MUI Ajak Umat Islam Tunggu Hasil Sidang Isbat Penentuan Awal Syawal 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 17 Mar 2026, 10:15
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Sejumlah penumpang menunggu kedatangan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) pada arus mudik Idul Fitri di Terminal Tipe A Mengwi, Badung, Bali, Senin (16/3/2026). Berdasarkan laporan data produksi kendaraan dan penumpang di terminal tersebut pada 1-15 Maret 2026 jumlah penumpang yang berangkat ke Pulau Jawa pada arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriah sebanyak 36.022 orang. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/bar (ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO) Sejumlah penumpang menunggu kedatangan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) pada arus mudik Idul Fitri di Terminal Tipe A Mengwi, Badung, Bali, Senin (16/3/2026). Berdasarkan laporan data produksi kendaraan dan penumpang di terminal tersebut pada 1-15 Maret 2026 jumlah penumpang yang berangkat ke Pulau Jawa pada arus mudik Idul Fitri 1447 Hijriah sebanyak 36.022 orang. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/bar (ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau umat Islam di Tanah Air untuk menunggu keputusan resmi pemerintah terkait penetapan awal Syawal 1447 Hijriah melalui Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026. Imbauan tersebut disampaikan menyusul kemungkinan adanya perbedaan penetapan antara pemerintah dan sejumlah organisasi keagamaan.

Wakil Ketua Umum Cholil Nafis menegaskan bahwa keputusan awal Syawal akan ditentukan setelah dilakukan pemantauan hilal dan pembahasan dalam Sidang Isbat.

“Penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan Sidang Isbat pemerintah,” ujar Kiai Cholil di Jakarta, Senin.

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menyelenggarakan Sidang Isbat tersebut di kantor kementerian yang berlokasi di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. Sidang ini menjadi forum resmi untuk menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan hasil hisab dan rukyat.

Kiai Cholil menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan ilmu falak, pada Kamis, 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadhan akan terjadi ijtima’ atau konjungsi antara matahari dan bulan pada pukul 08.25 WIB.

Setelah matahari terbenam pada hari yang sama, posisi hilal diperkirakan sudah berada di atas ufuk, namun ketinggiannya masih relatif rendah di sebagian besar wilayah Indonesia.

Menurutnya, di banyak daerah ketinggian hilal hanya berkisar 1–2 derajat dengan waktu keberadaan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam sehingga peluang untuk terlihat secara kasat mata sangat kecil.

“Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh, dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09',” kata Kiai Cholil.

Baca Juga: Kemenag Pantau Hilal Idul Fitri di 117 Titik pada 19 Maret 2026

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah di Depok, Jawa Barat tersebut menuturkan kondisi tersebut menunjukkan bahwa bulan memang sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari mulai terbuka.

“Sehingga secara teori ada kemungkinan untuk terlihat, tetapi kondisinya masih sangat tipis,” kata dia.

Ia juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menggunakan standar imkanur rukyat MABIMS untuk menentukan awal bulan Hijriah. Kriteria ini merupakan kesepakatan para Menteri Agama dari negara anggota MABIMS yang terdiri dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Dalam standar tersebut, hilal dinilai berpotensi terlihat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Sementara itu, berdasarkan hasil hisab di Aceh, tinggi hilal diperkirakan mencapai 2,51 derajat dengan elongasi sekitar 6,09 derajat, yang masih sedikit di bawah batas kriteria.

"Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan, tetapi kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis," kata dia.

Dengan kondisi tersebut, secara perhitungan astronomi hilal memang sudah berada di atas ufuk, namun hampir di seluruh wilayah Indonesia posisinya masih rendah.

Baca Juga: Kemenag: Sidang Isbat Penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026

Bahkan di Aceh yang memiliki posisi hilal paling tinggi pun masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyat yang telah ditetapkan.

Menyikapi kemungkinan perbedaan penentuan awal Syawal, MUI juga mengajak umat Islam untuk saling menghormati perbedaan yang mungkin terjadi dalam penetapan hari raya.

(Sumber: Antara)

x|close