Ntvnews.id, Paris - Pemerintah Prancis menyatakan kesiapannya membantu Arab Saudi melindungi infrastruktur energi di tengah meningkatnya ancaman keamanan di kawasan Timur Tengah. Bantuan tersebut akan dilakukan dengan pendekatan yang “sepenuhnya defensif”, terutama untuk mengamankan fasilitas energi strategis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis menegaskan dukungan Paris kepada Riyadh setelah serangkaian serangan menyasar wilayah Arab Saudi.
“Kami menyampaikan solidaritas penuh kepada Arab Saudi dalam menghadapi serangan-serangan ini,” kata juru bicara tersebut, dikutip dari TRT World, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Prancis juga membuka peluang untuk terlibat dalam upaya pengamanan fasilitas energi, khususnya di Yanbu dan jalur pipa minyak East-West yang menjadi bagian penting dari infrastruktur energi Arab Saudi.
“Kami bersedia berpartisipasi, dengan cara yang sepenuhnya defensif, dalam perlindungan infrastruktur energi, khususnya fasilitas Yanbu dan jalur pipa East-West di Arab Saudi,” ujarnya, dikutip dari TRT World.
Pernyataan Paris tersebut disampaikan setelah kelompok pemberontak Houthi di Yaman pada Senin memperingatkan maskapai penerbangan bahwa wilayah udara Arab Saudi berpotensi menjadi arena operasi militer.
Baca Juga: Macron Tetap Bangga, Apresiasi Perjuangan Prancis Usai Gagal ke Final Piala Dunia 2026
Situasi keamanan semakin menjadi perhatian setelah Arab Saudi melaporkan tiga orang tewas akibat serangan yang menyasar sejumlah bandar udara pada Rabu, 7 Oktober 2026. Salah satu lokasi yang terdampak berada di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.
Pemerintah Prancis mengecam serangan yang dilakukan kelompok Houthi dan mendesak agar aksi tersebut dihentikan.
“Kami telah mengutuk dengan sangat tegas seluruh serangan Houthi ini, yang harus dihentikan, khususnya serangan terbaru yang Anda sebutkan kemarin,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis.
Selain perkembangan keamanan di Arab Saudi, Paris juga menyoroti pentingnya memulihkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Prancis menilai kelancaran lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut merupakan kepentingan bersama masyarakat internasional.
“Kami, masyarakat internasional, memiliki kepentingan bersama untuk menegakkan hukum internasional secara ketat demi memulihkan arus lalu lintas maritim di Selat Hormuz,” kata juru bicara tersebut.
Prancis turut terlibat dalam operasi keamanan maritim Aspides yang dijalankan Uni Eropa di kawasan tersebut. Meski demikian, pemerintah Prancis belum mengungkapkan secara terperinci aset militer yang dikerahkan dalam operasi itu.
Juru bicara tersebut menjelaskan bahwa Prancis telah mendukung misi Aspides sejak diluncurkan pada Februari 2024. Paris berkomitmen melanjutkan dukungannya, termasuk mempertimbangkan penyesuaian operasi sesuai dengan perkembangan situasi keamanan regional.
Presiden Prancis Emmanuel Macron. ANTARA/Xinhua/Gao Jing/am. (Antara)