Ntvnews.id, Jakarta - Demian Aditya lewat DMS+ mulai menyiapkan langkah besar untuk memperluas ekosistem konten horor mereka. Salah satu rencana yang mencuri perhatian adalah pengembangan film horor dalam format vertikal.
CEO DMS+ Demian Aditya ingin memperluas jangkauan kontennya. Platform tersebut tidak hanya akan menjadi rumah bagi konten dengan satu identitas, tetapi diarahkan menjadi Horrortainment yang membuka peluang bagi lebih banyak kreator horor Indonesia.
Perubahan tersebut juga akan dibarengi dengan pengembangan Vertical Movie. Format ini menghadirkan drama horor dengan tampilan vertikal yang dirancang untuk perangkat mobile dan distribusi melalui platform seperti TikTok, Reels, serta Shorts.
Langkah tersebut membuka peluang baru bagi DMS+ untuk menjangkau penonton yang terbiasa menikmati cerita melalui layar ponsel. Film horor vertikal juga dinilai dapat menjadi salah satu bentuk inovasi dalam penyajian cerita di tengah perubahan kebiasaan konsumsi konten digital.
DMS+ Paparkan Roadmap Scale-Up 2027 “Wider, Higher, Bigger”, Perkuat Kolaborasi dengan Sinemaku Pictures dan Motorola Indonesia di Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 (DMS)
Demian Aditya bersama Sara Wijayanto turut menjadi bagian dari ekosistem DMS+ yang selama ini dikenal dekat dengan genre horor. Pengembangan format vertikal menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk membawa konten horor ke bentuk yang lebih relevan dengan perilaku penonton saat ini.
Selain memperlebar jangkauan, DMS+ juga menyiapkan peningkatan kapasitas produksi. COO DMS+ Syahrizal memaparkan rencana pengembangan Creator Room, sebuah ruang kolaborasi yang memungkinkan kreator horor menghasilkan konten secara mandiri di dalam platform.
DMS+ juga menargetkan produksi 1.000 judul konten vertikal berbasis kecerdasan buatan atau AI. Materi tersebut akan mengangkat berbagai entitas yang sudah tersedia melalui Sosokpedia dan aplikasi DMS+.
“Wider, Higher, Bigger adalah arah kami membawa DMS+ melangkah ke 2027 memperluas jangkauan dengan mengubah DMS+ menjadi Horrortainment dan mendorong format Vertical Movie, menaikkan kapasitas produk lewat Creator Room dan My Movie, serta memperkuat fondasi bisnis lewat IP Management," kata Demian.
Tidak berhenti pada genre horor, DMS+ juga mengembangkan My Movie sebagai agregator film dan series vertikal lintas genre. Pengembangan ini menunjukkan ambisi DMS+ untuk membangun ekosistem konten yang lebih luas melalui berbagai format.
Dari sisi bisnis, DMS+ menyiapkan sistem IP Management untuk mengelola hak cipta dan aset kreatif secara profesional. Sistem tersebut diharapkan membuat berbagai kekayaan intelektual dalam ekosistem platform dapat dikembangkan, dilisensikan, dan dimonetisasi secara berkelanjutan.
DMS+ Paparkan Roadmap Scale-Up 2027 “Wider, Higher, Bigger”, Perkuat Kolaborasi dengan Sinemaku Pictures dan Motorola Indonesia di Ruang Tamu DMS+ Vol. 2 (DOK DMS)
DMS+ juga memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis di bidang teknologi dan industri film. Salah satu kolaborasi yang diperkenalkan dalam acara tersebut adalah kerja sama dengan Sinemaku Pictures dan Motorola Indonesia.
Dalam kolaborasi bersama Sinemaku Pictures, DMS+ terlibat dalam produksi film layar lebar Memburu Pemangsa. Umay Shahab selaku Creative Director Sinemaku Pictures turut membagikan cerita mengenai proses kolaborasi tersebut, sementara Demian Aditya bertindak sebagai Executive Producer.
Demian menegaskan bahwa seluruh rencana pengembangan DMS+ membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Dia berharap strategi yang disiapkan dapat membawa platform tersebut berkembang lebih luas sekaligus membuka ruang baru bagi para kreator.
Baca Juga: Deretan Artis Indonesia yang Berhasil Menembus Hollywood, Ada Agnez Mo hingga Iko Uwais
Demian Aditya (DOK DMS)