Aktivis Global Sumud Flotilla Mengaku Disiksa Selama Ditahan Israel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Mei 2026, 12:16
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Massa dari Solidaritas Seni Untuk Palestina mengikuti aksi solidaritas bagi WNI dan Jurnalis yang diculik Israel di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5/2026). Dalam aksi tersebut, massa dari Solidaritas Seni untuk Palestina meminta agar pemerintah dapat membebaskan warga negara Indonesia dan jurnalis yang diculik Israel saat menjalankan misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza di perairan Cyprus pada 18 Mei 2026. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr. Massa dari Solidaritas Seni Untuk Palestina mengikuti aksi solidaritas bagi WNI dan Jurnalis yang diculik Israel di Jalan Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, Selasa (19/5/2026). Dalam aksi tersebut, massa dari Solidaritas Seni untuk Palestina meminta agar pemerintah dapat membebaskan warga negara Indonesia dan jurnalis yang diculik Israel saat menjalankan misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza di perairan Cyprus pada 18 Mei 2026. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr. (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Kelompok hak asasi manusia Israel, Adalah, mengungkap dugaan tindakan kekerasan yang dialami para aktivis Global Sumud Flotilla saat ditahan otoritas Israel setelah misi kemanusiaan menuju Gaza dicegat di perairan internasional.

Dalam pernyataan pada Rabu 20 Mei 2026, Adalah menyebut sejumlah aktivis mengalami kekerasan fisik maupun tekanan psikologis selama berada dalam tahanan.

Sedikitnya tiga orang dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit akibat luka serius, sementara beberapa lainnya diduga mengalami patah tulang rusuk hingga gangguan pernapasan.

Baca Juga: Israel Tahan 430 Aktivis Global Sumud Flotilla, Dibawa ke Pelabuhan Ashdod

Adalah menjelaskan tim hukumnya telah menghimpun berbagai kesaksian serupa mengenai penggunaan sengatan listrik berulang terhadap para tahanan.

Selain itu, para aktivis disebut dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan dan merendahkan saat dipindahkan menuju Pelabuhan Ashdod.

“Kelompok itu juga mendokumentasikan laporan bahwa para tahanan dipaksa berada dalam posisi yang menyakitkan dan menghinakan selama pemindahan mereka ke Pelabuhan Ashdod, termasuk berjalan sambil membungkuk penuh ke depan dan berlutut dalam waktu lama.”

Tak hanya itu, menurut Adalah, aparat Israel juga diduga melepas jilbab sejumlah aktivis perempuan secara paksa selama proses penahanan berlangsung.

Para aktivis diperkirakan akan menjalani pemeriksaan di hadapan pengadilan atau otoritas terkait pada Kamis untuk menentukan status penahanan mereka sebelum proses deportasi dilakukan.

Sebelumnya, Adalah juga menuding otoritas Israel menjalankan praktik yang mengarah pada penyiksaan dan penghinaan terhadap para tahanan.

Tuduhan tersebut muncul setelah beredarnya video dari Otoritas Keamanan Nasional Israel yang memperlihatkan sejumlah aktivis berlutut dengan tangan diborgol di belakang sambil lagu kebangsaan Israel diputar.

“Informasi mengenai lokasi, status hukum, dan kondisi para tahanan juga ‘sangat dibatasi,’ menurut Adalah.”

Global Sumud Flotilla diketahui berangkat dari Distrik Marmaris, Turki, sebagai bagian dari upaya menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.

Baca Juga: Penampakan Aktivis Global Sumud Flotilla yang Dipaksa Sujud dan Dihinakan Menteri Israel

Sebelumnya, pada akhir April lalu, armada serupa juga sempat mendapat serangan di dekat Pulau Kreta, Yunani, saat membawa ratusan peserta dari puluhan negara.

Blokade yang diberlakukan Israel terhadap Gaza selama bertahun-tahun disebut membuat jutaan warga berada dalam kondisi krisis kemanusiaan.

Sejak konflik besar pecah pada Oktober 2023, wilayah tersebut mengalami kerusakan besar dengan korban jiwa dan luka yang terus bertambah.

(Sumber: Antara)

x|close