Vietnam Tawarkan Bonus Uang dan Tambahan Cuti untuk Kelahiran Anak Kedua

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Jul 2026, 06:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Ibu Hamil Ilustrasi Ibu Hamil (Pixabay)

Ntvnews.id, Hanoi - Pemerintah Vietnam berencana memberikan insentif berupa uang tunai kepada keluarga yang memiliki anak kedua. Kebijakan ini muncul setelah pemerintah resmi mencabut aturan lama yang membatasi jumlah anak maksimal dua orang bagi setiap pasangan.

Langkah tersebut diambil sebagai upaya pemerintah Vietnam untuk mendorong peningkatan angka kelahiran, di tengah kekhawatiran bahwa negara tersebut akan menghadapi penuaan populasi sebelum mencapai tingkat kemakmuran yang diharapkan.

Salah satu kebijakan baru yang diterapkan adalah penambahan masa cuti melahirkan bagi ibu yang melahirkan anak kedua, dari sebelumnya enam bulan menjadi tujuh bulan. Regulasi tersebut mulai berlaku efektif pada Rabu ini.

Selain perpanjangan cuti melahirkan, pasangan warga Vietnam yang memiliki anak kedua juga berhak memperoleh berbagai fasilitas, seperti pemeriksaan kehamilan gratis dan bonus uang tunai dari pemerintah.

"Saya bisa tinggal di rumah satu bulan lagi bersama bayi, dan suami saya bisa tinggal di rumah beberapa hari lagi," kata wanita 32 tahun itu, sambil mengasuh putranya yang masih kecil bermain di kolam berisi bola-bola plastik warna-warni, dikutip dari AFP.

Pemerintah Vietnam juga memberikan subsidi untuk pemeriksaan prenatal dan layanan kesehatan bayi baru lahir, serta menawarkan bonus satu kali hingga sebesar US$228 atau sekitar Rp4 juta bagi ibu yang memenuhi persyaratan tertentu. Nilai tersebut setara dengan sekitar dua pertiga dari rata-rata gaji bulanan di negara itu.

"Ini merupakan sebuah perubahan pendekatan yang signifikan," kata Kepala Bidang Kependudukan dan Pembangunan di Dana Kependudukan PBB (UNFPA) di Vietnam, Pham Ti Lan.

"Kami mulai bergerak dari perencanaan mengontrol keluarga menjadi fokus ke pembangunan populasi," ia menambahkan.

Vietnam saat ini menghadapi tantangan demografis akibat menurunnya angka kelahiran secara signifikan setelah bertahun-tahun menerapkan kebijakan pembatasan jumlah anak melalui pemberlakuan sanksi bagi keluarga yang memiliki lebih dari dua anak.

Baca Juga: Timnas Indonesia U-19 Kalahkan Vietnam 2-1, Garuda Muda Melaju ke Semifinal Piala AFF 2026

Di sisi lain, meningkatnya angka harapan hidup serta terus menurunnya tingkat kelahiran menjadikan Vietnam sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan populasi lanjut usia tercepat di dunia.

Perubahan demografi tersebut dipandang sebagai hasil dari keberhasilan pembangunan ekonomi selama beberapa dekade terakhir. Namun, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa tren ini berpotensi menimbulkan kekurangan tenaga kerja di masa depan serta meningkatkan tekanan terhadap sistem perlindungan sosial.

Pemerintah Vietnam berharap undang-undang kependudukan terbaru dapat memperlambat laju penuaan penduduk. Meski demikian, bagi sebagian pasangan muda, insentif yang ditawarkan masih dianggap belum cukup menarik.

Bendera Vietnam <b>(Istimewa)</b> Bendera Vietnam (Istimewa)

Salah satunya adalah Nguyen Kim Bich dan suaminya, Lai, yang bekerja sebagai akuntan dan profesional periklanan. Menurut mereka, berbagai insentif yang diberikan belum mampu mengimbangi biaya besar dalam membesarkan anak.

Pasangan tersebut mengungkapkan bahwa hampir setengah dari total pendapatan bulanan mereka yang mencapai sekitar US$1.000 atau Rp17,9 juta telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak pertama mereka. Saat ini, mereka juga masih tinggal bersama orang tua Lai di sebuah rumah berukuran kecil.

"Manfaatnya bagus, tetapi tidak cukup. Satu bulan cuti tambahan dan US$75 tidak akan pernah cukup untuk membuat kami memiliki anak kedua," katanya, sambil menyebutkan berapa banyak bonus yang seharusnya ia dapatkan.

x|close