Industri Obat dan Makanan RI Sumbang Rp10 Ribu T Per Tahun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Okt 2026, 20:30
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan upaya pihaknya dalam mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis saat sesi wawancara cegat di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (8/10/2026). Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan upaya pihaknya dalam mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis saat sesi wawancara cegat di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis (8/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta  -Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkapkan bahwa industri obat dan makanan di Indonesia menyimpan potensi kontribusi ekonomi yang sangat masif, yakni mencapai sekitar Rp10.000 triliun setiap tahunnya, seiring dengan tingginya jumlah pelaku usaha yang menggerakkan sektor ini.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, memaparkan bahwa lanskap industri farmasi dan pangan di Tanah Air saat ini ditopang oleh sekitar 45.000 perusahaan skala besar serta 4,2 juta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Ada yang revenue ratusan juta per tahun, ada yang untung ratusan miliar, bahkan ada triliunan hingga ratusan triliun. Kalau digabung semuanya dari 4,3 juta pelaku usaha tentu angka Rp10 ribu triliun itu bukan khayalan," ujarnya saat ditemui seusai mengisi kuliah umum di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada hari Kamis, 8 Oktober 2026.

Ikrar menuturkan bahwa peran BPOM tidak sebatas menjalankan fungsi pengawasan terhadap aspek keamanan dan mutu produk obat serta makanan saja, tetapi turut memegang peranan strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan catatan lembaga, jumlah UMKM pangan olahan yang telah mengantongi izin edar BPOM saat ini meliputi lebih dari 2.900 usaha menengah, 4.600 usaha kecil, dan 7.900 usaha mikro.
 

Lebih lanjut, ia merinci bahwa estimasi kontribusi sektor obat dan makanan yang menyentuh angka Rp10.000 triliun (atau setara dengan 558,32 miliar dolar Amerika Serikat) tersebut merepresentasikan sekitar 35 hingga 40 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang berada di kisaran Rp23.000 triliun.

Melihat ekosistem industri yang begitu luas, BPOM berkomitmen untuk terus mempercepat proses layanan regulasi dan perizinan guna memfasilitasi para pelaku usaha dalam menggenjot kapasitas produksi mereka.

"Kami berkomitmen untuk melakukan transformasi memberi dukungan, bukan hanya dari riset development, bukan hanya dari edukasi, tapi termasuk hilirisasi," kata Ikrar.

Ia juga menegaskan bahwa optimalisasi sektor obat dan makanan memegang andil penting dalam upaya mewujudkan target ambisius pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, yang diharapkan mampu membawa Indonesia keluar dari jerat negara berpendapatan menengah (middle-income trap) menuju visi negara maju.
 

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, BPOM terus menggalakkan strategi proaktif dalam mempercepat perizinan agar pelaku usaha dapat leluasa memenuhi ketentuan regulasi, memasarkan produk secara legal, serta meningkatkan skala bisnis mereka dari tingkat mikro menjadi kecil.

"Strategi kami turun gunung untuk mendukung Presiden Prabowo, mendukung pemerintah, untuk keluar dari negara berpenghasilan menengah menjadi negara maju," pungkas Ikrar.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close