Detik-detik Kebakaran Horor di Resor Mewah Swiss, Terjadi dalam Hitungan Detik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jan 2026, 15:45
thumbnail-author
Satria Angkasa
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Orang-orang meninggalkan bunga di luar bar pada hari Kamis. Foto: Denis Balibouse/Reuters Orang-orang meninggalkan bunga di luar bar pada hari Kamis. Foto: Denis Balibouse/Reuters (Reuters)

Ntvnews.id, Swiss - Perayaan Tahun Baru di bar Le Constellation, resor ski Crans-Montana di Pegunungan Alpen Swiss, berubah menjadi tragedi memilukan setelah kebakaran hebat melanda tempat hiburan tersebut hanya dalam hitungan detik pada Kamis dini hari, 1 Januari 2025.

Saat tahun baru baru saja memasuki jam pertamanya, pesta di Le Constellation tengah berlangsung meriah. Musik hip-hop berdentum, para pengunjung, kebanyakan remaja dan dewasa muda, memenuhi lantai dansa dan belum berniat meninggalkan bar di hari pertama Tahun Baru.

Di luar, Crans-Montana yang dikenal sebagai resor ski mewah diselimuti kegelapan. Namun Le Constellation tampil sederhana: lantai atas dengan layar televisi untuk menonton olahraga, serta ruang bawah tanah dengan pencahayaan redup, musik keras, dan lantai dansa.

Tempat tersebut dikenal ramai dikunjungi kalangan muda, termasuk pengunjung di bawah usia 18 tahun, mayoritas berasal dari Swiss dan negara-negara Eropa daratan. Ratusan orang memadati bar itu untuk menyambut 2026. Banyak di antaranya tidak sempat melihat matahari terbit.

Penyebab pasti kebakaran yang terjadi sekitar pukul 01.30 dini hari masih dalam penyelidikan pihak berwenang. Dilansir dari The Guardian, Jumat, 2 Desember 2025, dua saksi menyebut seorang bartender mengangkat seorang pegawai perempuan di atas bahunya. Pegawai tersebut memegang botol sampanye besar yang terdapat kembang api atau suar menyala, didekatkan ke langit-langit kayu di atas area bar.

Sebuah foto yang beredar di media sosial, meski belum terverifikasi, memperlihatkan api putih keluar dari botol sampanye ukuran magnum. Spekulasi lain menyebut bara arang untuk pipa shisha mungkin tumpah.

Baca Juga: Kebakaran Bar di Resor Ski Mewah Swiss, 40 Tewas dan 115 Terluka

Apa pun sumbernya, api dengan cepat menjalar di langit-langit ruang bawah tanah. Video di media sosial yang juga belum terverifikasi menunjukkan pengunjung berlarian meninggalkan lokasi dengan latar api yang membesar, sementara musik masih terus diputar. Seorang saksi mengatakan beberapa orang mencoba memadamkan api dengan sweater.

Kebakaran itu kemudian berubah menjadi apa yang disebut otoritas Swiss sebagai embrasement généralisé, yakni kondisi saat gas mudah terbakar dilepaskan dan menyala secara eksplosif, memicu fenomena yang dikenal sebagai flashover atau backdraft.

Le Constellation pun berubah menjadi lautan api.

“Seluruh langit-langit terbakar dan api menyebar sangat cepat. Itu terjadi dalam hitungan detik,” kata dua korban selamat yang diidentifikasi sebagai Emma dan Albane kepada jaringan televisi Prancis BFMTV.

Cepatnya kobaran api membuat sebagian orang mengira telah terjadi ledakan. Jeritan dan tangisan memenuhi ruang bawah tanah ketika pengunjung berusaha menyelamatkan diri. Banyak orang berdesakan menuju pintu yang mengarah ke tangga sempit, sementara yang lain memecahkan jendela yang menghitam dan menjadi buram akibat panas.

Axel Clavier (16), warga Paris, mengatakan dirinya merasa seperti kehabisan napas. Dengan menggunakan meja, ia mendorong panel plexiglass hingga terlepas agar bisa keluar dari situasi yang ia gambarkan sebagai “kekacauan total”, katany.

Dari luar gedung, warga bergegas membantu korban.

“Saya pikir adik laki-laki saya ada di dalam, jadi saya datang dan mencoba memecahkan jendela untuk membantu orang keluar,” kata seorang pria.

Ia mengaku melihat orang-orang “terbakar dari kepala sampai kaki, tanpa pakaian lagi”.

Baca Juga: 15 Jasad Korban Kebakaran Panti Jompo Manado Tidak Dapat Dikenali

Sejumlah saksi menyamakan kejadian tersebut dengan adegan film horor. Dominic Dubois menggambarkan pemandangan mengerikan ketika api melalap bangunan.

“Anda bisa melihat warna oranye, oranye, kuning, merah,” katanya kepada Reuters.

Polisi tiba di lokasi pada pukul 01.32 dini hari, hanya dua menit setelah laporan pertama tentang asap masuk.

Warga dan petugas tanggap darurat bekerja bersama menarik korban dari suhu panas seperti oven menuju udara dingin di luar, kata Dubois.

“Salah satu prioritas adalah menghangatkan semua orang... tirai restoran digunakan," katanya.

Sebuah kantor cabang bank UBS dibuka sebagai tempat perlindungan sementara. “Semua meja disingkirkan dan orang-orang masuk. Di sana hangat dan lebih terang, sehingga triase dilakukan di sana,” katanya.

Sepanjang malam, iring-iringan mobil pemadam kebakaran, kendaraan polisi, dan sekitar 40 ambulans melaju menuju Crans-Montana, kawasan indah bersalju yang berubah menjadi lokasi salah satu bencana terburuk dalam sejarah modern Swiss. Sekitar 10 helikopter turut dikerahkan.

Seiring tersebarnya kabar tragedi, orang tua dan kerabat para pengunjung mulai berdatangan ke lokasi.

Petugas penyelamat dan pemadam kebakaran berada di dekat lokasi kebakaran pada Kamis dini hari. Foto: Police Cantonale Valaisanne/AP <b>(The Guardian)</b> Petugas penyelamat dan pemadam kebakaran berada di dekat lokasi kebakaran pada Kamis dini hari. Foto: Police Cantonale Valaisanne/AP (The Guardian)

“Ada orang-orang berteriak, lalu orang-orang tergeletak di tanah, mungkin sudah meninggal,” kata Samuel Rapp (21), warga setempat.

“Wajah mereka ditutupi jaket," katanya.

Ia juga mengatakan melihat video yang menunjukkan pengunjung saling menginjak saat berusaha melarikan diri.

“Orang-orang berteriak, ‘Tolong saya, tolong kami’," tambahnya.

Puluhan korban luka, banyak di antaranya dalam kondisi serius, segera memenuhi rumah sakit di Kanton Valais. Lebih dari selusin korban dirujuk ke Rumah Sakit Universitas Zurich yang berjarak sekitar 240 kilometer. Rumah sakit di Lausanne yang merawat 22 pasien menyebut usia korban berkisar antara 16 hingga 26 tahun. Rumah sakit di negara tetangga juga diperkirakan menerima korban.

Sebanyak sekitar 40 orang dilaporkan meninggal dunia dan 115 orang lainnya luka-luka, kata Komandan Polisi Kanton Valais Frédéric Gisler dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa komunitas setempat sangat terpukul, tanpa merinci usia maupun kewarganegaraan para korban.

Menjelang pukul 13.00 waktu setempat, matahari bersinar terang di pusat Crans-Montana, menciptakan kontras mencolok: dekorasi Natal dan poster pesta Tahun Baru berdampingan dengan kendaraan darurat dan warga yang terdiam.

Baca Juga: Jasad 15 Korban Kebakaran Panti Werdha Damai Manado tak Dapat Dikenali

Presiden Swiss Guy Parmelin mengunjungi lokasi kejadian, tempat tim forensik bekerja di balik layar putih. Ia mengatakan masih banyak keluarga menunggu kabar tentang orang-orang terkasih mereka.

“Sebagian belum mengetahui apakah anak-anak mereka telah meninggal.”

Parmelin menyatakan Swiss akan mengibarkan bendera setengah tiang selama lima hari. “Apa yang seharusnya menjadi momen kegembiraan telah mengubah hari pertama tahun ini di Crans-Montana menjadi hari berkabung yang dirasakan oleh seluruh negeri dan bahkan di luar,” ujarnya. Ia menambahkan banyak korban adalah kaum muda dengan “rencana, harapan, dan mimpi”.

Jaksa Agung Kanton Valais Beatrice Pilloud menepis kemungkinan pembakaran atau terorisme.

“Tidak pernah ada pertanyaan tentang serangan dalam bentuk apa pun,” katanya kepada wartawan.

Menanggapi pertanyaan soal pintu darurat, ia menyebut masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Hingga kini belum ada penangkapan maupun tersangka.

Saat malam kembali menyelimuti Crans-Montana pada Kamis, bayangan Pegunungan Matterhorn menghilang, digantikan rasa syok dan ketidakpercayaan.

Le Constellation dikenal sebagai bar legendaris yang lebih banyak melayani warga lokal ketimbang wisatawan. Tidak seperti banyak bar dan klub lain, tempat itu kerap tidak memungut biaya masuk sehingga menarik banyak anak muda.

Puluhan remaja setempat, beberapa di antaranya menangis, berkumpul di dekat garis polisi dan meletakkan bunga. Aksi spontan itu juga dihadiri Milica Lazic, yang mengaku belum mendapat kabar tentang seorang temannya yang bekerja di bar tersebut.

Sementara itu, wisatawan tetap berbelanja, bermain ski, dan makan di restoran.

“Saya tidak berpikir itu berarti mereka tidak peduli, tetapi mereka tidak mengenal siapa pun yang terlibat,” kata Ernesto Perila (56), pemilik kafe.

“Hidup terus berjalan, dunia tetap berputar. Saya tidak menilai siapa pun secara negatif karena itu," tambahnya.

Di tengah udara dingin, tim forensik yang tertutup layar terus melanjutkan penyelidikan di lokasi kejadian. 

x|close