sebelum pelaksanaannya.
Hukuman tersebut dijatuhkan atas tuduhan bahwa Mirjafari bertindak atas nama "rezim Zionis, pemerintah AS yang bermusuhan, dan kelompok-kelompok yang bermusuhan terhadap keamanan negara dengan membakar Masjid Agung Gholhak dan fasilitas-fasilitas umum".
Baca Juga: Menlu Iran Soroti Pelanggaran Gencatan Senjata AS, Hambat Perundingan Damai
Insiden pembakaran itu disebut terjadi saat unjuk rasa meluas di Iran pada akhir Desember tahun lalu. Aksi tersebut awalnya dipicu oleh protes terhadap kenaikan biaya hidup sebelum berkembang menjadi demonstrasi antipemerintah secara nasional.
Eksekusi ini berlangsung di tengah meningkatnya tindakan hukum terhadap individu yang terkait dengan gelombang protes tersebut dalam beberapa pekan terakhir.
Ilustrasi - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran, yang dirilis pada 21 Juli 2019. ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa. (Antara)
Pemerintah Teheran menuduh Israel, AS, serta kelompok oposisi seperti People's Mojahedin Organization of Iran berada di balik aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan.
Sejak akhir Februari, Iran terlibat konflik dengan AS dan Israel, yang dipicu oleh serangan gabungan besar-besaran dari Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Ketegangan tersebut sempat mereda setelah diberlakukannya gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan pada 7 April lalu.
Warga menghadiri unjuk rasa di Teheran, Iran, 8 April 2026. ANTARA/Xinhua/Shadati (Antara)