Ntvnews.id, Jakarta - Gelombang protes muncul setelah sebuah video orientasi pekerja migran Indonesia (PMI) di Jepang tersebar luas. Rekaman tersebut memperlihatkan para junior yang baru tiba diminta memakan natto, kedelai fermentasi khas Jepang, di bawah tekanan para senior.
Suasana dalam video tampak tegang. Terdengar teriakan seperti “telen!”, “habiskan!”, “Makan habisin, telen!” ketika para junior duduk berbaris tanpa mengenakan baju, hanya memakai celana hitam, dengan kepala plontos, dan dikelilingi senior yang mengawasi mereka dari dekat.
Rekaman itu awalnya dipublikasikan lewat akun TikTok bernama @opanbobolidos, yang kemudian sempat menutup akunnya sebelum membuat yang baru dengan nama sama. Unggahan tersebut mencuri perhatian dan menimbulkan perdebatan mengenai apakah perlakuan itu dianggap tradisi atau bentuk senioritas yang berlebihan.
Baca Juga: Eks Wakil Wali Kota Palembang Divonis 7,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Dana PMI
Banyak warganet mengecam, menyebut tindakan seperti itu tidak layak dilakukan pada pekerja yang baru tiba di negara asing. Sebagian kecil lainnya menilai hal tersebut hanya bentuk “pembiasaan” sebelum memasuki lingkungan kerja yang keras.
Seorang pria yang mengaku sebagai pengunggah video sekaligus salah satu senior kemudian memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan tidak ada niat buruk dalam perlakuan tersebut.
“Saya atas nama akun yang sudah mengupload video yang lagi viral. Hari ini saya akan mengklarifikasi tentang video anak-anak yang lagi viral makan natto. Saya dan senpai (senior) yang lain tidak bermaksud untuk membully atau menyakiti,” ujarnya dalam video beredar, dilansir pada Senin, 2 Maret 2026.
Baca Juga: PMI Salurkan 50 Ribu Buku Tulis dan 25 Ribu Pulpen untuk Sekolah di NTT
“Tujuan kami biar adik-adik kami yang baru datang bisa membiasakan diri untuk makan makanan yang ada di kapal Jepang, karena di kapal biasanya makan seadanya. Seperti natto, sashimi, telur mentah. Yang kerja di kapal pasti ada yang paham juga. Tolong dan juga saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Saya bersama senpai (senior) yang lain sudah minta maaf juga,” tambah dia.
Belum tersampaikan pernyataan resmi dari KBRI Tokyo terkait kejadian yang sedang ramai dibahas tersebut. Para pemerhati PMI kini mendorong adanya pengawasan lebih ketat terhadap proses orientasi agar praktik senioritas tidak menimbulkan tekanan berlebihan bagi para pekerja baru.
Senior PMI Jepang Ospek yang Baru Datang (Instagram)