Ntvnews.id, Jakarta - Terapis olahraga kini semakin diakui sebagai elemen penting dalam pembinaan prestasi atlet di Indonesia. Ketua Umum Persatuan Terapis Olahraga Indonesia (PTOI) Jakarta, Drs. Firmansyah, M.Pd, menegaskan bahwa profesi terapis olahraga tidak lagi dapat disamakan dengan jasa pijat atau massage tradisional, melainkan merupakan disiplin keilmuan berbasis olahraga yang memiliki peran vital dalam menjaga performa atlet.
Firmansyah menjelaskan, terapis olahraga merupakan bagian integral dari proses pembinaan atlet mulai dari masa latihan hingga turun ke arena kompetisi. “Terapi olahraga ini merupakan bagian dari satu kesatuan proses menuju prestasi. Dari mulai latihan sampai kompetisi, kami menjadi bagian terdekat dalam proses tersebut,” ujarnya, Sabtu, 30 November 2025.
Baca Juga: Paser Lepas 353 Kontingen untuk POPDA, Disporapar Beri Semangat Juang Atlet Muda
Menurut Firmansyah, salah satu fokus utama terapi olahraga adalah pemulihan (recovery) setelah aktivitas fisik intensif. Atlet, terutama yang berlatih dalam intensitas tinggi, membutuhkan penanganan dengan pendekatan ilmiah agar performanya dapat bertahan dan berkembang.
“Untuk mencapai performa yang maksimal dan terlindungi, perlu penanganan penting terkait faal dan anatominya, terutama berkaitan dengan cedera,” jelasnya. Cedera olahraga memiliki karakteristik yang berbeda dari cedera akibat kecelakaan sehari-hari, sehingga pemulihan tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Terapis olahraga berperan menjaga kondisi tubuh atlet sebagai aset utama yang harus dilindungi. Melalui teknik-teknik terapi berbasis ilmu faal, anatomi, dan pemahaman mekanisme gerak, mereka membantu meminimalkan risiko cedera sekaligus menjaga stabilitas performa sebelum atlet kembali ke arena.
Firmansyah menegaskan, terapi olahraga tidak sama dengan massage tradisional yang umum dikenal masyarakat. Perbedaan paling mendasar terletak pada latar belakang keilmuan.
“Terapis olahraga minimal memiliki pendidikan sarjana olahraga, memahami mekanisme tubuh, teknik olahraga, dan tahu bagaimana menangani cedera akibat kesalahan gerak,” katanya.
Dengan dasar keilmuan tersebut, terapis olahraga mampu menganalisis penyebab cedera secara spesifik dan memberikan intervensi yang terukur. Inilah yang membedakan mereka dari masseur tradisional yang tidak memiliki kualifikasi akademik dan pemahaman anatomi secara mendalam.
PTOI mencatat, minat terhadap profesi terapi olahraga meningkat, terutama dari kalangan mahasiswa dan praktisi olahraga yang tidak mengambil jalur pelatih. Menurut Firmansyah, profesi ini memiliki prospek yang menjanjikan mengingat setiap cabang olahraga membutuhkan tenaga ahli untuk mendukung performa atlet.
Lebih jauh, kata dia, terapi olahraga juga tidak terbatas pada dunia atlet. “Cedera olahraga bisa dialami siapa saja, bukan hanya atlet. Masyarakat umum yang aktif berolahraga juga dapat memanfaatkan layanan ini,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa terapi olahraga memiliki fungsi yang lebih luas sebagai layanan kesehatan berbasis aktivitas fisik, sekaligus membuka peluang besar bagi tenaga profesional di bidang ini.
Untuk memastikan kualitas layanan, PTOI tengah menyiapkan program sertifikasi dan uji kompetensi berjenjang bagi terapis olahraga. Proses penilaian akan melibatkan praktisi senior yang telah berpengalaman lama dalam dunia terapi olahraga.
“Uji kompetensinya dilakukan secara ber-level, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. Tujuannya agar profesi ini lebih profesional dan memiliki standar yang jelas,” kata Firmansyah.
Adanya sertifikasi resmi diharapkan dapat memperkuat legitimasi profesi terapis olahraga dan memberikan kepastian kompetensi bagi lembaga pembinaan olahraga, klub, maupun pengguna layanan dari masyarakat umum.
Dengan semakin ketatnya persaingan olahraga di tingkat nasional maupun internasional, peran terapis olahraga dinilai akan semakin strategis. Mereka tidak hanya menjaga tubuh atlet tetap dalam kondisi optimal, tetapi juga berkontribusi dalam pencegahan cedera jangka panjang yang kerap menghambat karir atlet.
PTOI mendorong agar profesi ini lebih dikenal dan diakui secara formal, mengingat kualitas pemulihan dan kesehatan atlet sangat menentukan perjalanan prestasi mereka.
“Kami ada untuk merawat para pelaku olahraga, supaya bisa mendapatkan prestasi maksimal,” tegas Firmansyah.
Firmansyah mendorong standarisasi dan uji kompetensi profesi terapis olahraga.