Mendes Sebut Skema Ekspor Langsung dari Desa Bisa Dongkrak Pendapatan Warga hingga 30 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 21:26
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto (tengah) didampingi Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding (kedua kanan). Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto (tengah) didampingi Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding (kedua kanan). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyatakan bahwa program ekspor langsung dari desa memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Menurutnya, pendapatan warga desa dapat meningkat hingga 30 persen karena rantai distribusi yang selama ini cukup panjang dapat dipangkas.

Pernyataan tersebut disampaikan Yandri usai penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

“Jadi langsung potong rantai distribusinya, pendapatan ekonomi masyarakat itu bertambah 30 persen,” kata Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes) Yandri Susanto usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak produk unggulan desa harus melewati berbagai pihak sebelum sampai ke pasar ekspor. Produk biasanya berpindah dari tangan petani atau pelaku usaha desa ke tengkulak, pengepul, hingga sejumlah perantara lainnya. Akibatnya, keuntungan yang diterima masyarakat desa menjadi lebih kecil.

“Selama ini produk desa itu diambil sama tengkulak, sama pengepul dulu, panjang. Sehingga desa itu berkurang margin-nya,” ujar dia.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mendorong program 5.000 Desa Ekspor yang ditargetkan terealisasi pada 2029. Melalui program ini, desa diharapkan mampu melakukan ekspor secara mandiri melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau lembaga ekonomi desa lainnya tanpa bergantung pada rantai distribusi yang panjang.

Yandri mencontohkan sejumlah desa yang telah berhasil menjalankan skema ekspor langsung. Salah satunya adalah Desa Temon di Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang telah mengekspor gula aren langsung ke Australia, Malaysia, dan Belanda melalui pelabuhan ekspor tanpa menggunakan perantara.

Contoh lainnya adalah Desa Kertasana di Kabupaten Pandeglang yang berhasil mengirimkan ikan koi emas ke berbagai negara seperti Kanada, Inggris, Prancis, dan Afrika Selatan.

Selain itu, produk gula aren dari Banyumas juga telah menembus pasar internasional, termasuk Hungaria dan Spanyol.

Menurut Yandri, sistem ekspor langsung memberikan manfaat ganda. Selain membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk desa, skema ini juga meningkatkan nilai jual yang diterima produsen sehingga pendapatan masyarakat menjadi lebih besar.

“Jadi Desa Ekspor itu tidak lagi melalui A, B, C baru diekspor, enggak, tapi desa sebagai pelaku ekspor,” ungkapnya.

Program pengembangan Desa Ekspor sendiri menjadi salah satu bagian dari agenda 12 Aksi Bangun Desa yang saat ini dijalankan Kemendes PDT.

Yandri mengungkapkan hingga kini telah terbentuk 338 desa ekspor dengan total nilai transaksi yang mendekati Rp1 triliun.

“Bayangkan baru 300 saja sudah Rp1 triliun. Kalau sudah ribuan desa itu menjadi desa ekspor, maka desa bisa juga menjadi penyumbang devisa negara,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa produk desa yang berhasil masuk ke pasar internasional tidak hanya berasal dari sektor pertanian dan perikanan. Berbagai produk olahan serta kerajinan desa juga mulai memiliki daya saing dan diterima di pasar global.

Yandri berharap penguatan program desa ekspor dapat terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan sekaligus memperbesar kontribusi desa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan perolehan devisa negara.

(Sumber: Antara)

x|close