Kredit Tumbuh 15,9 Persen, Laba Bersih BNI Capai Rp20 Triliun pada 2025

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Feb 2026, 12:50
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
img-main
Dokumentasi - Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan (tengah) menyampaikan paparan dalam sebuah kesempatan di Jakarta. (ANTARA/HO-BNI) Dokumentasi - Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan (tengah) menyampaikan paparan dalam sebuah kesempatan di Jakarta. (ANTARA/HO-BNI) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) membukukan pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen secara tahunan (year on year/YoY) yang turut mendorong kenaikan laba bersih konsolidasi menjadi Rp20 triliun sepanjang 2025.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan menyampaikan bahwa kinerja tersebut dicapai di tengah tekanan eksternal, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga.

Menurutnya, perseroan merespons kondisi tersebut dengan memperkuat pendanaan, menerapkan disiplin manajemen risiko, serta mengarahkan ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.

“Pertumbuhan kredit sebesar 15,9 persen secara tahunan (Year on Year/YoY), didukung oleh ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin kuat," kata Putrama.

Ia menjelaskan, pertumbuhan kredit BNI ditopang oleh pendanaan berbasis dana murah atau current account saving account (CASA) yang tumbuh 28,9 persen secara tahunan. Kinerja CASA tersebut didorong oleh pertumbuhan dana giro sebesar 43,8 persen dan tabungan yang meningkat 11,2 persen (yoy), sehingga membantu menjaga efisiensi biaya dana sekaligus likuiditas perseroan.

Baca Juga: BNI Gandeng Siemens Indonesia Sediakan Rp300 Miliar untuk Listrik Nasional

Sementara itu, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan pengelolaan neraca perseroan sepanjang 2025 difokuskan pada keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, serta penguatan permodalan.

“Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global,” kata Paolo.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) BNI tercatat sebesar 20,7 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto sebesar 1,9 persen dan Loan at Risk (LaR) 8,5 persen.

“Itu mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi," kata Paolo.

Selain itu, rasio pencadangan NPL mencapai 205,5 persen dan rasio pencadangan LaR sebesar 46,9 persen. Kondisi tersebut mencerminkan tingkat pencadangan yang kuat dan pruden dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan.

Baca Juga: BNI Bekali UMKM Binaan Pemanfaatan AI untuk Daya Saing Digital dan Ekspor

Dari sisi operasional, BNI mencatat Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,4 triliun pada kuartal IV 2025. Secara kumulatif, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) mencapai Rp40,3 triliun dengan loan yield yang tertekan akibat penurunan suku bunga acuan. Di sisi lain, pendapatan nonbunga tumbuh 5,2 persen secara tahunan menjadi Rp24,6 triliun.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menambahkan bahwa portofolio pembiayaan berkelanjutan perseroan telah mencapai Rp197 triliun atau sekitar 22 persen dari total kredit. BNI juga menerbitkan Sustainability Bond dan Green Bond masing-masing senilai Rp5 triliun sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

“Keberlanjutan telah menjadi bagian dari strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang dan mendukung transisi hijau nasional,” kata dia.

Baca Juga: BNI Bersihkan Sekolah Terdampak Banjir di Aceh Utara, Dukung Pemulihan Pendidikan Pascabencana

Sejalan dengan program prioritas pemerintah dan Astacita, BNI menyatakan berperan aktif mendukung sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, penguatan ekonomi desa, serta sektor riil yang berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja dan pembangunan daerah. Peran tersebut dijalankan melalui pembiayaan terarah, penguatan layanan keuangan, serta pemanfaatan digitalisasi.

Terkait penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) Kementerian Keuangan, BNI menegaskan penyaluran dilakukan ke sektor-sektor produktif dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, antara lain ke sektor pengolahan, perdagangan, konstruksi, pertanian, kehutanan, dan perikanan.

"BNI memposisikan diri tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengakselerasi agenda pembangunan nasional. Sinergi kami dalam berbagai program prioritas pemerintah kami jalankan dengan pendekatan yang pruden, berbasis ekosistem, dan berorientasi pada penguatan fundamental ekonomi jangka panjang," kata Dirut BNI Putrama Wahju Setyawan.

(Sumber: Antara) 

x|close