Ntvnews.id, Taheran - Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref menyatakan negaranya telah melakukan berbagai persiapan menghadapi kemungkinan perang. Pernyataan itu disampaikan menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang memindahkan kapal induknya ke kawasan tersebut.
"Hari ini kita harus siap untuk keadaan perang. Strategi kita adalah kita tidak akan pernah memulai perang, tetapi jika itu dipaksakan, kita akan membela diri," ujar Reza Aref, seperti dikutip kantor berita resmi IRNA dan dilansir dari AFP, Jumat, 30 Januari 2026.
Meski demikian, Aref menegaskan bahwa Iran tetap membuka peluang dialog dengan Washington. Ia menyebut Teheran "siap" untuk bernegosiasi dengan AS, namun menekankan bahwa "kali ini kita menginginkan jaminan", tanpa menjelaskan lebih jauh bentuk jaminan yang dimaksud.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sejumlah "armada" militer AS lainnya tengah berlayar menuju Iran. Pernyataan itu muncul setelah militer AS mengumumkan kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di wilayah Timur Tengah.
Baca Juga: Iran: Setiap Langkah Militer AS Akan Dianggap Tindakan Perang
Di sisi lain, Trump juga menyampaikan harapannya agar Teheran dapat mencapai kesepakatan dengan Washington, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Sementara itu, Pemerintah China turut menyampaikan peringatan terkait potensi intervensi militer yang dipimpin AS terhadap Iran. Beijing menilai langkah tersebut dapat secara gegabah mengguncang stabilitas Asia Barat dan mendorong kawasan itu ke arah konsekuensi yang sulit diprediksi.
Ilustrasi - Aksi unjuk rasa di Iran. ANTARA/Anadolu/as. (Antara)
Mengutip media Iran Press TV, Duta Besar China untuk PBB Fu Cong menyampaikan pandangannya dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Rabu, 28 Januari 2026 waktu setempat. Ia mengatakan situasi seputar Iran kini menjadi perhatian dunia karena meningkatnya ancaman perang serta memanasnya ketegangan regional.
Fu Cong mengingatkan bahwa tindakan militer yang bersifat "gegabah akan memiliki konsekuensi yang mengerikan". Ia juga menekankan bahwa "penggunaan kekerasan tidak dapat menyelesaikan masalah. Setiap tindakan petualangan militer hanya akan mendorong kawasan ini ke jurang".
Arsip Foto - Rabu, 8 Januari 2020 Bendera Iran yang berada di markas besar PBB di New York, AS. ((Antara) )