Ntvnews.id, Taipei - Otoritas Taiwan merilis panduan krisis yang berisi langkah-langkah menghadapi ancaman bencana alam maupun kemungkinan invasi China. Panduan tersebut diterbitkan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Beijing.
Dilansir dari AFP, Sabtu, 22 November 2025, panduan ini didistribusikan ke jutaan rumah di seluruh wilayah Taiwan. Isi booklet tersebut memberikan penjelasan mengenai cara menghadapi situasi darurat jika terjadi serangan udara maupun bencana alam berskala besar.
Pemerintah Taipei mulai mengirimkan booklet berwarna oranye setebal 32 halaman itu dengan cara memasukkannya ke bawah pintu rumah dan ke dalam kotak surat warga sepanjang pekan ini. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi ancaman yang mungkin muncul.
Para pengkritik menilai buku panduan krisis tersebut sebagai pemborosan anggaran publik. Namun, panduan berjudul 'Jika Terjadi Krisis' itu merupakan bagian dari upaya Presiden Taiwan, Lai Ching-te, untuk mempersiapkan 23 juta penduduk Taiwan menghadapi kemungkinan bencana maupun konflik.
Baca Juga: Kasus Kematian Influencer Taiwan, Rapper Malaysia Namewee Ditahan
Panduan itu memberikan berbagai petunjuk mulai dari cara menyiapkan tas darurat, tindakan yang harus dilakukan ketika sirene serangan udara terdengar, hingga panduan pertolongan pertama.
Panduan tersebut juga memperingatkan masyarakat terkait "pasukan asing yang bermusuhan" yang bisa menyebarkan disinformasi untuk melemahkan tekad rakyat Taiwan dalam mempertahankan diri apabila terjadi serangan dari China.
"Jika terjadi invasi militer ke Taiwan, klaim apa pun bahwa pemerintah telah menyerah atau bahwa negara telah dikalahkan adalah salah," demikian bunyi pernyataan dalam panduan tersebut.
Panduan krisis versi cetak terbaru ini menjadi edisi pertama yang secara langsung didistribusikan ke publik dalam bentuk fisik, setelah sebelumnya hanya diterbitkan secara daring.
Peta Taiwan dan China (VOA)
Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa "salinan cetak memastikan bahwa para lansia di area-area pedesaan atau siapa pun yang tidak memiliki akses ke perangkat digital tetap dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan."
Sejumlah warga Taiwan menyambut baik distribusi panduan krisis ini, meskipun mereka berharap tidak pernah harus menggunakannya.
Seorang warga Taipei berusia 31 tahun, Jay Tsai, mengatakan kepada AFP, "Saya berharap kita tidak akan pernah membutuhkannya, tetapi rasanya melegakan untuk memilikinya."
Baca Juga: Topan Ragasa Terjang China, 17 Tewas di Taiwan dan Puluhan Warga Hilang
Tokoh masyarakat Chi Chien-han, berusia 43 tahun, menambahkan, "Saya pikir ini cukup membantu. Ini mengingatkan kita untuk tetap waspada daripada bersikap seolah-olah tidak ada yang penting."
Namun kritik tetap bermunculan. Chiang Chu-hsuan, seorang pemimpin komunitas berusia 60 tahun, menyebut panduan tersebut sebagai "pemborosan uang" dan menilai Presiden Lai seharusnya fokus mencegah terjadinya perang.
Seorang legislator oposisi Kuomintang, Yeh Yuan-chih, juga mempertanyakan anggaran percetakan dan pengiriman booklet tersebut.
China terus menegaskan bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah kedaulatannya. Pada Oktober 2025, Beijing kembali menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk “penyatuan kembali”.
Sepanjang tahun ini, China telah beberapa kali menggelar latihan militer besar di sekitar Taiwan, yang kemudian dibalas dengan latihan militer oleh Taiwan.
China Taiwan (Istimewa)