Rudal Iran Dihancurkan NATO, Disebut Mengarah ke Siprus Bukan Turki

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mar 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. ANTARA/Anadolu/py/am. Peluru kendali (rudal) Iran meluncur menuju sasaran target. ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan melintasi wilayah udara Irak serta Suriah sebelum menuju Turki berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara NATO. Rudal tersebut dilaporkan ditujukan ke Siprus, bukan ke Turki.

Dilansir dari AFP, Kamis, 5 Maret 2026, Kementerian Pertahanan Turki menyatakan rudal itu telah "dihadang dan dinetralisir oleh aset pertahanan udara dan rudal NATO yang ditempatkan di Mediterania timur". Otoritas tidak mengungkapkan secara resmi target sasaran rudal tersebut.

Seorang pejabat Turki yang berbicara kepada AFP secara anonim menjelaskan bahwa rudal itu "ditujukan ke pangkalan di Siprus Yunani tetapi melenceng dari jalurnya".

Pihak berwenang menyebut serpihan yang jatuh di distrik Dortyol, wilayah selatan Turki dekat perbatasan Suriah, merupakan bagian dari pencegat yang dipakai untuk menetralisir "ancaman di udara". Tidak ada laporan korban jiwa akibat insiden tersebut.

Juru bicara NATO, Allison Hart, mengatakan, "NATO berdiri teguh bersama semua sekutu, termasuk Turki, karena Iran terus melakukan serangan tanpa pandang bulu di seluruh wilayah," menggunakan nama resmi Turki.

Baca Juga: Drone Murah Iran Tekan Pertahanan AS-Israel, Stok Rudal AS Terancam Menipis

Ia menambahkan, "Postur pencegahan dan pertahanan kami tetap kuat di semua domain, termasuk dalam hal pertahanan udara dan rudal."

Turki yang merupakan anggota NATO dan mayoritas penduduknya Muslim Sunni, berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 500 kilometer.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, yang tetap menjalin hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump meski kerap melontarkan kritik terhadap Israel, menyebut serangan gabungan AS-Israel yang memicu perang serta pembalasan Teheran sebagai tindakan yang "ilegal".

Dalam wawancara terpisah, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan juga mengecam serangan balasan Iran yang dinilainya tidak terarah di kawasan Teluk dan menyebutnya sebagai "strategi yang salah".

"Strategi yang mendasarinya tampaknya adalah: 'Jika saya akan tenggelam, saya akan menyeret kawasan itu bersama saya'," tambah Fidan.

Pasca insiden tersebut, Ankara memperingatkan Teheran agar tidak mengambil langkah yang dapat memperluas konflik. Dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Iran, Fidan menegaskan bahwa "segala langkah yang dapat menyebabkan meluasnya konflik harus dihindari," menurut sumber dari kementerian luar negeri.

Sejumlah analis menilai lintasan rudal Iran serta pencegatannya oleh sistem NATO meningkatkan risiko meluasnya perang regional, meskipun tidak ada indikasi jelas bahwa Iran bermaksud menyerang Turki.

Baca Juga: Diserang Rudal Iran, AS Tutup Kedubes di Bahrain

Analis risiko dari Verisk Maplecroft, Hamish Kinnear, mengatakan, "Turki tidak ingin terlibat dalam serangan AS-Israel terhadap Iran, yang telah dikritiknya, tetapi jika Iran meluncurkan lebih banyak rudal yang jelas-jelas ditujukan pada target di wilayah Turki, Ankara akan mempertimbangkan pembalasan langsungnya sendiri,".

Kementerian Pertahanan Turki menegaskan bahwa "segala langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah dan ruang udara kami akan diambil secara tegas dan tanpa ragu-ragu".

"Kami menegaskan kembali bahwa kami berhak untuk menanggapi setiap tindakan permusuhan yang ditujukan kepada negara kami," tambahnya.

x|close