DEN Dukung Kenaikan BI-Rate ke 5,50 Persen, Nilai Efektif Redam Tekanan Rupiah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 05:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran di Istana Merdeka Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran di Istana Merdeka (Setpres)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan dukungannya terhadap keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah yang tepat untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Kan bagus, ngerem anu (pelemahan rupiah),” kata Luhut saat tiba di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026 malam.

Meski nilai tukar rupiah menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal, Luhut menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Namun demikian, pemerintah tetap perlu mencermati sejumlah perkembangan global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.

“Ekonomi kita, fundamental masih oke, tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih perang apa, perang Hormuz ini masih berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Luhut, konflik geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan Selat Hormuz, dapat memberikan dampak terhadap pasar keuangan global serta memicu tekanan pada mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Rupiah Babak Belur, Naikkan Suku Bunga Saja Dinilai Tak Cukup

Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen sebagai bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi.

Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya risiko global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya volatilitas pasar keuangan internasional, arus keluar modal asing dari pasar domestik, serta meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.

Bank sentral menilai kebijakan suku bunga yang lebih tinggi diperlukan untuk menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor. Selain itu, langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat nilai tukar rupiah dan mempertahankan kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung, pemerintah bersama otoritas moneter terus menekankan pentingnya sinergi kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi, mendorong investasi, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

x|close