Harapan Seniman dalam Perayaan HUT Kemerdekaan RI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jul 2026, 15:14
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
 Orasi Budaya dan Kebangsaan di Silang Monas diharapkan menjadi ruang dialog yang menginspirasi sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal seremoni, melainkan juga tentang menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa. Orasi Budaya dan Kebangsaan di Silang Monas diharapkan menjadi ruang dialog yang menginspirasi sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal seremoni, melainkan juga tentang menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa. (DOK)

Ntvnews.id, Jakarta - Seniman dan pegiat budaya Iwenk MJC melontarkan seruan keras menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui Orasi Budaya dan Kebangsaan yang digelar di kawasan Silang Monas, tepat di seberang Istana Negara, Kamis (30/7/2026), ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali menjadikan seni dan budaya sebagai roh utama perayaan kemerdekaan.

Dalam orasinya, Iwenk menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya dirayakan dengan kemeriahan hiburan, tetapi harus menjadi momentum memperkuat karakter, persatuan, dan identitas bangsa.

 "Merawat nilai, melestarikan budaya, dan menguatkan persatuan adalah kunci menjaga keutuhan negeri. Bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga menjaga akar budayanya tetap hidup," tegas Iwenk.

Orasi tersebut dihadiri sejumlah tokoh seni, budaya, dan agama, di antaranya Murnyati (Artis Go Talent Indonesia), Gus Syauqi (putra almarhum Asrul Sani), penyair dan budayawan Budi Mariyoto, pemain biola nasional Rahmat, Dirin Art Club Jakarta, Kyai Pungky, Masdjo Arifin (Founder Budayantara Media Digital Nusantara), serta komunitas Holopis Kuntul Baris.

Dalam kesempatan itu, Iwenk menyampaikan harapannya agar peringatan Hari Kemerdekaan di lingkungan Istana Negara kembali menghadirkan pertunjukan yang mencerminkan nilai perjuangan, kebudayaan, dan semangat kebangsaan.

Menurutnya, panggung nasional semestinya lebih banyak diisi dengan puisi perjuangan, lagu-lagu nasional, teater kepahlawanan, hingga tari-tarian tradisional Nusantara yang mampu membangkitkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda.

Ia mengingatkan bahwa apa yang ditampilkan dari pusat pemerintahan akan menjadi contoh bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

"Kalau panggung nasional mengangkat sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa, semangat itu akan menjalar hingga ke desa-desa. Tetapi jika ruang kemerdekaan lebih didominasi hiburan populer, jangan heran jika budaya lokal semakin tersisih," ujarnya.

Melalui orasi tersebut, Iwenk juga mengajak pemerintah, pelaku seni, budayawan, dan masyarakat untuk menjadikan peringatan HUT RI sebagai sarana pendidikan karakter melalui kekuatan seni dan budaya.

Tak hanya itu, ia menghidupkan kembali filosofi "Holopis Kuntul Baris", sebuah semangat gotong royong, kebersamaan, dan persatuan yang telah lama menjadi identitas bangsa Indonesia. Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan di tengah kehidupan sosial yang semakin individualistis.

Bagi Iwenk MJC, seni bukan sekadar tontonan, melainkan instrumen untuk membangun kesadaran, mempererat persaudaraan, serta menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus globalisasi.

Orasi Budaya dan Kebangsaan di Silang Monas diharapkan menjadi ruang dialog yang menginspirasi sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya soal seremoni, melainkan juga tentang menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur bangsa.

"Panggung kemerdekaan seharusnya tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi tuntunan. Dari pusat pemerintahan harus lahir pesan yang menguatkan persatuan, membangkitkan nasionalisme, dan menjaga Indonesia tetap berakar pada budaya sendiri," pungkas Iwenk MJC.

HIGHLIGHT

x|close