SBY Khawatir Situasi Geopolitik Dunia Saat Ini Mirip Jelang Perang Dunia I dan II

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Jan 2026, 15:58
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi Perang Dunia Ilustrasi Perang Dunia (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kekhawatiran serius terhadap perkembangan situasi global yang dinilainya semakin mengarah pada potensi terjadinya konflik besar dunia, termasuk kemungkinan pecahnya Perang Dunia Ketiga.

Dalam pandangannya, dinamika geopolitik global dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. SBY mengaku terus mengikuti perkembangan dunia selama tiga tahun terakhir dan merasa cemas melihat eskalasi konflik internasional yang kian meningkat.

“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini,” ujarnya.

SBY menuturkan, sebagai seseorang yang telah puluhan tahun mempelajari geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dunia, ia merasakan kekhawatiran mendalam terhadap arah perkembangan global saat ini.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” katanya.

Menurut SBY, kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga bukanlah hal yang mustahil. Ia menilai kondisi dunia saat ini memiliki banyak kesamaan dengan situasi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua, mulai dari kemunculan pemimpin-pemimpin kuat yang cenderung agresif, terbentuknya blok-blok persekutuan negara, hingga perlombaan pembangunan kekuatan militer dan mesin perang.

Baca Juga: Warga Jetis Yogyakarta Temukan Mortir Diduga Peninggalan Perang Dunia II

“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit,” ucapnya.

Ia juga menyoroti catatan sejarah yang menunjukkan bahwa tanda-tanda perang besar kerap sudah terlihat jauh hari sebelumnya, namun sering kali tidak diiringi dengan kesadaran dan langkah nyata untuk mencegahnya.

“Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?” tutur SBY.

Lebih lanjut, SBY mengingatkan dampak kehancuran yang akan terjadi jika perang dunia, terlebih perang nuklir, benar-benar pecah. Ia menyebut berbagai kajian menunjukkan korban jiwa bisa mencapai miliaran manusia dan berujung pada musnahnya peradaban.

“Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” ujarnya.

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono menyaksikan langsung perjuangan ganda putra Indonesia di Olimpiade Paris 2024 <b>(NOC Indonesia)</b> Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono menyaksikan langsung perjuangan ganda putra Indonesia di Olimpiade Paris 2024 (NOC Indonesia)

Meski mengaku berdoa agar bencana tersebut tidak terjadi, SBY menekankan bahwa doa saja tidak cukup tanpa upaya nyata dari umat manusia dan negara-negara di dunia.

“Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya,” katanya.

SBY menilai masih ada ruang, meskipun sempit, untuk mencegah kehancuran global. Ia mengajak masyarakat dunia dan para pemimpin internasional untuk tidak berdiam diri.

“Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, SBY juga mengutip pandangan Edmund Burke dan Albert Einstein mengenai bahaya sikap diam orang-orang baik terhadap kejahatan.

“Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang,” ujarnya.

Baca Juga: 240 Jurnalis Tewas di Gaza, Lampaui Jumlah Perang Dunia

Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif menggelar sidang darurat Majelis Umum PBB dengan melibatkan para pemimpin dunia untuk membahas upaya pencegahan krisis global berskala besar.

“Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly),” katanya.

Ia mengakui bahwa saat ini PBB berada dalam kondisi yang tidak berdaya, namun tetap menilai organisasi dunia tersebut tidak boleh tinggal diam.

“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” ujar SBY.

SBY menutup pernyataannya dengan harapan bahwa seruan tersebut dapat menjadi awal dari tumbuhnya kesadaran global untuk mencegah kehancuran dunia.

“Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu ‘bagai berseru di padang pasir’. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way," tutupnya. 

x|close