Ntvnews.id, Kupang - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena turun langsung ke tiga wilayah yang terdampak gempa berkekuatan M7,7 di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi sekaligus mengecek penyaluran bantuan dan proses pendataan kerusakan.
Gubernur NTT yang akrab disapa Melki mengatakan penanganan terhadap masyarakat Riung sempat terkendala karena listrik dan jaringan komunikasi mengalami gangguan setelah gempa.
"Perhatian terhadap Riung sempat terputus karena sejak awal listrik dan sinyal juga putus. Tetapi kita sekarang berada dalam tahap tanggap darurat dan kita akan usahakan dengan berbagai cara agar kebutuhan masyarakat bisa kita penuhi," kata Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dalam keterangan resmi yang diterima di Kupang, Minggu, 23 Agustus 2026.
Saat ini, Melki berkantor sementara di Pulau Flores. Langkah tersebut dilakukan agar dirinya dapat memantau secara langsung kondisi warga sekaligus memastikan penanganan bencana di sejumlah daerah terdampak berjalan sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Gubernur NTT ke Warga NTB dan Bali: Atas Nama Rakyat, Kami Ucapkan Terima Kasih
Ia menerima laporan mengenai kondisi Riung yang membutuhkan koordinasi langsung. Sejumlah kendala juga muncul pada tahap awal penanganan bencana akibat gempa bumi tersebut.
Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Melki mendatangi sejumlah lokasi terdampak. Dalam kunjungan itu, ia membawa bantuan berupa beras, bahan kebutuhan pokok, bantal, serta selimut untuk warga yang masih berada di pengungsian.
Tiga wilayah yang dikunjungi meliputi Desa Ta'do, Bekek, dan Lengkosambi Barat. Di setiap lokasi, Melki melihat kondisi masyarakat serta berdialog dengan warga dan pemerintah desa untuk mengetahui kebutuhan yang masih diperlukan.
Di Desa Ta'do, warga masih diminta bertahan di tempat pengungsian sampai situasi dinilai aman untuk kembali ke rumah.
Baca Juga: Wamendagri dan Gubernur NTT Resmikan Portal Sasando, Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Data
Sementara itu, Bekek menjadi salah satu wilayah dengan dampak cukup besar. Melki meninjau posko pengungsian yang dibangun oleh pihak kepolisian di halaman Gereja St. Petrus dan Paulus.
Kondisi berbeda ditemukan di Lengkosambi Barat. Melki mendapat informasi bahwa sejumlah warga memilih mengungsi ke daerah pegunungan. Penanganan di wilayah tersebut juga menghadapi kendala akibat listrik dan jaringan komunikasi yang sempat terputus.
Dalam pertemuan dengan warga, kebutuhan makanan dan minuman disebut masih relatif mencukupi. Namun, masyarakat mengeluhkan keterbatasan tempat tidur untuk beristirahat pada malam hari serta akses terhadap layanan pengobatan.
Melki menyatakan pemerintah akan terus memenuhi kebutuhan masyarakat selama status tanggap darurat berlangsung. Ia juga meminta pemerintah kabupaten dan pemerintah desa memastikan bantuan yang diterima dapat disalurkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.
"Pemerintah kabupaten sampai desa harus memastikan distribusi bantuan berjalan dengan baik, sehingga masyarakat yang membutuhkan benar-benar mendapat bantuan," ujarnya.
Selain penyaluran bantuan, Melki meminta proses pendataan kerusakan dimulai sejak masa tanggap darurat. Menurut dia, data tersebut dibutuhkan untuk menentukan langkah rehabilitasi dan rekonstruksi setelah masa darurat berakhir.
Ia menyebut data kerusakan masih dapat berubah karena gempa susulan masih terjadi. Meski demikian, pemerintah tetap harus mulai mengumpulkan data kerusakan rumah dan fasilitas umum.
"Mulai sekarang harus didata, meskipun datanya masih akan dinamis karena masih ada gempa susulan. Rumah masyarakat harus didata, termasuk sarana dan prasarana publik lainnya seperti kantor, pustu, jembatan, dan fasilitas umum lainnya," katanya.
Melki menjelaskan bahwa penanganan setelah masa tanggap darurat akan berlanjut ke tahap perbaikan dan pemulihan. Pemerintah juga menyiapkan bantuan untuk rumah warga berdasarkan kategori tingkat kerusakan.
Untuk rumah dengan kerusakan ringan, bantuan yang disiapkan sekitar Rp15 juta. Kerusakan sedang mendapat bantuan sekitar Rp30 juta, sedangkan rumah dengan kerusakan berat memperoleh sekitar Rp70 juta.
“Setelah masa tanggap darurat, kita akan masuk ke tahap perbaikan. Karena itu pendataan harus dimulai dari sekarang,” ujarnya.
Menurut Melki, tugas pemerintah tidak berhenti setelah masa tanggap darurat selesai. Tahapan berikutnya mencakup rehabilitasi dan rekonstruksi untuk memulihkan kondisi masyarakat serta fasilitas publik yang terdampak gempa.
Pemerintah Provinsi NTT juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan pemerintah pusat dalam menangani dampak bencana di wilayah Flores.
Melki menegaskan pemerintah provinsi akan memastikan dukungan dari pemerintah pusat dapat diteruskan hingga ke daerah dan masyarakat terdampak.
“Dengan komitmen kita bersama, saya pastikan tugas saya adalah memastikan seluruh dukungan dari pusat bisa penuh sampai ke daerah," ujarnya.
(Sumber: Antara)
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena membawa langsung bantuan kemanusiaan ke tiga titik terdampak gempa M7,7 di Kecamatan Riung Kabupaten Ngada, pada Sabtu, 22 Agustus 2026. (Antara)