Siswa SD yang Tewas Gantung Diri di NTT Ternyata Berkali-kali Ditagih Uang Sekolah Rp 1,2 Juta per Tahun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Feb 2026, 11:31
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. Surat buatan Anak SD NTT yang bunuh diri gara-gara gak mampu beli buku. (Instagram)

Ntvnews.id, Jakarta - Berita ini bukan untuk menginspirasi siapa pun guna melakukan aksi serupa. Untuk Anda yang mengalami gejala depresi maupun ingin bunuh diri, segera konsultasi ke psikolog, psikiater, hingga mendatangi klinik kesehatan mental.

Seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR (10), ditemukan tewas setelah melakukan gantung diri. Tragedi tersebut terjadi ketika keluarganya mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah, termasuk membeli buku tulis dan pulpen.

Fakta lain yang mengemuka menunjukkan bahwa YBR, bersama para siswa lain, diminta membayar uang sekolah sebesar Rp 1,2 juta per tahun.

YBR bersekolah pada sebuah SD negeri. Sekolah tersebut memberlakukan iuran tahunan senilai Rp 1.220.000 dengan sistem pembayaran secara cicilan sepanjang tahun. Orang tua YBR telah melunasi tahap pertama senilai Rp 500 ribu untuk semester I, sementara sisanya berjumlah Rp 720 ribu masih menunggu penyicilan untuk semester II.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPMDP3A) Ngada, Veronika Milo, memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut.

Baca Juga: Kasus Dugaan Ujaran Kebencian Edit Logo NU Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

“Itu hanya untuk kelas IV. Itu bukan dikatakan tunggakan karena dia masih tahun berjalan. Di sekolah itu bayarnya cicil, tahap pertama semester satu sebesar Rp 500 ribu dan itu sudah mereka lunasi. Jadi untuk semester II ini membayar yang sisanya ini (Rp 720 ribu),” ujarnya.

Penjelasan tersebut disampaikan pada Kamis (5/2/2026) malam setelah ia memperoleh informasi langsung dari pihak sekolah pada pertemuan Selasa (3/2).

Tim UPTD bergerak menemui berbagai pihak untuk menggali fakta seputar kematian YBR. Serangkaian pertemuan dilakukan bersama keluarga korban, masyarakat sekitar, serta guru dan kepala sekolah yang selama ini mendampingi proses pendidikan YBR.

Upaya klarifikasi juga dilakukan terhadap isu potensi ancaman pengusiran akibat keterlambatan pembayaran. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa tidak ada bentuk ancaman semacam itu.

Baca Juga: Polda Metro Jaya Tangkap 105 Pelaku Tawuran Selama Januari 2026

Sekolah hanya memberikan informasi yang harus diteruskan murid kepada orang tua masing-masing mengenai kewajiban cicilan. Pengumpulan para siswa dilakukan setiap hari setelah jam pulang sekolah untuk penyampaian pengingat tersebut.

“Itu yang kami kroscek ke sekolah apakah ada, misalnya kita ini budaya Flores ini usir (karena) uang sekolah, itu yang kami tanyakan ke pihak sekolah apakah ada begitu. Tetapi jawaban pihak sekolah, itu bersifat informasi,” lanjut Veronika.

“Kumpulkan anak-anak jam pulang sekolah, setiap hari itu dilakukan. Kalau ada, disampaikan kepada orang tua kalau ada uang dicicil karena dia punya itu masih Rp 720 ribu. Dia punya total keuangan itu ada Rp 1.220.000, yang sudah dibayarkan Rp 500 ribu, sisanya Rp 720 ribu,” tambahnya.

x|close