AS Serang Lokasi Rudal dan Kapal Iran di Tengah Rencana Kesepakatan Gencatan Senjata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mei 2026, 08:52
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di wilayah Iran selatan. Serangan tersebut disebut menyasar lokasi peluncuran rudal hingga kapal Iran yang diduga tengah memasang ranjau, di saat kedua negara justru dikabarkan sedang membahas perpanjangan gencatan senjata.

Berdasarkan laporan sejumlah media internasional pada Selasa (26/5/2026), pasukan AS melakukan operasi militer di beberapa titik strategis di Iran bagian selatan. Washington mengklaim langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap personel militernya di kawasan.

"Pasukan AS melakukan tindakan membela diri hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," kata Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat militer AS, seperti yang dilaporkan oleh Fox News.

Menurut Hawkins, sasaran operasi meliputi titik-titik peluncuran rudal milik Iran serta kapal-kapal yang disebut berupaya memasang ranjau di perairan strategis. Ia menegaskan bahwa militer AS tetap menjalankan langkah pertahanan sembari menahan eskalasi selama masa gencatan senjata berlangsung.

"Targetnya termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal Iran yang mencoba memasang ranjau. Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," kata Hawkins, menurut laporan tersebut.

Di sisi lain, suara ledakan dilaporkan terdengar di kawasan pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan. Media semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan kondisi di wilayah tersebut telah berada dalam kendali otoritas setempat.

Serangan Terjadi di Tengah Wacana Kesepakatan Baru

Baca Juga: AHY Tegaskan Pembangunan SDM Fondasi Utama Kemajuan Bangsa

Aksi militer AS ini terjadi ketika Washington dan Teheran sebelumnya disebut tengah mendekati kesepakatan baru terkait perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak dunia.

Sejumlah laporan media menyebut rancangan kesepakatan itu berpotensi memberi ruang bagi Iran untuk kembali menjual minyak secara lebih leluasa, sekaligus membuka peluang negosiasi lebih lanjut terkait program nuklir Teheran. Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari kedua negara mengenai finalisasi dokumen tersebut.

Sumber pejabat AS yang mengetahui isi draf kesepakatan menyebut proses negosiasi masih berlangsung dan belum sepenuhnya rampung. Bahkan, kesepakatan disebut masih berisiko batal sebelum resmi diteken.

Laporan media AS juga mengungkap bahwa persetujuan akhir masih menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Proses tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa hari ke depan.

Jika tercapai, kesepakatan itu disebut akan memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari sekaligus membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup Iran selama konflik berlangsung sejak akhir Februari.

Dalam rancangan nota kesepahaman, Iran dikabarkan akan membersihkan ranjau di Selat Hormuz serta mengizinkan kapal melintas tanpa pungutan tambahan. Sebagai gantinya, AS disebut akan melonggarkan sejumlah pembatasan ekonomi, termasuk membuka akses terbatas bagi Iran untuk kembali mengekspor minyak selama periode gencatan senjata.

Rancangan itu juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, termasuk membuka negosiasi soal penghentian pengayaan uranium dan pengelolaan stok uranium berkadar tinggi.

Sementara itu, keberadaan pasukan AS di kawasan disebut tetap dipertahankan selama masa perpanjangan gencatan senjata dan baru akan dievaluasi apabila kesepakatan final benar-benar tercapai.

Kesepakatan tersebut juga dikaitkan dengan upaya meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon. Dalam skema yang dibahas, Israel tetap disebut memiliki ruang untuk bertindak apabila Hizbullah kembali meningkatkan aktivitas militer.

Sejumlah negara Arab dan Muslim, termasuk Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, hingga Uni Emirat Arab, dilaporkan mendukung jalur diplomasi tersebut.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pemerintah Iran maupun otoritas AS terkait dampak serangan terbaru tersebut terhadap peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata.

x|close