Qodari Paparkan Fakta-fakta Baik MBG: Jumlah Siswa Lapar Berkurang Signifikan di Sekolah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 17:41
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari memaparkan sejumlah temuan positif dari pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), program tersebut terbukti mampu menurunkan secara signifikan jumlah siswa yang mengalami kelaparan saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Menurut Qodari, sebelum program MBG dijalankan, mayoritas siswa Indonesia mengikuti pelajaran dalam kondisi lapar. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu konsentrasi belajar dan berdampak pada kualitas pendidikan.

"Sudah ada riset dari Bappenas, saya baca laporannya bulan November (2025). Jadi ternyata, sebelum ada MBG, banyak siswa kita itu yang lapar loh pada saat sekolah. Jumlah yang lapar pada waktu itu, lagi sekolah nih, lapar dia, dengerin guru lapar, 56 persen," kata Qodari, Kamis, 18 Juni 2026.

Ia menjelaskan, setelah program MBG diterapkan dan terlaksana dengan baik, angka siswa yang merasa lapar saat berada di sekolah turun tajam menjadi hanya 16 persen.

"Besar itu penurunannya," kata Qodari.

Sebaliknya, jumlah siswa yang mengikuti pelajaran dalam kondisi kenyang meningkat hampir dua kali lipat. Jika sebelumnya hanya 43 persen siswa yang merasa kenyang saat belajar, kini jumlahnya mencapai 84 persen.

"Ini manfaat yang orang belum tahu," lanjut Qodari.

Selain berdampak pada tingkat kenyang siswa, program MBG juga berhasil meningkatkan kualitas konsumsi gizi anak-anak Indonesia. Salah satunya terlihat dari peningkatan konsumsi buah yang melonjak dari 26 persen menjadi 84 persen.

"Kalau kita bicara vitamin C, bicara buah bagus untuk pencernaan, ternyata anak-anak kita dulu itu sedikit sekali yang makan buah. Mayoritas nggak makan buah. Sekarang sudah naik 58 persen, dari 26 persen ke 84 persen," jelas Qodari.

Peningkatan juga terjadi pada konsumsi protein hewani. Berdasarkan data Bappenas, konsumsi protein hewani siswa meningkat dari 65 persen menjadi 90 persen setelah pelaksanaan MBG.

"Nah ini kan bagus. Kita ingin sepak bola Indonesia maju kan, badannya gede, tinggi. Kayak pemain Jepang kan, badannya sudah gede, tinggi. Otaknya cerdas, gizinya bagus. Jangan lagi kita dibilang bangsa yang IQ-nya kurang kan. Itu dari mana? Dari protein," tuturnya.

Tak hanya memberikan manfaat kesehatan dan pendidikan, program MBG juga disebut membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. Sebanyak 86 persen pemasok program MBG melaporkan adanya kenaikan omzet usaha mereka.

Qodari menjelaskan sebagian besar rantai pasok program MBG melibatkan pelaku usaha lokal. Sebanyak 62 persen pemasok berasal dari UMKM lokal, 18 persen dari koperasi, dan hanya 14 persen yang berasal dari pemasok tingkat provinsi.

Dari sisi pelaksanaan program, mayoritas sekolah juga memberikan penilaian positif terhadap tata kelola MBG. Sebanyak 93 persen sekolah menyatakan pelaksanaan program berjalan dengan baik, sementara menu inti MBG yang terdiri atas nasi, protein seperti ayam atau telur, serta sayuran telah terpenuhi di 96 persen sekolah.

"Jadi sebetulnya banyak aspek positif dari MBG ini. Jangan lihat sisi negatifnya saja. Sisi negatifnya kita koreksi, sisi positifnya terus kita tingkatkan," ujar Qodari.

x|close