Kisah Dokter Yanti yang Seperahu dengan Harimau Sumatera, Selamatkan dari Kepunahan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Feb 2026, 14:35
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
drh. Erni Suyanti Musabine, yang akrab dikenal sebagai Dokter Yanti. drh. Erni Suyanti Musabine, yang akrab dikenal sebagai Dokter Yanti. (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Perahu kayu kecil itu mengapung pelan di sungai berwarna kecokelatan, membawa seorang perempuan yang duduk dengan ketenangan luar biasa. Di sampingnya, seekor Harimau Sumatera terbaring lemah setelah dibius untuk evakuasi dari wilayah konflik.

Momen tersebut pernah viral, namun perjalanan panjang perempuan itu telah berlangsung jauh sebelum perhatian publik datang. Perempuan tersebut adalah drh. Erni Suyanti Musabine, yang akrab dikenal sebagai Dokter Yanti.

Bukan tentara, bukan pemburu, dan bukan pula sosok yang mengejar ketenaran, melainkan seorang dokter hewan yang mengabdikan hidupnya untuk menyelamatkan Harimau Sumatera. Bagi dunia konservasi, ia menjadi garda terdepan dalam mempertahankan salah satu spesies paling terancam di Indonesia.

Ancaman terhadap Harimau Sumatera semakin nyata. Populasi yang menurut WWF dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hanya tersisa sekitar 400–600 ekor itu hidup dalam tekanan akibat fragmentasi hutan, perburuan, serta konflik dengan manusia ketika habitat berubah menjadi kebun atau permukiman.

Kondisi tersebut menempatkan peran Dokter Yanti pada posisi yang sangat penting. Pilihan untuk bertugas di wilayah terpencil Sumatera ia ambil sejak 2002, setelah menamatkan studi di Universitas Airlangga.

Baca Juga: Polisi Ungkap Kronologi Pengemudi Berkendara Ugal-ugalan di Jakarta Pusat

Daerah-daerah seperti Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, hingga Lampung menjadi bagian dari kesehariannya, wilayah yang tidak mudah dijangkau, namun menjadi titik-titik penting konflik manusia dengan satwa liar.

Selama sembilan tahun terakhir, rekam jejaknya mencatat setidaknya sebelas Harimau Sumatera yang berhasil ia selamatkan dari jeratan pemburu, konflik warga, atau kondisi medis darurat.

Banyak di antara satwa tersebut mengalami luka jerat kawat baja yang membusuk, terinfeksi, bahkan berujung amputasi. Tindakan medis dilakukan dengan peralatan terbatas, sering kali setelah perjalanan panjang menyusuri medan berat.

“Setiap evakuasi itu tidak pernah mudah. Harimau yang terluka bisa sangat agresif. Tapi di sisi lain, mereka adalah korban,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.

Pekerjaannya menuntut lebih dari sekadar kemampuan medis. Penguasaan perilaku satwa, ketenangan menghadapi situasi genting, serta ketelitian dalam menentukan dosis bius menjadi faktor penentu keselamatan. Sedikit saja meleset, harimau dapat bangun tiba-tiba atau sebaliknya mengalami risiko fatal.

Baca Juga: Infografik: Menggenjot Ekonomi Triwulan I-2026

Pemantauan suhu tubuh, denyut jantung, dan respons refleks dilakukan langsung di lapangan, tanpa fasilitas memadai. Situasinya sering tidak ideal, namun nyawa satwa harus tetap dipertahankan, dan nyawanya sendiri juga selalu berada dalam ancaman.

Konflik manusia-harimau sering bermula dari ketakutan atau kerugian warga akibat ternak yang dimangsa. Keputusan cepat menjadi kunci untuk mencegah tindakan balasan terhadap satwa. Pada titik inilah peran Dokter Yanti meluas, tidak hanya sebagai dokter satwa liar, tetapi juga penengah konflik.

Berbagai musyawarah penanganan konflik di provinsi-provinsi Sumatera kerap melibatkan dirinya bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), aparat daerah, dan tokoh masyarakat. Pendekatannya tidak berhenti pada penanganan fisik satwa, melainkan mencakup edukasi kepada warga agar memahami situasi ekologis yang memicu konflik.

Upayanya membentuk jembatan antara manusia dan predator menjadi bagian penting dalam mempertahankan keberlangsungan Harimau Sumatera, tugas berat yang ia jalani dengan dedikasi tanpa henti.

x|close