Menkes Ungkap 907 Ribu Kasus Hipertensi dan Diabetes dari CKG Mulai Diobati

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Okt 2026, 19:17
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa dari total 8,3 juta kasus diabetes dan hipertensi yang berhasil terdeteksi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), sebanyak 907 ribu penderita kini telah mulai mendapatkan penanganan medis berupa pengobatan rutin.

Budi menyampaikan hal tersebut di Jakarta pada Kamis, 22 Oktober 2026, seraya menjelaskan bahwa pelaksanaan program CKG pada tahun 2026 ini mulai memperluas fokus cakupannya hingga pada tahap tata laksana pengobatan. Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 lalu, dari total 73 juta orang yang menjalani skrining kesehatan, sebanyak 7 juta di antaranya terdeteksi mengalami hipertensi.

“Hipertensi ini kemudian dikasih obat yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755 ribu, masih kecil. Itu yang tadinya targetnya kita 80 persen, jadi harusnya 80 persen dari yang 7 juta itu diobati. Jadi harusnya angkanya itu 5,6 juta, sekarang kita baru 755 ribu. Itu PR-nya kita,” ujar Budi.

Ia merinci bahwa cakupan pengobatan tersebut saat ini baru merepresentasikan sekitar 11 persen dari keseluruhan jumlah penderita hipertensi yang terdeteksi. Ke depan, Kementerian Kesehatan menargetkan agar 80 persen dari pasien yang menerima pengobatan rutin tersebut dapat kembali pulih dan sehat.
 

“Itu sekarang datanya kita belum ada, kita lagi tarik. Tapi memang secara bertahap kalau tahun lalu kita fokus ke skriningnya, tahun ini kita skrining dan tata laksananya, dikasih obatnya, nah kalau bisa di akhir tahun ini sampai tahun depan kita sudah benar-benar bisa mengukur, dia sehat kembali apa enggak,” ungkapnya.

Berdasarkan data terbaru, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sendiri telah berhasil menjangkau sebanyak 109 juta orang dari total target 130 juta peserta pada tahun 2026, dengan jumlah pendaftar yang telah mencapai 116 juta orang.

“Nah, kesehatan gratis ini penting kenapa? Karena target RPJMN Kementerian Kesehatan adalah menaikkan rata-rata usia hidup dari 72 ke 76,” kata Budi.

Fokus utama pemeriksaan kesehatan ini disasarkan pada empat indikator utama, yakni tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, serta obesitas. Keempat faktor tersebut dipilih karena memiliki korelasi erat dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular dan stroke yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kematian di masyarakat.

“Karena kalau kita bisa mengendalikan keempat faktor risiko tadi, terbukti secara riset bisa menurunkan kematian yang tinggi. Terutama kematian di bidang cardiovascular disease. CVD itu cardiovascular disease. Kematiannya disebabkan karena masalah pembuluh darah dan jantung. Ini contohnya di Korea. Jadi Korea bisa mencapai triple 80 misalnya,” jelasnya.
 

Konsep triple 80 yang dimaksud mencakup tiga target utama, yakni 80 persen penduduk menjalani skrining, 80 persen dari warga yang terdeteksi sakit mendapatkan pengobatan, serta 80 persen dari mereka yang diobati berhasil pulih menjadi sehat.

Sementara itu, berdasarkan hasil akumulasi data pelaksanaan CKG, ditemukan sejumlah masalah kesehatan yang mendominasi dan menjadi perhatian serius pemerintah, meliputi kasus karies gigi sebanyak 32,5 persen, dislipidemia sebesar 72,7 persen, obesitas 18,2 persen, prehipertensi 9,9 persen, hipertensi 9,7 persen, prediabetes 4,5 persen, serta diabetes sebesar 2,2 persen.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close