Ntvnews.id, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan harapannya agar perundingan perdamaian yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dengan Rusia pekan depan dapat menghasilkan kesepakatan konkret. Ia menilai Kyiv terlalu sering diminta berkompromi dan meminta sekutu Barat memberikan “jaminan keamanan yang jelas”.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 16 Februari 2026, pernyataan itu disampaikan Zelensky dalam Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu, 14 Februari 2026. Saat ini, Presiden AS Donald Trump tengah berupaya memfasilitasi kesepakatan guna mengakhiri konflik terbesar di Eropa sejak 1945.
Rusia, yang menginvasi Ukraina sejak Februari 2022, sebelumnya mengikuti dua putaran perundingan yang dimediasi Washington di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pembicaraan tersebut dinilai konstruktif, namun belum menghasilkan terobosan signifikan.
Ketiga pihak dijadwalkan kembali bertemu di Jenewa, Swiss, pekan ini. Zelensky menyatakan harapannya agar dialog trilateral tersebut berlangsung serius, substansial, dan membawa manfaat nyata.
Baca Juga: Volodymyr Zelenskyy Ogah Minta Maaf Usai Bersitegang dengan Donald Trump
"Tetapi jujur saja, terkadang terasa seperti kedua pihak membicarakan hal-hal yang sama sekali berbeda. Amerika sering kembali ke topik konsesi, dan terlalu sering konsesi tersebut hanya dibahas dalam konteks Ukraina, bukan Rusia," katanya.
Zelensky juga menilai peluang tercapainya perdamaian akan lebih besar jika negara-negara Eropa turut dilibatkan dalam perundingan, meski langkah itu ditentang Moskow.
"Eropa praktis tidak hadir di meja perundingan. Menurut saya itu adalah kesalahan besar. Dan Ukraina terus kembali ke satu poin sederhana. Perdamaian hanya dapat dibangun di atas jaminan keamanan yang jelas. Di mana tidak ada sistem keamanan yang jelas, perang selalu kembali," kata Zelensky.
Dalam perundingan, salah satu isu paling sensitif adalah tuntutan Rusia agar Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah timur Donetsk yang masih dikuasai Kyiv. Ukraina menolak penarikan sepihak tersebut dan tetap menuntut jaminan keamanan Barat untuk mencegah agresi Rusia di masa depan jika gencatan senjata tercapai.
Zelensky mengungkapkan kepada wartawan bahwa AS mengusulkan jaminan keamanan selama 15 tahun pascaperang, namun Ukraina menginginkan durasi 20 tahun atau lebih.
Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. (ANTARA)
Ia juga menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin menolak penempatan pasukan asing di Ukraina, sementara Kyiv menuntut penerimaan misi pemantauan gencatan senjata dan pertukaran tawanan perang. Zelensky memperkirakan Rusia saat ini menahan sekitar 7.000 tentara Ukraina, sementara Kyiv menahan lebih dari 4.000 personel Rusia.
Ia juga mengaku merasakan “sedikit” tekanan dari Trump, yang sebelumnya mendesaknya agar tidak menyia-nyiakan “kesempatan” untuk berdamai dan segera mengambil langkah konkret. Zelensky meminta sekutu Ukraina meningkatkan tekanan terhadap Rusia, baik melalui sanksi yang lebih keras maupun peningkatan pasokan senjata.
Menurut Zelensky, Trump memiliki pengaruh untuk mendorong Putin menyetujui gencatan senjata. Pejabat Ukraina menilai gencatan senjata diperlukan untuk menggelar referendum terkait kesepakatan damai, yang direncanakan bersamaan dengan pemilu nasional.
Baca Juga: Hendak akan Dibunuh, Volodymyr Zelensky Pecat Dua Pengawalnya
Zelensky juga mengaku terkejut atas keputusan Rusia mengganti delegasi dalam perundingan Jenewa, yang menurutnya mengindikasikan Moskow ingin menunda kesepakatan. Kremlin menyebut delegasi Rusia akan dipimpin oleh penasihat Putin, Vladimir Medinsky, menggantikan kepala intelijen militer Igor Kostyukov yang memimpin perundingan sebelumnya di Abu Dhabi.
Pejabat Ukraina mengkritik peran Medinsky dalam perundingan sebelumnya, dengan tuduhan bahwa ia lebih banyak memberikan kuliah sejarah daripada terlibat dalam negosiasi substantif.
Dalam pidatonya di Munich, Zelensky juga mengecam Putin sebagai “budak perang” dan membandingkan situasi saat ini dengan Perjanjian Munich 1938, ketika kekuatan Eropa mengizinkan Hitler mencaplok sebagian Cekoslowakia sebelum pecahnya Perang Dunia II.
"Akan menjadi ilusi untuk percaya bahwa perang ini sekarang dapat diakhiri secara pasti dengan membagi Ukraina, sama seperti ilusi untuk percaya bahwa mengorbankan Cekoslowakia akan menyelamatkan Eropa dari perang besar," ujarnya.
Presiden AS Donald Trump (kiri) menyambut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat pada 18 Agustus 2025. (ANTARA)