Ntvnews.id , Jakarta - Dinamika kebijakan Iran di Selat Hormuz kembali memicu perhatian global setelah negara tersebut menutup kembali jalur pelayaran strategis itu kurang dari 24 jam usai mengumumkan pembukaan sementara.
Langkah ini menambah ketidakpastian di kawasan, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur vital perdagangan minyak dunia.
Berdasarkan kronologi Kementerian Luar Negeri Iran (IRINFA) per 18 April 2026, pada 17 April Israel dan Lebanon terlebih dahulu menyepakati gencatan senjata selama 10 hari.
Baca Juga: Kabar Baik! 2 Kapal Pertamina Bersiap Melintas Selat Hormuz
Sejalan dengan itu, Iran sempat membuka Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.
Namun, situasi berubah cepat pada 18 April ketika Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) kembali menutup akses selat tersebut hingga Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Penutupan kembali ini bahkan diwarnai insiden penembakan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Iran juga menyatakan belum ada kepastian jadwal pertemuan lanjutan dengan Amerika Serikat, sehingga ketegangan di kawasan masih berpotensi berlanjut.
Kebijakan yang berubah dalam waktu singkat ini mencerminkan kompleksitas geopolitik yang memengaruhi stabilitas jalur energi global.
Dampak dari kebijakan tersebut langsung terasa di pasar energi.
Harga minyak mentah dunia sempat anjlok sekitar 10 persen setelah pengumuman pembukaan Selat Hormuz, namun kembali dibayangi ketidakjelasan setelah penutupan dilakukan.
Kondisi ini meningkatkan ketegangan kawasan sekaligus menciptakan ketidakpastian terhadap harga minyak global.
Baca Juga: Iran Buka Selat Hormuz, Stabilitas Energi Indonesia Kian Terjamin
Pemerintah Indonesia turut merespons situasi ini dengan mencermati perkembangan serta melanjutkan negosiasi agar kapal milik Pertamina tetap dapat melintasi Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menilai.
"Pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan perkembangan yang sangat positif bagi stabilitas pasokan energi global, termasuk Indonesia.” Hingga kini, tercatat sekitar 2.000 kapal terdampak konflik, sementara 279 kapal masih melintas di kawasan tersebut.
Berikut Infografiknya:
Iran menutup kembali lalu lintas kapal perdagangan di Selat Hormuz kurang dari 24 jam setelah mengumumkan pembukaan sementara jalur tersebut pada Jumat (17 April 2026 (Antara)
(Sumber:Antara)
Iran menutup kembali lalu lintas kapal perdagangan di Selat Hormuz kurang dari 24 jam setelah mengumumkan pembukaan sementara jalur tersebut pada Jumat 17 April 2026. (Antara)