Ntvnews.id, Taheran - Serangan udara yang diduga dilakukan Amerika Serikat dilaporkan menghantam Kota Isfahan di wilayah tengah Iran pada Selasa, 31 Maret Dini hari. Rekaman yang dibagikan Presiden AS Donald Trump memperlihatkan ledakan besar yang menerangi langit malam kota tersebut.
Dilansir dari Al Arabiya, Rabu, 1 April 2026, Isfahan dikenal sebagai salah satu lokasi fasilitas nuklir strategis Iran dan diyakini menjadi tempat penyimpanan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi. Laporan kantor berita AP menyebutkan sebagian cadangan uranium Iran kemungkinan berada atau dikubur di fasilitas nuklir di kota itu.
Trump membagikan video ledakan melalui media sosial yang menunjukkan bola api besar membumbung di langit malam. Sebelumnya, fasilitas nuklir di Isfahan juga pernah menjadi sasaran serangan militer AS pada Juni 2025.
Trump menegaskan kesiapan Washington untuk memperluas operasi militer apabila Iran tidak segera membuka kembali jalur Selat Hormuz serta gagal mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.
"Kemajuan besar telah dicapai, tetapi jika karena alasan apa pun kesepakatan tidak segera tercapai, dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk pelayaran, kami akan mengakhiri 'kehadiran' kami di Iran dengan meledakkan dan menghancurkan sepenuhnya pembangkit listrik mereka, sumur minyak mereka, dan Pulau Kharg."
Baca Juga: Iran Pastikan Pasokan BBM Aman di Tengah Ketegangan dengan AS dan Israel
Pulau Kharg sendiri merupakan pusat utama ekspor minyak Iran dan menjadi target strategis dalam konflik ini. Trump juga menyinggung kemungkinan serangan terhadap fasilitas desalinasi air Iran jika konflik terus berlanjut.
Di sisi lain, Iran menuduh Washington memanfaatkan jalur diplomasi untuk mengulur waktu sembari memperkuat pengerahan militer di kawasan.
Ketegangan juga meluas ke sektor maritim. Iran dilaporkan menyerang kapal tanker minyak di Teluk Persia. Salah satu kapal berbendera Kuwait, Al-Salmi, diserang drone di perairan Dubai hingga terbakar. Kapal tersebut mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah dengan nilai lebih dari 200 juta dolar AS.
Perusahaan Kuwait Petroleum Corporation menyatakan serangan terjadi pada dini hari dan menyebabkan kebakaran serta kerusakan pada lambung kapal, meski tidak ada korban jiwa. Otoritas Dubai memastikan api berhasil dipadamkan.
Serangan terhadap Al-Salmi menjadi bagian dari rangkaian serangan terhadap kapal dagang di Teluk Persia dan Selat Hormuz sejak konflik dimulai pada 28 Februari, saat AS dan Israel menggempur Iran.
Sejumlah negara Teluk juga melaporkan insiden keamanan. Sirene serangan udara terdengar di Bahrain, sementara Arab Saudi mengklaim berhasil mencegat tiga rudal balistik yang mengarah ke Riyadh. Di Dubai, empat orang dilaporkan terluka akibat puing drone yang jatuh ke kawasan permukiman.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa operasi militer negaranya menargetkan pasukan AS.
"Operasi kami ditujukan kepada agresor musuh yang tidak menghormati bangsa Arab maupun Iran dan tidak mampu memberikan keamanan. Sudah saatnya mengusir pasukan Amerika Serikat."
Ilustrasi - Perusahaan kilang minyak dan gas Isfahan di Iran. (ANTARA/Anadolu/pri) (Antara)
Serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan energi global.
Konflik yang terus meluas juga berdampak signifikan terhadap pasar energi dunia. Iran tetap menekan akses di Selat Hormuz, jalur penting yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.
Gangguan ini menyebabkan harga minyak melonjak tajam sejak konflik pecah. Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran 107 dolar AS per barel, meningkat lebih dari 45 persen sejak akhir Februari.
Kenaikan harga energi mulai dirasakan konsumen di AS. "Harga rata-rata bensin nasional di Amerika Serikat telah melampaui 4 dolar per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun," menurut data GasBuddy.
Lonjakan harga BBM tersebut juga menjadi tekanan politik bagi Trump menjelang pemilihan sela Kongres pada November mendatang.
Baca Juga: KPK Ungkap Dugaan Aliran 406 Ribu Dolar dalam Kasus Kuota Haji
Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa Trump masih mengupayakan solusi diplomatik dengan Iran sebelum tenggat waktu baru.
"Presiden ingin mencapai kesepakatan dengan para pemimpin Iran sebelum tenggat waktu kedua pada 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Namun, Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan melalui perantara negara-negara kawasan. "Proposal tersebut tidak realistis, tidak logis, dan berlebihan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Ia menegaskan bahwa fokus utama Iran saat ini adalah mempertahankan diri dari serangan militer.
"Posisi kami jelas. Kami berada di bawah agresi militer. Oleh karena itu seluruh upaya dan kekuatan kami difokuskan untuk mempertahankan diri." pungkasnya.
Penyerangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)