Airlangga: Kenaikan BI Rate Jaga Stabilitas Ekonomi dan Perkuat Kepercayaan Pasar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 09:42
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Aria Ananda) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurut Airlangga, kebijakan tersebut memberikan sinyal kuat kepada pelaku pasar bahwa Indonesia tetap responsif dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi dan keuangan internasional. Ia menyebut respons pasar terhadap keputusan bank sentral tersebut sejauh ini menunjukkan perkembangan yang positif.

“BI Rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Jadi dengan BI-Rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua, rupiah juga sedikit menguat,” kata Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Setelah pengumuman kenaikan suku bunga acuan, nilai tukar rupiah ditutup menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar Amerika Serikat dari posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia juga mencatat penguatan signifikan dengan kenaikan 404,51 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,65 pada penutupan perdagangan Selasa.

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan. Bank sentral menilai pelemahan rupiah telah melampaui proyeksi sehingga diperlukan langkah kebijakan tambahan guna memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.

Baca Juga: IHSG Selasa Menguat ke Level 5.344, Ikuti Sentimen Positif Bursa Global

Menurut Airlangga, para pelaku pasar memandang kebijakan tersebut sebagai bentuk respons cepat pemerintah dan otoritas moneter dalam menghadapi dinamika global yang terus berkembang.

“Market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap mengedepankan upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional karena fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat. Hal tersebut didukung oleh kinerja ekspor yang solid, indikator makroekonomi yang terjaga, serta kepercayaan negara-negara mitra terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro,” tutur dia.

Optimisme terhadap ekonomi nasional juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Kompak Menguat Setelah Rumor Reshuffle Purbaya Mereda

Selain itu, Airlangga mengungkapkan bahwa Singapura memberikan apresiasi terhadap sejumlah kebijakan ekonomi Indonesia yang dinilai berorientasi pada kepentingan nasional. Salah satu kebijakan yang mendapat perhatian adalah penerapan sistem ekspor satu pintu yang dinilai mampu meningkatkan efektivitas dan daya saing perdagangan nasional.

“Singapura mengatakan fundamental Indonesia kuat. Singapura juga mengapresiasi kebijakan yang diambil oleh Indonesia terutama untuk kepentingan nasional, termasuk dengan ekspor satu pintu, mereka mendorong untuk implementasi dari kebijakan tersebut,” ungkap dia.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ketahanan rantai pasok global akibat konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Airlangga menilai Indonesia memiliki posisi yang cukup strategis, khususnya di sektor pupuk. Saat ini Indonesia masih mampu mengekspor sekitar 1,5 juta ton urea ke berbagai negara di kawasan.

“Indonesia adalah salah satu pabrik pupuk terbesar di ASEAN,” ucapnya.

Pemerintah berharap kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang tepat dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan di tengah tantangan global yang masih berlangsung.

(Sumber: Antara)

x|close