Ntvnews.id, Jakarta - Upaya menjaga keberlangsungan seni tari tradisional Jawa kembali dilakukan Purwakanthi melalui pementasan bertajuk Prasādha Hambeksa Abhirāma. Pertunjukan tersebut berlangsung di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu, 4 Oktober 2026.
Pementasan itu menghadirkan tujuh karya tari Jawa klasik yang dibawakan oleh puluhan penari Purwakanthi. Ketujuh tarian tersebut terdiri atas Srimpi Ludira Madu, Gambyong Retna Kusuma, Golek Manis, Gambyong Mudhatama, Retna Pamudya, Adaninggar Kelaswara, dan Bedhaya Sukoharjo.
Pembina Purwakanthi, Dani Sarwono, mengatakan seni tari Jawa klasik tidak hanya menawarkan keindahan gerakan. Menurut dia, terdapat nilai kehalusan, ketenangan, kedisiplinan, kesabaran, serta penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Gerakan tari yang lembut, alunan gamelan yang harmonis, serta penggunaan busana khas menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang perlu terus dijaga.
“Melalui pertunjukan pada hari ini, kita tidak hanya menikmati keindahan sebuah tarian, tetapi juga diajak untuk mengenal dan menghargai warisan budaya bangsa,” ujar Dani dalam keterangannya, Senin, 5 Oktober 2026.
Seluruh penampilan dalam pementasan tersebut merupakan hasil bimbingan Agus Sukardi selaku Pelatih Tari di Purwakanthi.
Sementara itu, Founder Purwakanthi Yoesi Ariyani menjelaskan bahwa Prasādha Hambeksa Abhirāma dipilih sebagai tema pementasan berdasarkan gagasan para anggota Purwakanthi.
Lestarikan Tari Tradisi, Purwakanthi Pentaskan 7 Tari Jawa Klasik (Istimewa)
“Tema ini lahir dari buah gagasan terbaik dari anggota Purwakanthi. Prasādha berarti anugerah atau kemuliaan. Hambeksa berarti menari. Abhirāma berarti indah, memesona, dan menenteramkan hati,” urainya.
Yoesi menuturkan, tema tersebut menggambarkan persembahan keindahan yang diwujudkan melalui seni tari. Pementasan juga menjadi ruang untuk merayakan budaya, kebersamaan, sekaligus semangat mempertahankan keberadaan tari tradisi.
“Sebuah perayaan atas keindahan budaya, kebersamaan, dan semangat melestarikan tari tradisi, serta menjadi semangat untuk menghadirkan sebuah pertunjukan yang indah, berkesan, dan mengangkat keluhuran budaya Jawa,” tambahnya.
Usai seluruh rangkaian pementasan selesai, tiga pengulas yang merupakan pakar tari Jawa dari Solo memberikan penilaian terhadap penampilan para penari. Ketiganya merupakan akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Salah satu pengulas, Darmasti, menyoroti pentingnya postur tubuh selain penampilan penari. Sementara itu, Wasi Bantolo mengaku terkesan dengan pementasan yang digelar di Jakarta. Ia menilai pertunjukan tersebut memberikan warna tersendiri dan mengingatkan para penari agar menikmati setiap gerakan ketika menari.
Pengulas lainnya, Daryono, menekankan pentingnya adeg-adeg atau posisi kaki yang kuat dalam tari Jawa. Ia juga menjelaskan filosofi Mucang Kanginan, yakni gerakan tari yang menggambarkan ayunan pohon ketika terkena angin.
“Menurut Mangkunegoro VII, menari itu seperti duduk di kursi yang keras. Artinya badan berdiri dengan Posisi tubuh yang sangat tegak, kokoh, dan bertumpu rendah (mendak),” paparnya.
Sebelum pementasan, Purwakanthi juga menggelar Workshop Gerak Tari Putri Gaya Surakarta. Kegiatan tersebut menghadirkan tiga seniman tari sekaligus pengajar dari ISI Surakarta, yakni Darmasti, Sri Setyasih, dan Hartanto.
Dalam workshop tersebut, ketiganya memperagakan sejumlah gerakan dasar Rantaya Putri. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai rangkaian pola gerak yang dikenal sebagai Sekaran Ronce.
Salah satu rangkaian yang diperkenalkan adalah Laras Sawit yang umumnya digunakan sebagai pembuka sebuah tarian. Rangkaian tersebut dimulai dari sembahan, jengkeng, kemudian nikelwarti, sebelum penari berdiri.
Lestarikan Tari Tradisi, Purwakanthi Pentaskan 7 Tari Jawa Klasik (Istimewa)
Darmasti menjelaskan bahwa Rantaya Putri memiliki posisi penting sebagai dasar dalam berbagai karya tari. Ia kemudian membandingkannya dengan perjalanan manusia sejak lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta.
“Dari duduk, jengkeng, hingga berdiri, Filosofinya, sama seperti anak bayi dari baru lahir sampai merangkak sedikit sedikit sampai bisa berdiri. Sirkulasinya manusia itu kan dari lahir, sampai kembali lagi (pada Sang Pencipta),” terangnya.
Menurut Darmasti, kemampuan seorang penari tidak hanya ditentukan oleh hafalan gerakan, tetapi juga proses latihan dan pemahaman terhadap cerita di balik sebuah tarian.
“Menari yang baik itu dengan hitungan atau tidak dengan hitungan, sudah mengalir, menjiwai secara otomatis. Kita nari itu gerak, harus mengetahui cerita di balik tarian, harus latihan,” pesannya.
Ia menilai pengalaman latihan yang panjang akan menghasilkan kualitas yang berbeda. Proses tersebut juga diperlukan agar karakter yang dibawakan penari dapat terlihat secara utuh.
“Yang sudah lima tahun itu beda hasilnya. Untuk anak-anak sekarang, tidak seperti pisang yang dikarbit langsung mateng. Sehingga tidak bisa dilihat, karakternya tidak muncul,” sambungnya.
Darmasti kemudian memberikan contoh karakter Srikandi dalam tari. Menurutnya, tokoh tersebut memiliki karakter gerakan yang lincah dan segar serta cara berbicara yang tegas.
“Misalkan saya merasa tidak bisa seperti Srikandi itu, ya harus bisa. Juga misalnya ketika saya harus menjadi Sinta, saya harus menurunkan semua ego saya. Harus bisa menjadi orang lain,” pungkasnya.
Darmasti juga mengajak generasi muda untuk lebih mengenal dan mendekatkan diri dengan budaya tari Jawa. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan lebih sering menyaksikan pertunjukan serta ikut terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan seni tari.
Lestarikan Tari Tradisi, Purwakanthi Pentaskan 7 Tari Jawa Klasik (Istimewa)