Ntvnews.id, Jakarta - Di tengah pekatnya keterbatasan akses pendidikan dan kontras stigma sosial, Sr. Klara Duha hadir membawa secercah harapan baru bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
Biarawati ini mendedikasikan penuh hidupnya untuk merangkul dan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus asal Nias agar mendapatkan hak pendidikan, kasih sayang, serta masa depan yang layak.
Bagi Sr. Klara, merawat anak-anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab moral. Ia berjuang mendobrak dinding diskriminasi guna membangun keyakinan bahwa setiap anak, tanpa memandang keterbatasan fisik maupun mental, memiliki martabat mulia dan potensi yang setara untuk berkembang.
Kondisi lapangan memang tidak mudah. Minimnya fasilitas penunjang, keterbatasan sumber daya, tekanan ekonomi keluarga, hingga pengucilan oleh masyarakat kerap membuat anak-anak istimewa ini tersisih dari ruang publik.
Realitas pahit inilah yang mendorong Sr. Klara mendirikan Yayasan Karya Berkat Faomasi agar menjadi tempat bernaung anak-anak berkebutuhan khusus.
"Setiap anak memiliki potensi. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan orang-orang yang percaya pada kemampuan mereka. Sudah seharusnya setiap orang melayani Tuhan dalam diri sesama yang menderita," kata Sr. Klara Duha, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dalam menjalankan misi kemanusiaan itu, Sr. Klara berfokus pada tiga pilar utama: pengasahan kemampuan, pembentukan kemandirian, dan pemulihan rasa percaya diri.
Dengan pendekatan berbasis kasih dan penerimaan penuh, pelayanannya perlahan membuahkan hasil nyata. Anak-anak yang dahulunya dipandang sebelah mata kini mulai menunjukkan keunikan bakatnya masing-masing.
Mereka diajarkan keterampilan hidup praktis agar bisa mandiri, berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sosial, dan berani menatap masa depan.
Dampak positif ini dirasakan langsung oleh pihak keluarga. Dukungan konsisten dari Sr. Klara membuat para orang tua tidak lagi merasa berjuang sendirian dalam menghadapi tantangan berat membesarkan anak dengan kebutuhan khusus.
Baca Juga: Wamentrans: Model Pembangunan China Jadi Inspirasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi RI
Pergerakan ini membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan aksi nyata dalam membuka akses dan menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua.
Langkah nyata Sr. Klara dari Nias ini sekaligus menjadi tamparan sekaligus ajakan terbuka bagi masyarakat luas.
Ia mengingatkan bahwa ABK bukan objek belas kasihan yang pasif, melainkan individu berdaulat yang memiliki impian dan hak mutlak untuk menentukan jalan hidupnya.
Menutup dedikasinya, Sr. Klara membawa pesan sederhana namun mendalam: tidak boleh ada satu pun anak yang kehilangan harapan hanya karena terlahir dengan kebutuhan khusus.
Perjuangan memanusiakan manusia ini membutuhkan sinergi kokoh antara keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah, hingga organisasi kemanusiaan. Selama kepedulian kolektif itu terus dirawat, api harapan bagi anak-anak Nias akan tetap menyala.
Biarawati dari Nias, Sr. Klara Duha (tengah).