Ntvnews.id, Riyadh - Arab Saudi dilaporkan kembali mengalami ketegangan dengan Irak setelah sejumlah wilayahnya menjadi sasaran serangan drone yang diduga diluncurkan oleh kelompok milisi dari wilayah Irak.
Dilansir dari Al Arabiya, Rabu, 29 Juli 2026, ketegangan tersebut meningkat menjelang rencana kunjungan Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi ke Riyadh pada 30 Juli mendatang.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan telah berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah drone yang bergerak menuju fasilitas minyak di Provinsi Timur dan kawasan Riyadh.
Pihak Saudi menyebut "upaya teror" tersebut berasal dari Irak dan dilakukan oleh "milisi teroris yang berafiliasi dengan Iran."
Tak lama setelah insiden itu dilaporkan, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi Mayor Jenderal Turki Al Maliki juga menyampaikan bahwa negaranya "berhak menanggapi pada waktu dan tempat yang tepat."
Pernyataan keras tersebut menjadi salah satu respons terbaru Riyadh terkait dugaan serangan drone yang menargetkan wilayahnya. Sebelumnya, pada 17 Mei, Arab Saudi juga menyatakan sejumlah drone dari wilayah udara Irak mendekati dan mengincar fasilitas minyak kerajaan.
Namun, saat itu pemerintah Irak membantah adanya peluncuran drone dari wilayahnya. Baghdad menyatakan tidak mengetahui adanya serangan tersebut.
Untuk meredakan ketegangan, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melakukan kunjungan tingkat tinggi ke Riyadh pada 12 Juli lalu. Ia memimpin delegasi keamanan dan diplomatik yang turut dihadiri penasihat keamanan nasional Irak serta kepala Badan Intelijen Nasional Irak.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Irak menyebut kedua negara membahas "cara-cara untuk memperkuat hubungan bilateral dan mengembangkan mekanisme untuk koordinasi dan kerja sama bersama."
Hussein sebelumnya mengakui bahwa hubungan Irak dan Arab Saudi turut terdampak oleh konflik Iran. Menurutnya, Irak menjadi salah satu negara yang paling merasakan dampak dari upaya melemahkan hubungan dengan negara-negara Arab.
Baca Juga: Kenapa Israel Ingin Normalisasi dengan Arab Saudi?
Meski demikian, berdasarkan sumber MBN, pertemuan antara pejabat Irak dan Saudi berlangsung cukup alot. Para pejabat Riyadh secara langsung mempertanyakan dugaan serangan yang disebut berasal dari wilayah Irak.
Delegasi Irak tetap menyatakan tidak memiliki informasi mengenai serangan tersebut dan menegaskan tidak ada aksi yang dilakukan dari wilayah Irak terhadap Arab Saudi.
Menanggapi hal itu, pihak Saudi kemudian menunjukkan sejumlah bukti, termasuk jalur penerbangan drone yang digunakan dalam serangan. Salah satu bukti utama menunjukkan bahwa drone tersebut diluncurkan dari lokasi yang relatif dekat dengan perbatasan Saudi-Irak, bukan dari Iran maupun wilayah lain.
Belum diketahui bagaimana respons delegasi Irak setelah menerima bukti tersebut. Namun, seorang pejabat senior pemerintah Irak menyebut pertemuan itulah yang menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Asap mengepul setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa di Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026. Televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi, Senin, 13 Juli 2026, mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan udara di landasan pacu Bandara Internasi (Antara)
Seorang sumber Saudi mengatakan Riyadh memiliki kekhawatiran besar terhadap wilayah Irak yang berbatasan langsung dengan kerajaan, khususnya kawasan gurun di Provinsi Najaf dan Muthanna.
Arab Saudi disebut meminta jaminan dari Irak agar Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) tidak ditempatkan atau beroperasi di wilayah tersebut.
Profesor ilmu politik Universitas Baghdad, Ihsan Al Shammari, menilai serangan drone terbaru tersebut berpotensi mengganggu rencana kunjungan Perdana Menteri Ali Al Zaidi ke Riyadh.
Dalam kunjungan itu, Al Zaidi dijadwalkan membahas sejumlah agenda ekonomi, termasuk rencana mengaktifkan kembali jalur pipa ekspor minyak Irak menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Selain itu, sejumlah sumber menyebut Al Zaidi juga akan berupaya meyakinkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bahwa pemerintah Irak tidak akan membiarkan wilayah negaranya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Arab Saudi maupun negara-negara Arab lainnya.
Ilustrasi - Amerika Serikat mengumumkan bahwa kapal serbu amfibi USS Tripoli, yang mengangkut 3.500 personel militer AS, telah tiba di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (US Central Command) di Timur Tengah pada Maret 2026. (Antara)