Ntvnews.id, Jakarta -Pemberian ASI dalam jangka waktu lebih lama berkaitan dengan penurunan tingkat gejala ADHD pada anak, menurut studi terbaru dari Universitas Bergen, Norwegia.
Berdasarkan laporan Scitechdaily yang diunggah Senin, 31 Agustus 2026, riset yang melibatkan 37.600 keluarga dalam Norwegian Mother, Father and Child Cohort Study (MoBa) ini menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif hingga usia enam bulan berkorelasi dengan lebih rendahnya gejala ADHD pada anak saat menginjak usia tiga, lima, dan delapan tahun. Korelasi paling kuat ditemukan pada rentang usia tiga dan lima tahun.
Studi ini dilandasi oleh fakta bahwa ASI kaya akan asam lemak rantai panjang, asam amino, antibodi, bakteri menguntungkan, serta beragam nutrisi penting yang menunjang tumbuh kembang otak dan sistem imun anak.
Pada kurun waktu enam bulan usai melahirkan, para ibu diminta mencatat durasi pemberian ASI eksklusif, ASI parsial, serta waktu pengenalan makanan pendamping ASI (MPASI). Data tersebut kemudian diolah oleh tim peneliti untuk mengestimasi durasi ASI eksklusif pada tiap anak.
Wamen Isyana: Cegah Stunting melalui pemberian MBG kepada Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita (Istimewa) “Kami menemukan bahwa semakin lama seorang anak disusui secara eksklusif (hingga enam bulan), semakin rendah tingkat gejala ADHD pada usia tiga, lima, dan delapan tahun,” kata Berit Skretting Solberg, psikiater dan peneliti di Departemen Biomedis Universitas Bergen sekaligus konsultan senior di Betanien Hospital.
Hasil riset turut menunjukkan bahwa pemberian ASI dalam bentuk apa pun tetap berkaitan dengan rendahnya tingkat gejala ADHD. Efek perlindungan ini terpantau makin tinggi seiring dengan bertambahnya durasi dan intensitas menyusui, di mana tingkat efektivitas tertinggi ditemui pada pemberian ASI eksklusif selama enam bulan penuh.
Kendati demikian, temuan ini tidak serta-merta mengindikasikan hubungan sebab-akibat langsung antara menyusui dan penurunan risiko ADHD. Faktor genetik memegang peranan besar dalam ADHD. Ibu yang memiliki gejala ADHD cenderung mengalami kesulitan atau lebih jarang menyusui, sekaligus memiliki potensi lebih tinggi menurunkan gejala serupa pada anaknya. Di sisi lain, bayi yang membawa ciri awal ADHD kerap mengalami kesulitan saat disusui.
“Hal ini mungkin sebagian menjelaskan hubungan antara rendahnya angka pemberian ASI dan meningkatnya gejala ADHD pada anak-anak,” kata Solberg.
Untuk mengeliminasi variabel pengganggu, peneliti menyelaraskan analisis dengan mempertimbangkan faktor sosiodemografis serta kerentanan genetik terhadap ADHD. Peneliti juga membandingkan saudara kandung dari satu keluarga yang memperoleh pola pemberian ASI berbeda.
Cara menyusui dengan aman dan nyaman (pexels.com ) “Bahkan setelah penyesuaian ini, tetap terdapat efek perlindungan yang jelas namun moderat dari durasi pemberian ASI eksklusif terhadap gejala ADHD di kemudian hari,” jelas Solberg.
Solberg menegaskan bahwa penelitian observasional ini masih memerlukan riset lanjutan untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara definitif. Selain itu, partisipan dalam studi MoBa mayoritas memiliki latar belakang tingkat pendidikan yang lebih tinggi serta tingkat keberhasilan menyusui yang lebih panjang dibandingkan rata-rata populasi Norwegia, sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke populasi yang lebih luas.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi menyusui langsung. (Antara)