Prabowo Heran Dikritik karena Sering ke Luar Negeri

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 17:14
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (Istimewa)

Ntvnews.id, Lampung - Presiden Prabowo Subianto mengaku heran dengan berbagai kritik yang diarahkan kepadanya terkait intensitas kunjungan kerja ke luar negeri. Menurutnya, siapa pun yang menjabat sebagai presiden tidak akan pernah lepas dari sorotan maupun kritik publik.

Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026.

Presiden menyinggung bahwa kritik terhadap kepala negara kerap muncul dalam berbagai bentuk. Ia mencontohkan situasi yang pernah dialami Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang dinilai sebagian pihak terlalu jarang melakukan kunjungan ke luar negeri. Sementara dirinya justru mendapat kritik karena dianggap terlalu sering melakukan lawatan internasional.

"Jadi, ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang keluar negeri, disalahkan, ya kan ‘Jokowi enggak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri’. Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’," kata Prabowo.

Baca Juga: BBM Naik, Pramono Optimistis Pengguna Transportasi Umum di Jakarta Meningkat

Menurut Presiden, aktivitas diplomasi yang dilakukannya merupakan sesuatu yang wajar mengingat kondisi geopolitik global saat ini penuh dengan ketidakpastian. Situasi internasional yang terus berubah menuntut Indonesia untuk aktif menjalin komunikasi dan hubungan dengan berbagai negara.

"Aneh. Sebenarnya tidak ada masalah begitu, benar enggak? Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa," katanya.

Prabowo menjelaskan bahwa sejak menerima mandat sebagai Presiden Republik Indonesia, dirinya telah menetapkan arah kebijakan luar negeri yang tetap berpegang pada prinsip bebas aktif dan non-blok sebagaimana diwariskan para pendiri bangsa. Menurutnya, Indonesia harus menjalin persahabatan dengan semua negara tanpa terikat pada aliansi militer tertentu.

"Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai presiden, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik non-blok, politik bebas aktif. 1.000 kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Ini adalah garis yang saya tempuh," katanya.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto <b>(Istimewa)</b> Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto (Istimewa)

Presiden menambahkan bahwa pendekatan diplomasi tersebut membuat Indonesia dapat menjalin hubungan baik dengan berbagai negara besar, termasuk Rusia dan Amerika Serikat.

Prabowo mengungkapkan dirinya diterima dengan baik oleh Presiden Rusia Vladimir Putin maupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski demikian, ia menyadari bahwa kebijakannya tetap akan menuai kritik dari berbagai pihak.

"Sekarang saya baik sama Presiden Putin, baik saya. Tapi saya baik juga sama Presiden Trump. Di sini saya disalahkan, di situ saya disalahkan, tetapi enggak ada masalah. Saudara-saudara noise selalu ada, yang penting kita yakin garis kita di mana. Selama saya yakin saya kerja untuk bangsa dan rakyat Indonesia, selamanya saya tidak ragu-ragu," tegasnya.

Prabowo menegaskan bahwa selama kebijakan yang diambil bertujuan untuk kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia, dirinya tidak akan goyah oleh berbagai kritik yang muncul. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga konsistensi arah kebijakan nasional di tengah dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.

x|close