A24 Gandeng Google DeepMind, Siapkan Masa Depan Perfilman Berbasis AI

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Jun 2026, 22:45
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Logo Google yang terpasang di Silicon Valley, San Francisco, Amerika Serikat. Ilustrasi - Logo Google yang terpasang di Silicon Valley, San Francisco, Amerika Serikat.

Ntvnews.id, Jakarta - Studio film independen A24 menjalin kerja sama strategis dengan Google dalam bidang riset kecerdasan buatan (AI). Melalui kemitraan tersebut, A24 akan berkolaborasi dengan DeepMind, unit AI milik Google, untuk mengembangkan teknologi baru yang dapat dimanfaatkan para pembuat film dalam proses kreatif mereka.

Menurut laporan Variety pada Senin (22/6) waktu Amerika Serikat, Google menggelontorkan investasi sekitar 75 juta dolar AS sebagai bagian dari kemitraan tersebut. Nilai investasi itu disebut sejalan dengan pendanaan yang sebelumnya diberikan Thrive Capital dalam putaran pendanaan terakhir A24, sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal.

Lewat kerja sama ini, A24 akan memperoleh akses terhadap infrastruktur dan hasil riset yang dimiliki DeepMind. Di sisi lain, para peneliti DeepMind akan bekerja bersama tim studio untuk menciptakan berbagai alur kerja baru yang memanfaatkan teknologi AI.

Meski demikian, kesepakatan tersebut tidak memberikan akses kepada Google terhadap perpustakaan konten maupun data yang dimiliki A24.

Baca Juga: Danantara Tanggapi Kabar Investasi ke Studio A24 dari AS

Scott Belsky, mitra A24 yang memimpin divisi teknologi studio, A24 Labs, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan Google memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan sejumlah kerja sama AI yang pernah dilakukan perusahaan hiburan lainnya.

Variety mencontohkan beberapa kemitraan yang pernah terjadi di industri hiburan. Salah satunya adalah kerja sama singkat Disney dengan OpenAI yang melibatkan lisensi sejumlah karakter, di tengah langkah Disney menggugat perusahaan AI seperti MiniMax dan Midjourney terkait dugaan pelanggaran hak cipta.

Contoh lainnya adalah Lionsgate yang memperluas kolaborasinya dengan Runway AI untuk mengembangkan kekayaan intelektual baru sekaligus memproduksi tayangan berbasis AI yang berasal dari waralaba yang telah ada.

Selain itu, Netflix juga diketahui mengakuisisi perusahaan rintisan AI milik Ben Affleck, InterPositive, pada awal tahun ini. Akuisisi tersebut bertujuan menghadirkan berbagai alat yang dapat membantu dan menyederhanakan proses produksi film.

Mengenai arah pengembangan AI yang ditempuh A24, Scott menegaskan, “Kami pikir ada penggunaan yang lebih baik yang mempertahankan kendali kreatif dan mendukung pengambilan risiko,” kata Scott kepada Journal.

Ia menilai teknologi yang sedang dikembangkan tidak akan menyerupai model AI generatif berbasis perintah yang selama ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja kreatif.

Pandangan serupa disampaikan Vice President of Product DeepMind, Eli Collins. Ia mengajak masyarakat untuk lebih percaya bahwa inovasi terbesar akan lahir ketika teknologi berada di tangan para ahli terbaik di bidangnya.

Baca Juga: Hak Cipta Berita dan Artificial Intelligence: Tantangan Baru di Era Digital

Selama ini, A24 dikenal sebagai salah satu studio yang banyak melahirkan dan mendukung sineas baru. Sejumlah film produksinya seperti "Lady Bird", "Moonlight", "Everything Everywhere All at Once", "Marty Supreme", hingga film terbaru "Backrooms" berhasil meraih perhatian besar baik secara kritik maupun komersial.

Kesuksesan tersebut didukung oleh keberanian studio dalam mempercayai para pembuat film yang mereka rekrut, serta basis penggemar yang kuat dan didominasi kalangan muda.

Variety juga mencatat bahwa sekitar 85 persen penonton film "Backrooms" pada akhir pekan pembukaannya berusia di bawah 35 tahun. Data tersebut berdasarkan riset yang dilakukan PostTrak.

Kerja sama A24 dan Google diumumkan di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap perkembangan AI. Sebuah studi dari Pew Research yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa sekitar separuh orang dewasa berusia di bawah 30 tahun meyakini teknologi AI berpotensi memberikan dampak negatif bagi masyarakat.

(Sumber: Antara)

x|close