IDAI Bentuk Satgas Tangani Dampak Pencemaran Timbal dan Mikroplastik Pada Anak

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Apr 2026, 13:15
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus untuk menangani dan mencegah dampak buruk pencemaran lingkungan terhadap kesehatan anak, dengan fokus utama pada polusi timbal dan mikroplastik. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya temuan zat berbahaya tersebut di lingkungan sehari-hari yang mengancam tumbuh kembang generasi mendatang.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menyatakan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap paparan polutan lingkungan. Tubuh anak yang masih dalam masa pertumbuhan menyerap zat kimia lebih cepat dibandingkan orang dewasa, sementara sistem ekskresi mereka belum sempurna untuk membuang racun tersebut.

"Kami melihat ancaman ini sudah di depan mata, timbal dan mikroplastik bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan isu kesehatan serius yang berdampak jangka panjang pada kualitas hidup anak Indonesia. Oleh karena itu, IDAI membentuk Satgas ini untuk melakukan advokasi, edukasi, serta menyusun panduan klinis bagi para tenaga medis," ujar Dr. Piprim di kawasan Menteng Jakarta Pusat, 6 April 2026.

Baca Juga: Menteri PPPA: Memaksa Anak Buka Pakaian Berpotensi Langgar UU Perlindungan Anak

Bahaya timbal pada kecerdasan anak pencemaran timbal di Indonesia sering ditemukan pada sisa pembakaran bahan bakar, cat dinding berkualitas rendah, mainan anak yang tidak standar, hingga aktivitas daur ulang aki bekas yang tidak resmi. Paparan timbal kronis pada anak diketahui dapat merusak sistem saraf pusat.

Satgas Lingkungan IDAI dr. Irene Yuniar SP, A. Subsp ETIA (K), menjelaskan bahwa tidak ada level aman bagi timbal di dalam darah anak. 

"Paparan timbal meski dalam kadar rendah dapat menyebabkan penurunan skor IQ, gangguan perilaku, kesulitan belajar, hingga stunting. Dampaknya bersifat permanen dan sulit dipulihkan," ungkapnya.

IDAI juga menyoroti bahaya mikroplastik partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang kini ditemukan di air minum, udara, hingga rantai makanan manusia. Penelitian terbaru menunjukkan mikroplastik telah ditemukan dalam darah manusia dan jaringan tubuh lainnya.

Upaya ini sudah menjadi perhatian pemerintah dan harus dijalankan secara bersama dan berkolaborasi dengan berbagai instansi pemerintahan lainnya.

"Ini sebetulnya sudah jadi perhatian pemerintah setelah munculnya berbagai penelitian terkait tingginya kadar timbal darah pada kesehatan anak. Ada juga Menteri Kesehatan bekerja sama dengan WHO dan UNICEF untuk menangani permasalahan timbal ini. Kita sudah rapat dengan Wakil Menteri Kesehatan untuk bagaimana menyelesaikan dan dibuat survei kadar timbal darah pada anak, dan kita juga dibantu oleh BRIN sehingga sudah launching datanya," ucap dr. Irene Yuniar.

"Berikutnya akan dibuat panduan nasional mengenai kadar timbal pada anak ini, sehingga bisa didistribusikan kepada seluruh pelosok dan juga bisa bekerja sama dengan instansi lain seperti Kemendikbud untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dari timbal, dan untuk yang mengurus memproduksi mainan anak-anak," pungkasnya.

Adapun langkah strategis Satgas ini memiliki beberapa tugas utama, di antaranya:

1. Pemetaan Kasus: Melakukan pengumpulan data terkait dampak klinis paparan polutan pada anak di berbagai daerah.

2. Edukasi Masyarakat: Memberikan panduan bagi orang tua mengenai cara meminimalkan paparan plastik dan zat kimia di rumah.

3. Advokasi Kebijakan: Mendorong pemerintah untuk memperketat regulasi standar keamanan produk anak, kualitas udara, dan pengelolaan limbah industri.

4. Kolaborasi Lintas Sektor: Bekerja sama dengan pakar lingkungan, toksikolog, dan kementerian terkait untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi anak.

IDAI berharap dengan adanya Satgas ini, kesadaran publik mengenai bahaya polusi "kasat mata" seperti timbal dan mikroplastik dapat meningkat. Perlindungan terhadap anak dari pencemaran lingkungan merupakan investasi krusial menuju visi Indonesia Emas 2045 yang sehat dan cerdas.

"Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita tumbuh di lingkungan yang meracuni mereka. Ini adalah tanggung jawab kolektif untuk memastikan mereka mendapatkan udara, air, dan makanan yang bersih," tutup Dr. Piprim.

x|close