Ntvnews.id, Tel Aviv - Sejumlah warga Palestina yang bekerja di Israel mengaku semakin sering menghadapi pembatasan dalam menggunakan bahasa Arab di lingkungan kerja. Mulai dari apotek hingga toko pakaian, mereka melaporkan adanya aturan dari atasan atau supervisor yang melarang penggunaan bahasa Arab saat berkomunikasi sehari-hari.
Dilansir dari Middle East Eye, Rabu, 29 Juli 2026, para pengacara yang mendampingi para pekerja Palestina menilai praktik diskriminasi tersebut kini semakin terbuka.
Salah satu pekerja yang mengalami hal itu adalah Salma, bukan nama sebenarnya. Perempuan Palestina berusia 19 tahun yang merupakan warga negara Israel itu mengaku terkejut ketika menerima pesan WhatsApp dari manajer toko tempatnya bekerja. Pesan tersebut berisi instruksi agar dirinya dan rekan-rekannya mematuhi larangan berbicara menggunakan bahasa Arab.
Seperti karyawan Palestina lainnya, Salma menganggap aturan tersebut tidak masuk akal sehingga memilih mengabaikannya.
Namun, situasi di tempat kerjanya kemudian memanas. Ketegangan memuncak ketika salah seorang rekannya berbicara dalam bahasa Arab yang diselingi bahasa Ibrani saat hendak membawa kotak ke ruang penyimpanan. Sang manajer disebut langsung marah.
"Dia mulai berteriak, menendang kotak-kotak, dan mengatakan kepada kami bahwa kami dilarang berbicara bahasa Arab," tutur Salma kepada Middle East Eye.
"Dia memberitahu kami: 'Ini adalah negara Yahudi. Di sini kita hanya berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Arab itu untuk di rumah saja," ujarnya.
Baca Juga: Hamas Kutuk Kelakuan Israel di Tepi Barat
Salma menjelaskan seluruh staf di tempat kerjanya merupakan warga keturunan Palestina, sementara hanya manajernya yang merupakan warga Yahudi Israel. Ia juga mengatakan sejumlah karyawan yang memprotes kebijakan tersebut justru tidak diberi jadwal kerja selama dua bulan sebelum akhirnya ditawari dipindahkan ke cabang lain yang sulit dijangkau.
Kasus yang dialami Salma disebut menjadi salah satu dari sejumlah laporan serupa dalam beberapa bulan terakhir. Para pekerja Palestina di berbagai sektor, mulai dari rumah sakit, apotek hingga toko ritel, mengaku mengalami larangan berbicara menggunakan bahasa Arab saat bekerja.
Salah satu kasus terbaru melibatkan seorang karyawan Palestina di cabang apotek Good Pharm di Jaffa. Media lokal memublikasikan isi pesan WhatsApp dari manajernya yang diduga mengancam karyawan apabila berbicara menggunakan bahasa selain bahasa Ibrani.
Arsip - Ekskavator Israel membongkar rumah warga Palestina di desa Deirat, timur Masafer Yatta, di kota Hebron, Tepi Barat selatan Senin, 4 Mei 2026. (Antara)
Manajer tersebut beralasan penggunaan bahasa Arab dapat membuat pelanggan yang masih trauma akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 merasa terganggu.
Warga keturunan Palestina di Israel merupakan penduduk asli Palestina yang tetap tinggal setelah sekitar 750.000 warga Palestina terusir dalam peristiwa Nakba pada 1948, ketika negara Israel didirikan. Saat ini, jumlah warga keturunan Palestina di Israel diperkirakan mencapai sekitar dua juta orang atau sekitar 20 persen dari total populasi negara tersebut.
Sejak serangan Hamas pada Oktober 2023, komunitas Palestina di Israel dilaporkan menghadapi peningkatan penangkapan, tindakan disipliner, hingga kehilangan pekerjaan akibat ekspresi politik yang berkaitan dengan konflik dan dugaan genosida di Gaza.
Bendera Israel/ist