Idul Adha di Gaza Berubah Jadi Duka, Warga Tak Lagi Mampu Berkurban

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mei 2026, 15:10
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad Warga Palestina mengunjungi sebuah pasar menjelang Hari Raya Idul Adha di Kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 15 Juni 2024. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad (Antara)

Ntvnews.id, Gaza - Bagi warga Palestina di Jalur Gaza, perayaan Idul Adha yang biasanya identik dengan kebahagiaan dan kebersamaan keluarga kini berubah menjadi simbol kesedihan akibat dampak perang yang berkepanjangan.

Ahmed Nashwan, warga Gaza, mengatakan untuk tahun ketiga berturut-turut dirinya tidak lagi dapat menjalankan tradisi keluarga memilih hewan kurban bersama saudara dan anak-anaknya menjelang Idul Adha.

"Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami," kata Nashwan kepada Xinhua.

"Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin."

Idul Adha yang berlangsung selama empat hari dan dimulai pekan ini merupakan salah satu hari raya besar umat Islam yang identik dengan penyembelihan hewan kurban bagi mereka yang mampu. Namun, kondisi di Gaza membuat tradisi tersebut semakin sulit dijalankan.

"Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan," kata Nashwan.

"karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari."

Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel tercapai pada Oktober 2025, pembatasan ketat yang masih diberlakukan Israel menyebabkan arus barang, termasuk hewan ternak, sangat terbatas masuk ke Gaza.

Direktur Kamar Dagang Gaza, Maher al-Tabbaa, mengatakan harga hewan kurban melonjak drastis sejak perang berlangsung. Jika sebelum perang seekor hewan kurban dijual sekitar 500 dolar AS, kini harganya mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS, jauh di luar kemampuan sebagian besar warga.

Warga Gaza lainnya, Mohammed al-Hissi, mengaku keluarganya kini tidak lagi dapat merasakan suasana Idul Adha seperti sebelumnya akibat kondisi ekonomi dan kemanusiaan yang memburuk.

"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya.

"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza," jelasnya.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Kementan Jaga Pasokan Bawang Merah Nasional

"Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka."

Di Gaza selatan, Mohammed Shallah mengenang tradisi berkurban bersama ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis. Kini, ia mengaku tidak lagi mampu melanjutkan tradisi tersebut.

"Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban," kata Shallah (22) kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dia tidak lagi mampu melanjutkan tradisi yang dulunya selalu diamalkan ayahnya.

"Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal," katanya.

"Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali." ujarnya.

Pedagang ternak Salah Afana mengatakan harga hewan kurban meningkat berkali-kali lipat akibat perang, sementara permintaan warga justru anjlok karena kemiskinan yang meluas.

"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.

Juru bicara Kementerian Pertanian Gaza, Raafat Asaliya, menyebut sebelum perang Gaza biasanya mengimpor puluhan ribu sapi dan domba menjelang Idul Adha. Namun sejak perang dan penutupan perlintasan terjadi, impor hewan ternak berhenti total.

Baca Juga: Pemprov DKI Pantau Harga Pangan Jelang Idul Adha

"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa banyak peternakan dan gudang pakan hancur akibat perang.

Maher al-Tabbaa menambahkan kerusakan wilayah peternakan di Gaza timur turut memperparah kelangkaan hewan kurban di wilayah tersebut.

"Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut," ujarnya. "Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza."

(Sumber: Antara)

x|close