Saat Kapal Berlayar, Harapan Indonesia Ikut Menyeberang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Agu 2026, 18:21
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Adiantoro
Editor
Bagikan
Dokumentasi - Kapal penyeberangan ferry milik PT ASDP sedang berlabuh. ANTARA/HO-ASDP Dokumentasi - Kapal penyeberangan ferry milik PT ASDP sedang berlabuh. ANTARA/HO-ASDP (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pagi baru saja membuka mata ketika aktivitas di pelabuhan mulai menggeliat. Suara mesin kendaraan terdengar bersahutan dengan pengumuman petugas yang mengatur arus penumpang dan kendaraan.

Di antara deretan mobil pribadi, bus, sepeda motor, dan truk yang menunggu giliran, orang-orang datang membawa tujuan masing-masing. Ada keluarga yang hendak pulang ke kampung halaman, pekerja yang harus mengejar waktu, pengemudi truk yang membawa barang dagangan, hingga masyarakat yang sekadar ingin menuju pulau di seberang untuk menyelesaikan urusan mereka.

Bagi sebagian orang, menyeberang mungkin hanya sebuah perjalanan beberapa jam. Kapal berangkat, laut terbentang, lalu dermaga tujuan perlahan terlihat. Namun bagi jutaan masyarakat Indonesia, perjalanan tersebut jauh lebih berarti. Kapal bukan sekadar sarana transportasi yang membawa manusia dari satu daratan menuju daratan lainnya.

Kapal adalah jalan yang menghubungkan kehidupan. Di atas kapal, ada keluarga yang ingin bertemu, ada barang yang harus sampai ke pasar, ada pekerja yang menggantungkan penghasilannya, dan ada daerah-daerah yang membutuhkan akses agar tidak tertinggal dari denyut pembangunan nasional.

Indonesia memang dikenal sebagai negara kepulauan. Laut membentang luas di antara ribuan pulau, menjadi batas geografis sekaligus ruang yang menyatukan. Di negara seperti Indonesia, konektivitas tidak mungkin hanya dibangun melalui jalan raya, jembatan, dan jalur kereta api. Ada jarak yang hanya dapat ditempuh dengan kapal. Ada masyarakat yang kehidupannya sangat bergantung pada keberadaan pelabuhan dan lintasan penyeberangan. Di sanalah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar operator kapal.

ASDP berada di tengah perjalanan panjang Indonesia untuk memastikan laut tidak menjadi pemisah, melainkan penghubung. Setiap kapal yang berangkat membawa misi agar masyarakat dapat terus bergerak, barang dapat terus didistribusikan, dan roda perekonomian di berbagai daerah tetap berputar. Karena itu, ketika berbicara tentang ASDP, yang sesungguhnya dibicarakan bukan hanya soal kapal, pelabuhan, tiket, atau angka kinerja perusahaan. Di balik semuanya ada manusia dan kehidupan yang terus bergerak dari satu pulau menuju pulau lainnya.

Peran itu tercermin dari kinerja ASDP sepanjang 2025. Perusahaan mencatat laba Rp285,4 miliar dengan pendapatan mencapai Rp4,96 triliun. Layanan penyeberangan perintis juga mencatat lebih dari 93 ribu trip atau tumbuh 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara angkutan kendaraan meningkat 15 persen menjadi lebih dari 556 ribu unit. Angka tersebut menunjukkan aktivitas penyeberangan yang terus bergerak sekaligus menggambarkan betapa besar kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas laut.

Namun angka-angka tersebut sesungguhnya hanyalah wajah luar dari sebuah cerita yang jauh lebih besar. Di balik lebih dari 93 ribu trip layanan perintis, misalnya, ada masyarakat yang mungkin tidak memiliki banyak pilihan moda transportasi lain. Di balik ratusan ribu kendaraan yang diseberangkan, terdapat barang, pekerjaan, keluarga, dan aktivitas ekonomi yang ikut bergerak. Setiap perjalanan memiliki alasan dan tujuan. Setiap tiket yang dibeli menjadi bagian dari sebuah kehidupan yang sedang berjalan.

"Capaian tersebut menegaskan peran strategis ASDP bukan hanya sebagai operator transportasi, tetapi juga perekat konektivitas dan penggerak ekonomi nasional," ujar Sekretaris Perusahaan ASDP Windy Andale, Senin, 11 Mei 2026.

Pernyataan itu terasa semakin relevan ketika melihat posisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Bagi masyarakat di wilayah yang dipisahkan oleh laut, konektivitas bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar. Tanpa kapal yang beroperasi, sebuah perjalanan yang seharusnya dapat dilakukan dalam hitungan jam bisa berubah menjadi persoalan panjang. Distribusi barang dapat tertunda, aktivitas perdagangan tersendat, dan hubungan antarmasyarakat ikut terganggu. Karena itu, memastikan kapal tetap berlayar berarti memastikan sebagian kehidupan masyarakat tetap berjalan.

Baca Juga: ASDP Siap Hadapi Libur Nataru dengan Layanan Optimal

Di balik kelancaran perjalanan tersebut, ada pekerjaan besar yang tidak selalu terlihat oleh penumpang. Keselamatan, misalnya, menjadi bagian yang harus dipastikan sejak kapal masih berada di pelabuhan hingga tiba di tujuan. Sepanjang 2025, ASDP menghadapi sejumlah insiden pelayaran, mulai dari kecelakaan, kapal kandas, hingga tabrakan kapal. Perusahaan mencatat lima kecelakaan kapal sepanjang tahun tersebut. Meski demikian, tingkat kecelakaan berhasil dijaga pada angka 0,220 persen, lebih baik dibandingkan target perusahaan sebesar 0,230 persen.

Bagi sebuah perusahaan yang setiap hari membawa manusia, angka tersebut bukan sekadar indikator kinerja. Di balik setiap angka kecelakaan selalu ada manusia yang terdampak. Karena itu, keselamatan tidak dapat berhenti sebagai target statistik. Keselamatan harus menjadi kebiasaan, budaya, dan kesadaran bersama. Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa keselamatan harus melekat dalam setiap proses kerja perusahaan.

“Keselamatan tidak boleh dianggap selesai. Ini harus menjadi kesadaran kolektif dan prioritas utama dalam setiap lini pelayanan dan operasionl kita," tutur Heru.

Kesadaran tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui latihan keadaan darurat yang dilakukan secara rutin. Di Ambon, ASDP bahkan melibatkan berbagai instansi dalam latihan gabungan yang dirancang untuk menghadapi sejumlah skenario darurat di kapal. Dinas Perhubungan Provinsi Maluku, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas I Ambon, Basarnas, Polairud, Balai Karantina dan Kesehatan, Biro Klasifikasi Indonesia, TNI Angkatan Laut, serta berbagai pihak terkait lainnya ikut ambil bagian.

Dalam latihan itu, empat skenario dipersiapkan, yakni penanganan kebakaran, penanganan orang cedera, meninggalkan kapal atau abandon ship, serta evakuasi. Bagi masyarakat yang sedang menikmati perjalanan, latihan tersebut mungkin tidak pernah terlihat. Tetapi justru di situlah pentingnya latihan. Ketika situasi normal, tidak ada yang ingin membayangkan keadaan darurat. Namun ketika keadaan tersebut benar-benar terjadi, kesiapan yang dibangun sebelumnya dapat menentukan keselamatan banyak orang.

"Latihan ini untuk melatih koordinasi, komunikasi dan memahami peran masing-masing dalam setiap keadaan darurat. Harapannya, seluruh personel, khususnya kru kapal, bisa memahami tugas, peran dan tanggung jawab sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan," kata Plt. General Manager ASDP Cabang Ambon Hafiluddin Usman.

Latihan internal dilakukan ASDP secara rutin setiap bulan, sedangkan latihan gabungan dengan unsur eksternal dilaksanakan secara berkala. Bagi kru kapal, kegiatan tersebut bukan hanya soal menghafal prosedur. Mereka harus memahami posisi, mengenali peralatan keselamatan, dan mampu bertindak cepat ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga. Dalam situasi darurat, kepanikan dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, kesiapan menjadi bagian penting dari upaya melindungi manusia yang berada di atas kapal.

“Kegiatan ini bisa terselenggara karena melibatkan berbagai pihak yang sangat mendukung kegiatan kami. Ini merupakan bagian dari kesadaran bahwa keselamatan harus selalu menjadi yang nomor satu,” ujarnya.

Semangat serupa terlihat dalam kebijakan sterilisasi kawasan Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk yang mulai diberlakukan ASDP pada Agustus 2026. Kawasan pelabuhan ditata agar lebih aman, tertib, dan mudah dikendalikan. Individu yang berada di kawasan pelabuhan didata, identitas diperiksa, dan alur pergerakan masyarakat ditata kembali. Para pekerja pelabuhan hingga pedagang asongan diwajibkan menggunakan identitas resmi dan rompi khusus berwarna kuning agar lebih mudah diverifikasi.

Langkah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di sebuah pelabuhan yang menjadi titik pertemuan ribuan orang, identitas dan keteraturan memiliki arti penting. Keselamatan tidak hanya dimulai ketika kapal meninggalkan dermaga. Keselamatan juga dimulai ketika seseorang pertama kali memasuki kawasan pelabuhan.

"Kita berharap upaya sterilisasi melalui sinergi seluruh pihak ini bisa mewujudkan pelabuhan aman, nyaman, serta mengedepankan aspek keselamatan pelayaran," ujar Direktur Operasi dan Transformasi ASDP Rio Theodore Natalianto Lasse.

Teknologi juga mulai menjadi bagian dari sistem tersebut. Pemeriksaan menggunakan face recognition diterapkan sejak pintu masuk, sementara validasi tiket dilakukan dengan memastikan kesesuaian data tiket dan dokumen identitas penumpang. Dengan demikian, proses perjalanan tidak hanya menjadi lebih tertib, tetapi juga diharapkan mampu memperkuat pengawasan dan keamanan.

Ilustrasi - Kapal AHTS Transko Moloko milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), mengawal kapal penumpang legendaris milik PT Pelni, KMP Umsini, dari Makassar menuju galangan PT PAL Indonesia, di <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Kapal AHTS Transko Moloko milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK), anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), mengawal kapal penumpang legendaris milik PT Pelni, KMP Umsini, dari Makassar menuju galangan PT PAL Indonesia, di (Antara)

Bagi masyarakat yang datang ke pelabuhan, semua proses itu mungkin terasa seperti bagian biasa dari perjalanan. Mereka cukup menunjukkan identitas, memeriksa tiket, mengikuti arahan petugas, kemudian menunggu kapal. Namun di balik rutinitas tersebut terdapat sebuah sistem besar yang dirancang untuk menjaga kepercayaan. Sebab ketika seseorang naik ke kapal, ia sesungguhnya sedang menyerahkan sebagian keselamatannya kepada operator, kru, petugas pelabuhan, regulator, dan seluruh sistem yang bekerja di belakang perjalanan.

Kepercayaan itulah yang harus dijaga.

ASDP juga menghadapi tantangan lain yang tidak kalah besar. Sebagian besar armadanya berusia lebih dari tiga dekade. Hampir 100 aset kapal perusahaan tercatat telah berusia lebih dari 30 tahun dan membutuhkan peremajaan. Mayoritas kapal tua tersebut juga memiliki kapasitas kurang dari 1.000 penumpang. Kondisi itu menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dijawab agar kebutuhan transportasi masyarakat dapat terus dilayani dengan armada yang semakin andal.

"Kapal kami sebagian besar ini kapalnya di atas 30 tahun. Dan itu kapasitas ya itu kecil-kecil di bawah 1.000. Jadi mohon izin kami juga membutuhkan dukungan," kata Heru.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa menjaga konektivitas nasional bukan pekerjaan murah. Di balik sebuah kapal yang terlihat sederhana ketika bersandar di dermaga terdapat investasi besar yang harus dipersiapkan. Kapal membutuhkan perawatan, pelabuhan membutuhkan pengembangan, teknologi membutuhkan pembaruan, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat.

ASDP memperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp23,49 triliun hingga 2030. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung pembangunan 46 kapal baru yang terdiri atas 18 kapal untuk strategi long distance ferry atau LDF, 15 kapal untuk memperkuat 14 lintasan yang telah ada, serta 13 kapal untuk peremajaan armada lama. Selain itu, kebutuhan investasi juga mencakup 55 proyek pembangunan di 35 pelabuhan, mulai dari revitalisasi pelabuhan, pembangunan fasilitas baru, hingga pengembangan melalui kerja sama dengan mitra strategis.

"Untuk mendukung rencana eksplor dan eksploit selama 5 tahun ke depan, kami hitung sampai tahun 2030, ASDP membutuhkan total investasi sebesar Rp 23,49 triliun," ujar Heru dalam RDP dengan Komisi VI DPR, Rabu, 14 Juni 2026.

Investasi sebesar itu menunjukkan bahwa penguatan transportasi laut nasional tidak bisa dilakukan secara instan. Ada proses panjang yang harus ditempuh. Ada kapal yang harus dibangun, pelabuhan yang harus diperbaiki, sistem yang harus disiapkan, dan sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan. Semua itu pada akhirnya kembali kepada kebutuhan masyarakat: bagaimana perjalanan dapat dilakukan dengan lebih aman, nyaman, dan dapat diandalkan.

Di sisi lain, ASDP juga harus menjaga keseimbangan antara fungsi bisnis dan pelayanan publik. Sebagai perusahaan negara, ASDP tidak hanya melayani lintasan yang ramai dan menguntungkan secara komersial. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab menjalankan layanan perintis melalui skema public service obligation atau PSO. Dari 318 lintasan yang dilayani, sebanyak 227 merupakan lintasan perintis atau sekitar 71,4 persen, sedangkan lintasan komersial berjumlah 91 atau 28,6 persen.

Perbedaan tersebut penting karena lintasan perintis sering kali justru berada di wilayah yang secara ekonomi belum memiliki volume perjalanan tinggi. Namun rendahnya volume bukan berarti kebutuhan masyarakat rendah. Ada wilayah yang memang belum ramai, tetapi tetap membutuhkan kapal untuk menghubungkan masyarakatnya dengan daerah lain.

Baca Juga: PT ASDP Tangani Kendala Kerusakan di Dermaga Eksekutif Pelabuhan Merak

Heru mengungkapkan bahwa ASDP menanggung beban layanan perintis yang cukup besar. Pada 2024, beban tersebut mencapai sekitar Rp80,81 miliar, sedangkan pada 2025 tercatat sekitar Rp50,62 miliar.

“Kami itu ya menanggung beban ini yang sampai dengan tahun 2025 per tahunnya itu 50,62 miliar. Lalu kemudian tahun 2024 itu 80,81 miliar," ujar Heru.

Dalam konteks tersebut, transportasi perintis memiliki dimensi kemanusiaan yang kuat. Sebab ukuran keberhasilannya tidak semata-mata laba. Ada nilai lain yang tidak selalu mudah dihitung dengan angka, yakni seberapa jauh masyarakat di wilayah terluar, tertinggal, dan terpencil dapat memperoleh akses terhadap konektivitas.

Ketika sebuah kapal perintis berangkat menuju wilayah yang tidak terlalu ramai, mungkin tidak banyak orang yang melihatnya sebagai sebuah pencapaian. Namun bagi masyarakat yang menunggu kapal tersebut, keberangkatan itu bisa menjadi peristiwa penting. Kapal membawa kesempatan untuk bepergian, berdagang, bekerja, memperoleh kebutuhan, dan bertemu dengan dunia yang lebih luas.

Itulah mengapa konektivitas memiliki dimensi sosial yang kuat.

ASDP kemudian memperluas akses melalui pembukaan delapan lintasan perintis baru yang menjangkau wilayah strategis dan kawasan 3T. Langkah tersebut bukan hanya memperluas jaringan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendorong pemerataan pembangunan. Ketika daerah memiliki akses transportasi, peluang ekonominya pun dapat tumbuh.

Transformasi ASDP juga bergerak melalui digitalisasi. Platform pemesanan tiket online Ferizy telah hadir di 49 pelabuhan. Bagi pengguna jasa, perubahan tersebut mungkin dirasakan melalui proses pemesanan yang lebih cepat dan praktis. Tetapi di balik kemudahan tersebut terdapat upaya untuk membangun sistem penyeberangan yang lebih terukur dan terintegrasi.

Digitalisasi memungkinkan pengguna jasa merencanakan perjalanan sebelum datang ke pelabuhan. Arus kendaraan dapat diatur lebih baik. Informasi perjalanan dapat disampaikan dengan lebih transparan. Pada akhirnya, teknologi diharapkan mampu mengurangi ketidakpastian yang selama ini sering menjadi bagian dari perjalanan.

Namun ASDP memahami bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan sentuhan manusia. Sebab transportasi pada akhirnya adalah tentang manusia yang bepergian.

Seseorang mungkin tidak akan mengingat nama aplikasi yang digunakan untuk membeli tiket. Tetapi ia mungkin akan mengingat bagaimana seorang petugas membantunya ketika kebingungan. Ia akan mengingat apakah dirinya merasa aman ketika berada di pelabuhan. Ia akan mengingat apakah informasi diberikan dengan jelas. Ia akan mengingat apakah perjalanan tersebut membuatnya merasa dihargai.

Kesadaran itu kemudian mendorong ASDP memperkuat transformasi Customer Experience atau CX.

Dalam kegiatan bertajuk "Anchoring Excellence: Melayani Sepenuh Hati Penggerak Customer Experience Transformation", perusahaan menegaskan bahwa transformasi tidak hanya berbicara tentang teknologi dan infrastruktur. Lebih jauh, transformasi harus menyentuh budaya pelayanan.

"Pelanggan mungkin melupakan apa yang kita katakan, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana kita membuat mereka merasakan pelayanan yang kita berikan. Transformasi ASDP bukan hanya tentang digitalisasi atau modernisasi infrastruktur, melainkan membangun budaya yang menempatkan pelanggan sebagai pusat dari setiap keputusan. Pelayanan melahirkan kepercayaan, kepercayaan membangun loyalitas, dan loyalitas menjadi fondasi keberlanjutan bisnis," ujar Heru.

Di sini, kata "melayani" memperoleh makna yang lebih luas. Penumpang bukan sekadar pengguna jasa yang membeli tiket. Mereka adalah manusia yang membawa kebutuhan dan harapan masing-masing. Ada yang bepergian dalam keadaan terburu-buru, ada yang membawa anak kecil, ada yang membawa orang tua, ada yang membawa barang berharga, dan ada yang mungkin tidak sering menggunakan transportasi laut sehingga membutuhkan bantuan.

Pelayanan yang baik berarti memahami keadaan tersebut.

Chief Marketing Officer Danantara Asset Management Dendi Tegar Danianto memberikan keterangan di sela-sela PaDi Business Forum &amp; Showcase 2025, di The Gade Tower Jakarta, Rabu 10 Desember 2025. ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira. <b>(Antara)</b> Chief Marketing Officer Danantara Asset Management Dendi Tegar Danianto memberikan keterangan di sela-sela PaDi Business Forum & Showcase 2025, di The Gade Tower Jakarta, Rabu 10 Desember 2025. ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira. (Antara)

Chief Marketing Officer PT Danantara Assets Management Dendi T. Danianto menyebut pelayanan publik sebagai cerminan kualitas sebuah bangsa.

"Setiap insan perusahaan adalah representasi bangsa. Kualitas layanan ASDP mencerminkan bagaimana negara hadir melayani masyarakat," ungkap Dendi.

Kalimat tersebut membawa pelayanan transportasi ke ruang yang lebih luas. Negara hadir bukan hanya melalui kebijakan dan pembangunan fisik. Negara juga hadir ketika seorang warga dapat memperoleh layanan transportasi yang aman, tertib, dan manusiawi.

Karena itu, ASDP kemudian mendorong nilai Aman, Andal, dan Peduli sebagai identitas pelayanan. Aman berarti keselamatan menjadi prioritas. Andal berarti masyarakat dapat mempercayai layanan. Peduli berarti pengguna jasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar angka dalam sistem.

Semangat tersebut menjadi semakin penting ketika melihat volume pergerakan masyarakat yang terus meningkat. Pada Semester I-2025, ASDP melayani 3,07 juta penumpang dan 3,98 juta kendaraan di seluruh Indonesia. Perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi Rp2,44 triliun dan laba bersih Rp298 miliar.

Sementara dalam periode Angkutan Lebaran 2026, mobilitas masyarakat meningkat tajam. Pada H-8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang pada 15 lintasan pantauan nasional mencapai 4,72 juta orang atau naik 6,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah kendaraan mencapai 1,21 juta unit, meningkat 8 persen.

Jutaan manusia bergerak dalam waktu yang relatif bersamaan.

Angka tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan operasional. Ia juga menunjukkan betapa pentingnya transportasi penyeberangan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika jutaan orang pulang, jutaan kendaraan ikut bergerak. Ketika kendaraan bergerak, roda ekonomi ikut berputar.

Di sisi lain, kepadatan tetap menjadi tantangan. Lintasan Ketapang–Gilimanuk, misalnya, masih menghadapi persoalan kepadatan logistik dan kondisi akses jalan. Karena itu, penguatan pola operasi kapal, pemanfaatan pelabuhan penyangga, dan pengembangan skema layanan menjadi bagian dari langkah antisipatif.

Hal tersebut menunjukkan bahwa konektivitas tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kapal. Sebuah perjalanan merupakan rangkaian panjang yang saling terhubung. Kendaraan harus dapat mencapai pelabuhan. Tiket harus tersedia. Pelabuhan harus mampu menerima arus. Kapal harus siap. Dermaga harus berfungsi. Jalan keluar pelabuhan juga harus mampu menampung kendaraan yang tiba.

Jika salah satu bagian tersendat, seluruh perjalanan dapat ikut terganggu.

Karena itu, ASDP juga mulai melihat transportasi penyeberangan dalam konteks logistik nasional. Pengembangan long distance ferry atau LDF menjadi salah satu agenda penting. Sejumlah rute potensial seperti Makassar–Semarang dan Panjang–Jakarta mendapat dukungan pemerintah untuk ditindaklanjuti.

LDF menawarkan perspektif baru tentang bagaimana transportasi laut dapat membantu memperlancar distribusi barang antarwilayah. Ketika barang dapat berpindah dengan lebih efisien, biaya logistik berpotensi ditekan dan pasar dapat menjadi lebih luas.

Dalam konteks Indonesia, manfaatnya tidak kecil. Produk dari satu wilayah dapat menjangkau wilayah lain tanpa harus melalui rantai distribusi yang terlalu panjang. Pelaku usaha mendapatkan alternatif. Daerah memperoleh peluang memperluas pasar. Dan pada akhirnya, konsumen mendapatkan manfaat dari sistem distribusi yang lebih efisien.

Namun perjalanan ASDP tidak berhenti di dalam negeri. Salah satu agenda yang sedang dipersiapkan adalah pengembangan layanan Roll-on/Roll-off atau RoRo Batam–Johor. Dua wilayah yang hanya berjarak sekitar 27 mil laut tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi koridor perdagangan, investasi, pariwisata, dan logistik lintas negara.

Rencana tersebut menghubungkan Pelabuhan Bintang 99 Persada di Batam dengan Terminal Feri Tanjung Belungkor di Johor, Malaysia. Layanan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.

"Kami berharap layanan RoRo Batam–Johor dapat mulai beroperasi pada pertengahan tahun depan. Namun, realisasinya membutuhkan kesiapan dan kolaborasi seluruh pihak," ujar Rio.

RoRo memungkinkan kendaraan masuk langsung ke kapal bersama muatannya dan keluar di pelabuhan tujuan. Skema ini berpotensi memangkas proses bongkar-muat sehingga waktu dan biaya distribusi dapat ditekan.

Potensi pasar juga cukup besar. Data ASDP mencatat sekitar 193 ribu wisatawan asal Malaysia berkunjung ke Batam sepanjang 2024. Batam sendiri memiliki sejumlah komoditas ekspor potensial, antara lain produk hewani dan nabati, kakao, serta produk kimia.

Namun ASDP tidak ingin membangun layanan hanya berdasarkan optimisme. Berdasarkan asesmen awal, potensi angkutan pada tahap awal diperkirakan masih di bawah 50 truk. Karena itu, kapasitas akan dikembangkan secara bertahap sesuai pertumbuhan permintaan pasar. Keseimbangan muatan perjalanan pergi dan kembali juga harus diperhitungkan agar layanan tetap berkelanjutan.

Di sinilah terlihat bahwa membangun konektivitas bukan sekadar membuka rute. Sebuah rute harus memiliki kehidupan. Harus ada orang yang menggunakannya, barang yang mengalir melaluinya, dan aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

"Yang ingin kami bangun bukan sekadar lintasan baru, tetapi koridor konektivitas yang mampu menciptakan nilai tambah bagi kedua negara," ujar Rio.

Kalimat itu menggambarkan bagaimana sebuah kapal dapat memiliki arti yang lebih besar daripada fungsi transportasinya. Kapal dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi. Pelabuhan dapat menjadi pintu perdagangan. Jalur penyeberangan dapat menjadi penghubung dua pusat pertumbuhan.

Namun di balik seluruh rencana besar tersebut, ada satu hal yang tidak boleh hilang: manusia.

Sebab pada akhirnya, konektivitas dibangun untuk manusia.

Jalan dibangun agar manusia dapat bergerak. Pelabuhan dibangun agar manusia dan barang dapat berpindah. Kapal dibangun agar pulau-pulau yang terpisah laut tetap memiliki hubungan. Teknologi dikembangkan agar perjalanan manusia menjadi lebih mudah.

Karena itu, ukuran keberhasilan transportasi tidak semestinya hanya dilihat dari berapa banyak kapal yang dimiliki atau berapa besar laba yang diperoleh. Keberhasilan juga harus dilihat dari seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat.

Ketika seorang pedagang dapat membawa barang dagangannya ke pasar, konektivitas bekerja.

Ketika seorang pekerja dapat mencapai tempat kerja tepat waktu, konektivitas bekerja.

Ketika sebuah keluarga dapat pulang dan berkumpul, konektivitas bekerja.

Ketika masyarakat di wilayah 3T memiliki akses transportasi, konektivitas bekerja.

Dan ketika sebuah produk dari daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas, konektivitas kembali menunjukkan manfaatnya.

Itulah mengapa setiap perjalanan memiliki cerita.

Sebuah mobil yang masuk ke lambung kapal bukan hanya kendaraan. Di dalamnya mungkin ada keluarga yang sedang pulang. Sebuah truk yang menunggu giliran naik kapal bukan hanya alat angkut. Di dalamnya mungkin ada barang yang menjadi sumber penghasilan banyak orang. Seorang penumpang yang duduk menunggu keberangkatan bukan sekadar angka dalam laporan perusahaan. Ia adalah seseorang yang memiliki tujuan, kebutuhan, dan harapan.

Di situlah wajah manusia dari transportasi penyeberangan terlihat.

Dan di sanalah ASDP memiliki pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Perusahaan harus terus memperbarui kapal, tetapi juga harus memperbarui cara melayani. Harus membangun pelabuhan, tetapi juga membangun rasa aman. Harus mengembangkan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut tidak menjauhkan manusia dari pelayanan. Harus menjaga keuntungan, tetapi tetap memastikan masyarakat di wilayah perintis tidak kehilangan akses.

Tantangan tersebut memang besar.

Tetapi kebutuhan Indonesia juga besar.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak memiliki kemewahan untuk mengabaikan laut. Laut adalah bagian dari jalan nasional. Laut adalah ruang ekonomi. Laut adalah jalur distribusi. Laut adalah penghubung masyarakat.

Karena itu, penguatan transportasi laut nasional merupakan bagian dari upaya memperkuat Indonesia itu sendiri.

ASDP telah menempatkan sejumlah agenda besar hingga 2030. Investasi Rp23,49 triliun, pembangunan 46 kapal baru, pengembangan 55 proyek di 35 pelabuhan, penguatan lintasan perintis, digitalisasi layanan, pengembangan LDF, hingga rencana RoRo Batam–Johor menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Namun semua itu tidak boleh berhenti sebagai daftar proyek.

Setiap kapal baru harus berarti perjalanan yang lebih aman.

Setiap pelabuhan yang dibangun harus berarti pelayanan yang lebih baik.

Setiap teknologi yang diterapkan harus berarti proses yang lebih mudah.

Setiap lintasan perintis yang dibuka harus berarti masyarakat di daerah semakin terhubung.

Setiap jalur logistik yang diperkuat harus berarti barang dapat bergerak lebih efisien.

Dan setiap pelayanan yang diberikan harus membuat masyarakat merasa bahwa perjalanan mereka penting.

Sebab bagi ASDP, perjalanan masyarakat bukan sekadar angka dalam laporan tahunan.

Di balik angka 4,72 juta penumpang selama Angkutan Lebaran, ada 4,72 juta cerita perjalanan. Di balik 1,21 juta kendaraan, ada jutaan aktivitas yang ikut bergerak. Di balik 93 ribu trip perintis, ada masyarakat di berbagai wilayah yang tetap memiliki akses terhadap dunia di luar pulau mereka.

Angka-angka tersebut menjadi berarti ketika kita melihat manusia di belakangnya.

Mungkin seseorang tidak pernah tahu berapa banyak petugas yang bekerja agar kapal bisa berangkat tepat waktu. Ia mungkin tidak mengetahui bagaimana sistem keselamatan disiapkan. Ia mungkin tidak pernah melihat latihan darurat yang dilakukan kru. Ia mungkin tidak mengetahui berapa besar investasi yang diperlukan untuk mengganti kapal tua.

Namun ketika ia duduk di dalam kapal dan melihat pulau tujuan perlahan semakin dekat, ia hanya merasakan satu hal: perjalanan sedang membawa dirinya pulang.

Dan mungkin di situlah makna paling sederhana dari konektivitas.

Membuat jarak terasa lebih dekat.

Membuat pulau yang berbeda tetap menjadi satu kesatuan.

Membuat manusia yang terpisah laut tetap dapat bertemu.

Membuat barang dapat bergerak dari satu daerah ke daerah lain.

Membuat ekonomi terus berputar.

Dan membuat masyarakat percaya bahwa mereka tidak sendirian di negeri kepulauan yang begitu luas ini.

ASDP tentu masih menghadapi banyak pekerjaan. Kapal-kapal tua harus diremajakan. Keselamatan harus terus diperkuat. Pelabuhan harus ditata. Layanan perintis harus dipertahankan. Digitalisasi harus dikembangkan. Layanan logistik harus diperkuat. Koridor baru harus dipersiapkan. Pelayanan harus terus dibenahi.

Namun perjalanan panjang itu harus terus dilakukan.

Sebab Indonesia tidak dapat berhenti hanya karena jaraknya jauh.

Tidak dapat menyerah hanya karena lautnya luas.

Tidak dapat membiarkan sebuah pulau kehilangan akses hanya karena berada jauh dari pusat ekonomi.

Justru karena Indonesia adalah negara kepulauan, setiap koneksi memiliki arti yang besar.

Kapal yang bergerak dari dermaga ke dermaga adalah bagian dari perjalanan panjang tersebut. Ia mungkin terlihat kecil ketika berada di tengah laut yang luas. Namun bagi orang-orang yang berada di dalamnya, kapal itu adalah jalan menuju kehidupan.

Di dalam kapal itu ada seorang ayah yang ingin segera bertemu keluarganya. Ada seorang ibu yang membawa anaknya pulang. Ada pekerja yang sedang mengejar penghidupan. Ada pengemudi yang membawa barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ada pelaku usaha yang berharap dagangannya tiba tepat waktu. Ada masyarakat dari wilayah 3T yang membutuhkan akses agar tetap terhubung dengan dunia luar.

Mereka semua memiliki cerita.

Dan ASDP berada di tengah cerita-cerita tersebut.

Karena itulah, ketika kapal meninggalkan pelabuhan, sesungguhnya yang bergerak bukan hanya badan kapal. Yang bergerak adalah kehidupan.

Yang diseberangkan bukan hanya kendaraan dan barang.

Yang diseberangkan adalah harapan.

Harapan untuk sampai dengan selamat.

Harapan untuk bertemu orang yang dicintai.

Harapan agar pekerjaan tetap berjalan.

Harapan agar perdagangan terus tumbuh.

Harapan agar daerah semakin berkembang.

Dan harapan agar Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tetap menjadi satu ruang kehidupan yang saling terhubung.

Laut mungkin memisahkan pulau-pulau Indonesia secara geografis. Tetapi melalui kapal, pelabuhan, dan jaringan penyeberangan, jarak itu dapat dijembatani.

Di situlah makna ASDP menjadi lebih besar daripada sekadar operator transportasi.

ASDP adalah bagian dari upaya menjadikan laut sebagai jalan yang menyatukan.

Sebab bagi negeri yang dibangun oleh ribuan pulau, menjaga konektivitas berarti menjaga kehidupan tetap bergerak. Dan setiap kali kapal berlayar dari satu tepian menuju tepian lainnya, ada harapan Indonesia yang ikut diseberangkan.

 

HIGHLIGHT

x|close