Ntvnews.id, Jakarta - Pagi itu, wajah Arfana Asyam tampak berbinar saat mendengar kabar bahwa dirinya akan mendapat telur setiap hari di sekolah. Siswa kelas 5 SDN Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur itu langsung membayangkan menu favoritnya di rumah.
“Senang kalau nanti dapat telur. Saya paling suka telur dadar sama ceplok,” ucap Arfana sambil tersenyum malu.
Bagi anak-anak lain, telur mungkin hanya lauk sederhana. Namun bagi sebagian siswa di wilayah pesisir Lamongan, tambahan protein hewani menjadi asupan penting untuk mendukung tumbuh kembang mereka.
Cerita Arfana menjadi potret kecil dari perjalanan panjang program JAPFA for Kids yang kini memasuki usia ke-18 tahun. Melalui program yang dijalankan PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk itu, ribuan anak Indonesia mendapatkan akses edukasi gizi sekaligus tambahan asupan protein untuk membantu memperbaiki status kesehatan mereka.
Di tengah masih tingginya persoalan malnutrisi anak di Indonesia, program tersebut mencoba hadir bukan hanya lewat angka statistik, tetapi juga melalui perubahan nyata di ruang-ruang kelas.
Ketika Sekolah Menjadi Garda Depan Perbaikan Gizi
Di Kecamatan Paciran, JAPFA menggandeng delapan sekolah dasar untuk menjalankan program peningkatan gizi anak. Sekolah-sekolah tersebut antara lain MIS Mu’awanah, MIS Mambaul Ma’Arif, MIS Muh. 07 Sidokelar, MIS Muh. 10 Tlogosadang, MIS Tarbiyatus Shibyan, SDN Kemantren, SDN Sidokelar, dan SDN Tlogosadang.
Lebih dari 1.100 siswa dan sekitar 150 guru terlibat dalam program tersebut.
Kepala SDN Kemantren, Musri, mengatakan bantuan tambahan protein sangat dibutuhkan siswa di sekolahnya. Menurut dia, sebagian besar anak selama ini mengandalkan ikan sebagai sumber protein utama.
Baca Juga: Lulusan SMK, Kisah Fadlan Terlibat di Film “Pelangi di Mars” sebagai 3D Artist
“Selama ini sumber protein anak-anak lebih banyak dari ikan. Kami berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut karena sangat membantu meningkatkan kesehatan dan gizi anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari total 153 siswa di SDN Kemantren, sebanyak 117 siswa kelas 1 hingga kelas 5 menjadi sasaran program.
“Untuk saat ini memang hanya siswa Kelas 1-5 karena Kelas 6 sudah mau lulus,” katanya.
Pihak sekolah kini juga rutin melakukan pendataan tinggi dan berat badan siswa sebagai bagian dari pemantauan status gizi.
Masalah Gizi Masih Mengintai Anak Indonesia
Program JAPFA for Kids (JAPFA)
Persoalan gizi anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 11 persen anak usia 5-12 tahun masih berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).
Data internal JAPFA pada 2024 juga menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa di tujuh lokasi program masih mengalami kondisi malagizi.
Angka tersebut menjadi alarm bahwa edukasi dan intervensi gizi masih sangat dibutuhkan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses pangan bergizi dan edukasi kesehatan.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan JAPFA for Kids dirancang sebagai program terintegrasi agar dampaknya bisa diukur secara berkelanjutan.
Salah satu intervensi utama dilakukan melalui pemberian telur setiap hari selama enam bulan kepada siswa dengan kondisi malagizi.
“Program ini dirancang agar dampaknya dapat terukur secara konsisten, termasuk melalui monitoring berkala terhadap perkembangan status gizi siswa,” ujar Retno.
Tak hanya pemberian makanan bergizi, JAPFA juga melakukan pemantauan rutin berat dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital.
Program tersebut turut dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, hingga pembiasaan pola hidup sehat melalui kegiatan Hari Sehat JAPFA.
Dari Lamongan hingga Bintan
Dampak program JAPFA for Kids tidak hanya terasa di Lamongan. Di Kecamatan Teluk Bintan, program serupa juga menyasar sekitar 750 siswa dari delapan sekolah dasar.
Sekolah-sekolah yang terlibat antara lain SDN 001, SDN 004, SDN 005, SDN 007, SDN 009, SDN 012, SDN 013, dan SDN 014 Teluk Bintan.
Corporate Affairs Director JAPFA, Rachmat Indrajaya, mengatakan program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan siswa.
“Kita bekerja sama dengan puskesmas juga untuk melakukan screening anak-anak yang kurang gizi dan gizi buruk,” kata Rachmat.
Baca Juga: Bukan Keterbatasan Tapi Kekuatan: Kisah Ibu Ani, Difabel Tangguh yang Bertumbuh Bersama PNM
Setelah proses pemeriksaan dilakukan, JAPFA menyalurkan bantuan telur ayam sebanyak tujuh butir setiap minggu selama enam bulan kepada siswa penerima manfaat.
“Kami akan salurkan telur tujuh butir seminggu sekali,” ujarnya.
Menurut Rachmat, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas gizi anak-anak hari ini.
“Melalui AKJJ untuk ketiga kalinya ini, kami ingin memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya gizi anak,” katanya.
Ketika Data Bertemu Cerita Lapangan
Selama 18 tahun berjalan, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota serta 28 provinsi di Indonesia.
Program itu juga menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik.
Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa atau sekitar 62,5 persen juga mengalami peningkatan status gizi menjadi lebih baik.
Pakar gizi masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sandra Fikawati, menilai edukasi publik terkait gizi seimbang harus terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media.
Sebab persoalan gizi bukan hanya soal makanan, melainkan juga soal pengetahuan, pola asuh, dan kebiasaan hidup sehat yang dibangun sejak dini.
Bagi Arfana dan ribuan anak lain, program ini mungkin hanya berarti tambahan telur setiap hari. Namun di balik itu, ada harapan besar tentang generasi Indonesia yang tumbuh lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan. Karena kadang, perubahan besar memang dimulai dari hal sederhana.
Dari ruang kelas kecil di Lamongan dan Teluk Bintan, dari tangan guru yang mendampingi murid-muridnya, hingga dari sebutir telur yang dibagikan setiap pagi. Di sanalah masa depan bangsa sedang dijaga.
Ilustrasi Telur (Pixabay)